Demi menyelematkan adiknya yang hilang, Mako, Takeru memutuskan meninggalkan hutan. Ia tidak pernah tahu apa yang akan menjemputnya. Manusia-manusia jahat, dan makhluk buas yang telah merebut Mako.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Takeru masih melihat ke arah langit. Dibandingkan ular, burung besar itu benar-benar menakutkan. Membayangkan manusia itu dicengkeram cakar tajam sang burung, tak urung membuat Takeru merasa jeri. Tangannya gemetar.
Takeru berjalan pelan-pelan di antara rimbun pepohonan. Belum pernah ia merasa setakut ini. Dan dugaannya benar. Tidak lama kemudian, langit menjadi gelap. Burung itu kembali!
Takeru meringkuk di bawah pohon berdaun lebat. Langit gelap, lalu terang kembali, lalu gelap lagi. Burung itu masih terbang di atas hutan. Mencari mangsa. Takeru diam menahan napas. Berharap burung itu segera terbang jauh.
Tapi kali ini Takeru keliru. Ia menoleh ke belakang. Burung itu telah menginjakkan kakinya ke tanah. Melihat ke arah Takeru.
Takeru menyaksikan mata makhluk buas itu. Berkilat-kilat penuh nafsu membunuh. Sayapnya begitu besar, seperti atap rumah, penuh bulu berwarna merah. Paruh burung itu berwarna seperti buah labu, penuh dengan gigi-gigi yang panjang dan runcing.
Burung itu menyadari keberadaan Takeru. Dan dengan gerakan cepat ia melompat menyerang Takeru.
"Keek!!!!"
Takeru berlari secepat yang ia bisa. Burung itu segera mengejarnya. Takeru terus berpacu menyelamatkan diri. Aku tidak boleh mati!! Aku masih belum menemukan Mako!!
Burung itu terus memburu Takeru. Dan Takeru terus berlari. Menabrak semak belukar dan semua yang menghalangi jalannya. Langit menjadi gelap. Takeru sadar burung itu kembali terbang, siap menukik menyambar dirinya.
Dengan cepat Takeru berbelok, merubah arah berlari. Langit masih gelap. Burung itu masih di sana, terbang di atas kepala Takeru. Tiba-tiba Takeru merasakan bahaya mendekat. Takeru menoleh, burung itu menukik, siap mencengkeram dirinya.
Takeru melompat. Serangan burung itu melesat.
Takeru tidak mengambil tempo. Ia terjungkal sesaat, lalu segera diambilnya ancang-ancang, lalu kembali berlari. Takeru berlari di antara pepohonan besar, dan ia merasakan tanah mulai melandai, lalu menurun. Mendadak Takeru hilang keseimbangan
Takeru merasa tubuhnya terlempar ke depan, dia jatuh terguling-guling. Takeru mencoba mengendalikan diri, ia berlari lagi. Dan di depannya, batu-batu besar nampak. Langit masih gelap, dan Takeru mulai kehabisan stamina.
Bebatuan itu adalah harapannya. Takeru segera berlari, langsung menyelinap di antara batu-batu besar itu. Dan tidak jauh di depan, ada semacam gua kecil yang tersembunyi. Sangat cocok sebagai tempat perlindungan.
Burung itu kembali menukik, sepersekian detik Takeru mampu menghindar. Lolos dari serangan. Sangat dekat. Dan saat itulah Takeru melompat, menyelinap masuk ke dalam gua itu.
Takeru meringkuk dalam gua, seluruh badannya bergetar hebat.