"Oke, cukup latihan untuk hari ini." Ucap Michael seraya mundur selangkah untuk mengambil jarak antara dirinya dan tuan putrinya.
Perempuan itu langsung menjatuhkan dirinya ke atas matras. Lelah berlatih menggunakan pedang biasa dengan pengawalnya. Latihan dua jam dengan empat kali istirahat tiap 30 menit sekali membuat Fabian nyaris mati karena kehabisan tenaga.
Latihan kali ini hanya menggunakan fisik dan pedang biasa. Tidak boleh menggunakan kekuatan dan kemampuan lain. Bahkan sekadar untuk minum sekantong darah agar kondisinya pulih saja tidak diizinkan.
Michael benar-benar mendorong latihan hari ini sampai batas maksimal.
"Tiga hari lagi pertarungan tuan putri diadakan. Hari ini selesai sampai sini dan kita akan libur memulihkan diri sampai di hari pertarungan."
"Demi Tuhan, Dewa Zeus, dan segala ciptaannya! Finally! Libur!" Fabian mengeluarkan sisa tenaganya untuk berteriak, membuang semua beban latihan yang selama ini terus dilakukan tanpa henti.
Lelaki dengan rambut berwarna biru itu tertawa lalu melempar sekantong darah pada tuan putrinya yang masih asik tiduran di atas matras tanpa mau berpindah. Michael percaya jika tuan putrinya tidak akan mau bangun dari posisinya, bahkan bisa jadi akan tertidur di sana.
"Ngomong-ngomong, Tuan Putri. Bicara soal kejadian di makan malam. Aku sudah mendapatkan jawabannya, walau ini hanya dugaan, tapi mungkin bisa menjadi jawaban mengapa tuan putri bisa melihat masa lalu saat memakan daging." Ucap Michael yang sukses mengalihkan perhatian Fabian.
"Lalu? Apa itu?"
"Ingat dulu, setelah kita bertemu. Semuanya masih baik-baik saja, 'kan? Memakan daging dan minum darah tidak ada efek apapun yang dirasakan oleh tuan putri." Mata Fabian melihat ke langit-langit ruangan. Mencoba mengingat kejadian di masa lalu yang dibicarakan Michael. Tanpa mengalihkan pandangannya, ia menganggukkan kepalanya. Setuju dengan ucapan pengawal pribadinya. "Namun semuanya berubah saat tuan putri berhasil membuat kontrak dengan Arma Akara. Benar?"
"Oke, lalu...?"
Michael menghela nafas panjang. Entah mengapa ia masih belum bisa terbiasa dengan perilaku tuan putrinya yang malas berpikir saat tubuhnya sudah di mode non-aktif. Padahal dengan awalan yang sudah sangat jelas itu, seharusnya tuan putrinya langsung paham.
"Kesimpulan yang bisa diambil adalah efek yang diterima tuan putri karena membuat kontrak dengan Arma Akara yaitu bisa melihat masa lalu daging yang dimakan tuan putri. Walaupun sebetulnya agak aneh jika tuan putri hanya bisa melihat masa lalu dari daging yang dimakan. Mungkin harusnya bisa dikembangkan dan dikendalikan..."
"Harusnya bisa dikendalikan," jawab Fabian, "Jangan dikembangkan. Begini saja aku sudah kewalahan." Lanjutnya menggerutu.
Michael tertawa mendengar balasan tuan putrinya. "Dan untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Satu-satunya cara adalah berbicara dengan Arma Akara. Bagaimana? Apa tuan putri ingin ke dimensi Arma Akara?"
"Aku lelah. Apalagi berhubungan dengan Akara. Bukannya mendapat jawaban, yang ada aku dimaki habis-habisan karena ia terus menerus membawa masa lalu," gerutu Fabian, mengingat kejadian terakhir kalinya ia pergi ke dimensi Arma Akara dan berakhir bertengkar hebat dengan siluman dua pedang itu.
"Oh, baju-baju tuan putri yang dibuat oleh Tibra sudah datang. Apa tuan putri ingin melihatnya sehabis ini?" tanya Michael yang baru mengingat jika baju tuan putrinya yang dibuat oleh Tibra sudah datang.
Lagi-lagi Fabian menggelengkan kepalanya. "Nanti saja setelah pertarungan jika sempat. Aku ingin beristirahat."
Ucapan Fabian menjadi pengingat bahwa ia tidak ingin diganggu lagi. Matanya kembali ditutup, membiarkan tubuhnya beristirahat untuk mengatur nafasnya kembali normal. Walau begitu, di kepalanya terus berputar tentang kejadian di masa lalu dan hubungannya dengan Akara. Ribuan kemungkinan muncul di kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
D'WHITE
FantasyIblis. -adalah sebuah kata bermakna negatif. Selalu dihubungkan dengan sosok besar bersayap hitam pekat dengan seluruh tubuh berwarna merah dan taring panjang melebihi ukuran normal. Sifat yang bertolak belakang dengan malaikat. Penuh kelicikan da...
