M&M. Keras Kepala

15 2 1
                                        


Teruntuk semesta yang mengelilingiku,

••∞••

Tidak ada yang Adita Dara inginkan kecuali ketenangan dalam hidupnya. Ia sungguh benci berada di tengah keramaian macetnya jalanan kota, berpadu dengan suara klakson yang terus menerus memekikkan telinganya. Lalu--

Brak

"BANGSAT!"

Sebuah motor menyerempet tubuhnya yang hendak turun dari angkot yang ia tumpangi. Ia terjatuh tepat pada aspal yang panas nan berdebu, kulit sikutnya lecet sedikit mengeluarkan darah akibatnya.

Gadis itu terbangun. "WOY, KALO BAWA MOTOR YANG BENER. INI JALANAN BUKAN PUNYA NENEK MOYANG LO, YA." Gebraknya pada bagian depan motor sang pengemudi dengan tak main-main.

Dita masih menyorotkan mata tajamnya, ia kemudian memilih berbalik dan melengos untuk berlari cepat, memacu langkahnya untuk sampai pada gedung SMA barunya.

"Mau sampe jam berapa kalo gue masih ngedekem di angkot, yang macetnya gak ngotak." Ucapnya menggerutu sambil sesekali terus melihat sikutnya yang lecet. Kedua kakinya masih memacu langkah hingga hampir sampai pintu gerbang yang masih terbuka.

GUK

"Eh anjing." Umpat Dita, tatkala tubuhnya terlonjak kaget dengan kehadiran hewan penjilat berbulu coklat gelap yang berada di sisi kanan, dekat pos satpam.

Anjingnya di rante.

"Bangsat!" Umpatnya lagi. "Sejak kapan ada anjing di sekolah kaya gini." Ucapnya tak habis pikir.

"Itu anjing penjaga sekolah." Tahu-tahu ada siswa lain yang datang menyahut ucapanku begitu saja.

"Sejak kapan satpam sekolah di ganti sama anjing?" Ucapnya bertanya mengejek, seraya berlalu begitu saja. Ia sudah di buat terkejut bukan main.

Siswa itu hanya dapat menggeleng kepala, dan mulai menarik pintu gerbang untuk di tutupnya--karna Dita menjadi murid paling terakhir yang datang.

••∞••

Untungnya, semua murid di SMA barunya ini terlihat acuh tak acuh. Ia bisa berjalan dengan tenang dan tak mengenal semua siswa siswi yang terdapat di sekolah ini. Seharusnya dari dulu ia berpindah sekolah agar tak menjadi bahan bullyan teman-temannya--itu pun jika mereka berteman.

Dita berhenti berjalan.

"Gue kelas mana?" Tanyanya pada diri sendiri. "Emm, tolol. Mami gak ngasih tahu gue duduk di kelas sebelas mana." Diraihnya ponsel dari saku jasnya, segera mengetik pesan, dan baru membalas pesan dari Maminya.

Jika kamu sudah berada di sekolah, tolong berikan Mami foto sebagai bukti.

Itu adalah kalimat pesan yang Dita baca. Maminya ini benar-benar sudah menjadi robot pengintai saja. Ia berbalik sebentar, mengangkat sedikit ponselnya untuk memotret asal.

You send a ficture.

"Permisi."

Dita kembali berbalik, dan menemukan keberadaan siswa yang ia temui di depan gerbang sana tadi. Lalu ia hanya mengangkat sebelah alisnya.

Broken Girl Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang