Teruntuk angin yang selalu menerpa bebas dengan dingin.
••••
Memang sudah seharusnya gadis remaja tetap bersekolah untuk menimba ilmu demi kepentingan bekal di masa depan. Mau jadi apa seorang perempuan di jaman sekarang, jika pekerjaannya hanya berdiam di rumah, atau main-main tidak jelas. Tentu Adara tidak ingin putrinya seperti itu, ia menginginkan yang terbaik bagi putrinya.
"Duduk dengan benar Dita."
Sudah berapa kali peringatan itu meluncur dari bibir Adara untuk putrinya. Melihat pemandangan gadis itu yang berdiam diri dengan duduk menyilang kaki di atas sofa ruang guru, dengan sebuah permen karet yang ia mainkan dengan meniupnya hingga membentuk balon kecil.
Tok
"Ups ... " Gadis itu hanya menyengir ketika balon permen karetnya meletup di depan kepala sekolah beserta satu guru wanita yang tengah duduk bersamanya.
Adara tersenyum tak enak, tangannya menepuk pelan kaki putrinya, dengan sorot mata gusar. "Buang permen karetnya Dita!" Bisiknya pelan.
"Baiklah," kepala sekolah itu mengangkat bicara. "Mungkin, nak Adita bisa coba bersekolah di sini ... " Gadis itu tidak mendengarkan lagi apa kelanjutannya, ia justru sibuk menempelkan bekas permen karetnya pada bawahan meja yang menyekatnya antara pria botak dengan kacamata tebalnya, dan satu guru cantik yang cukup masih muda.
"Baiklah jika semuanya sudah selesai, dan putri saya sudah bisa mulai bersekolah di sini mulai dua hari yang akan datang." Senyum bahagia ia sematkan di wajahnya dengan segera menyalimi kedua guru sekolah itu. "Dita." Panggilnya membuat gadis itu terkesiap dari 'pekerjaannya' dan ikut berdiri menyalimi.
"Baik, semoga putri anda bisa bersekolah dengan baik di sini." Ucap kepala sekolah di sela berjabat tangan.
"Saya harap begitu, baiklah, kami permisi."
"Silahkan."
Ibu dan anak itu segera melangkah keluar dari ruangan, bergegas untuk kembali pulang dan menyiapkan semua kebutuhan Dita di sekolah barunya.
"Udah Dita bilang, Dita gak usah sekolah aja Mih." Ucap anak itu dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.
Adara tersenyum dengan merangkul putrinya. "Mamih kan juga udah bilang, pendidikan itu penting Dita. Buat bekel kamu di masa depan." Ucapnya.
"Biar apa?"
"Udah gak usah banyak bicara lagi ah." Adara masih merangkul hangat putrinya yang hari ini memakai jeans beserta kaos berwarna toska-nya itu dengan rambut tercepol tinggi.
"Lagian kamu kan gak bakal selamanya sama Mamih Dita." Ucap Adara yang membuat putrinya itu berhenti membuka pintu mobil.
"Maksudnya?" Poninya itu kini tertiup angin, dengan pandangan yang menyipit karna silauan matahari.
"Mami gak bakalan selamanya sama kamu, kan?" Ucap wanita itu bertanya di samping pintu kemudinya.
Dita hanya diam memandang.
"Ada saatnya mami akan berhenti bekerja, dan mungkin kamu akan mulai membutuhkan pemasukan untuk memenuhi semua kebutuhan hidup. Ada saatnya mami pergi dan gak bisa ngejaga kamu lagi, dan saat itu terjadi, apa yang mau kamu lakukan jika tidak menggunakan pendidikan kamu sebagai pacuan untuk berkarir mencari kerja." Angin masih berhembus saat keduanya bersitatap bersebrangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Girl
Teen FictionGADIS RUSAK Gadis yang patah, dia duduk sendirian, Kenangan telah membanjiri, Dia ingin merangkak ke dalam lubang, Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia menangis dalam hati, sedikit hancur lagi. Dia berusaha keras untuk bernapas. Dia merasakan a...
