Teruntuk aku yang tak lagi sendiri
••••
“Temenin gue warnain rambut yuk!”
Alisnya Adit terangkat sempurna. “Lo mau warnain rambut?” Dita, gadis itu mengangguk. “Gak sayang rambutnya, udah bagus-bagus warna item.”
“Emang bakal jelek, ya?” Tanya gadis itu.
“Enggak sih, bebas terserah lo mau di apain juga, gue anter. Mau di cet warna apa emang?”
“Kuning bagus gak sih?”
“Lo bercanda? Itu sama aja warna rambut orang luar. Lo mau di kira bule kesasar?” Luconnya, membuat Dita tertawa terbahak.
“Atau mungkin, pink, kayanya menarik.” Tangannya tak sadar mengusap dagu.
Adit dengan kondisi memapah gadis itu, hanya bisa bergumam mengikuti. Gadis disampingnya, rupanya suka sekali bicara.
“Pikir-pikir lagi deh, kalo mau di warnain warna pink.” ucap Adit mengingatkan.
“Merah menyala, kayanya cocok gak sih, buat gue?” Dita menolehkan kepalanya untuk benar-benar menatap cowok yang memapahnya.
“Apa kabar kalo kena sorotan matahari?” Adit menengadahkan kepalanya ke atas. “Rambut lo ntar yang ada kaya kebakar. Terang. Menyilaukan.”
“Hahaha ... ” Dita tertawa cukup keras dan renyah. Adit hanya bisa menghentikan sejenak langkahnya, memperhatikan tawa itu yang tepat berada di sampingnya.
Saat tawa itu terhenti, Adit kembali berjalan memapah gadis di sampingnya. “Ketawa barusan?” Tanyanya mengejek.
“Iya.”
“Kaya kuntilanak.”
“Eh, sembarangan.”
••∞••
Karna motor yang mereka gunakan 'insident' tadi pagi, berakhir di salah satu bengkel, akhirnya mereka menggunakan kendaraan umum untuk pergi. Taksi menjadi sarana transportasi mereka berdua. Sebenarnya, Adit tidak pernah melenceng bolos sekolah seharian seperti ini, apalagi tidak ada surat keterangan izin yang menemani.
"Kenapa?" Tanya Dita saat gadis itu sudah duduk siap untuk merubah warna rambutnya.
"Rasanya aneh." Ucap cowok itu mengutarakan. "Baru kali ini gue bolos gak sekolah." Di tatapnya gadis yang sedang di bleach-ing rambutnya oleh salah satu pegawai salon.
"Um, kayanya gue emang harus sering ajak lo bolos Dit, gimana?" Pantulan Adit yang sedang duduk santai di sofa sana bisa Dita lihat dari cermin di depannya.
"Enggak lagi-lagi deh." Tolaknya langsung. "Lo, sering ya bolos kaya gini?" Tanyanya.
"Lumayan." Jawab gadis itu.
"Alasan lo pindah sekolah?"
"Ya karna sering bolos."
"Berapa kali lo bolos di sekolah lama lo?"
"Hampir, ... Mungkin tiga bulan lebih berturut-turut. Plus karna terakhir gue bikin ulah udah nonjok gak sengaja anak dari salah satu guru di sana. Makanya gue di keluarin?" Gadis itu lanjut tertawa pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Girl
JugendliteraturGADIS RUSAK Gadis yang patah, dia duduk sendirian, Kenangan telah membanjiri, Dia ingin merangkak ke dalam lubang, Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia menangis dalam hati, sedikit hancur lagi. Dia berusaha keras untuk bernapas. Dia merasakan a...
