belajarlah untuk duduk santai dan mengamati, tidak semuanya butuh reaksi.
°°°°
Kelas yang ricuh saat kedua kaki itu melangkah masuk. Sedikit bingung dengan semua orang yang berjalan kesana kemari untuk--kedua kaki itu berhenti.
"Anjing."
Dita seperti orang kerasukan. Langsung berlari ke mejanya dan sesegera mungkin mengeluarkan buku catatan. Kosong. Jelas ia belum sama sekali mengerjakan tugasnya Minggu lalu.
"Tolol. Tolol. Tolol--"
"Nih."
Kepala pun mendongak mendapati Adit yang menyodorkan buku tugasnya begitu saja.
"Gue boleh nyalin tugas lo." Ucap Dita dengan lamat, meminta cowok itu berbaik hati padanya.
"Makanya, ada tugas itu di kerjain." Peringatnya.
"Gue lupa. Gak sempet mikir." Jawabnya langsung menyalin dengan cepat semua tugas yang sudah tercatat komplit pada buku bersampul kotak-kotak merah itu.
"Selamat pagi semua."
Suara guru itu berjalan masuk dengan membawa beberapa buku di tangannya. Dita yang menyadari belum selesai mencatat akhirnya semakin panik berusaha menulis dengan kekuatan super, sementara Adit sudah kembali ke mejanya di depan.
"Anjir, gue belum beres--"
"ITU YANG DI BELAKANG?" Suara meninggi dari guru di depan jelas membuat semua orang melihat ke arah Dita, begitu pula dirinya yang langsung membatu di tempat. "SEDANG MENULIS APA, YA?" Tanyanya.
"Anjim--" gadis itu menggeram seraya merapatkan kedua matanya panik.
"Dia lagi ngerjain PR Bu." Salah satu siswa berkata begitu saja, membuat guru itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan perlahan.
"MASIH ADA YANG BELUM MENGERJAKAN TUGAS DARI SAYA?"
Mampus.
"SIAPA LAGI DI SINI YANG BELUM MENGERJAKAN TUGAS?!" Kepala guru itu bergerak memindai semua murid, tak ada yang menjawab ataupun berani menyahut. "KAMU--"
Sial.
Guru itu jelas menunjuk pada Dita.
"NAMANYA SIAPA?!"
"Dita."
"DITA, SILAHKAN MAJU KE DEPAN! KERJAKAN DAN TULIS TUGAS YANG SUDAH DI KASIH, DI PAPAN TULIS INI!"
Bagai di sambar petir. Dita terdiam dengan detak jantung yang cepat, ia bahkan belum selesai menyalin semua tugasnya.
SIAL SIAL.
"AYO CEPAT."
Mengapa pelajaran pertama di hari Selasa ini harus Matematika. Ada tugas pula. Ia bahkan argh--ini sangat menyebalkan baginya.
Tangan gadis itu sengaja membawa serta buku pelajaran Adit ketimbang buku dirinya yang belum selesai tercatat semua tugas disana. Lambat-laun dirinya sudah berdiri di hadapan semua murid, tepat di samping guru perempuan itu.
"AYO KERJAKAN, SAYA PANTAU DI SINI."
Dita mendelik.
"Dia kira gue buronan?" Gumamnya sebelum menuliskan jawaban pada papan tulis.
Lama gadis itu menulis pada papan putih itu. Angka-angka yang acak-acakan, penjelasan di pinggir ia tulis singkat--menyamakan yang Adit tulis di bukunya. Sampai akhirnya ia selesai juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Girl
Teen FictionGADIS RUSAK Gadis yang patah, dia duduk sendirian, Kenangan telah membanjiri, Dia ingin merangkak ke dalam lubang, Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Dia menangis dalam hati, sedikit hancur lagi. Dia berusaha keras untuk bernapas. Dia merasakan a...
