"Ini Colosseum. Tempat dimana pertarungan besar diadakan atau latihan penting biasanya dilaksanakan disini karena pelindungnya yang paling kuat dibanding dengan ruang latihan lainnya." Fabian menjelaskan tempat dimana ia akan bertarung ke Pinky saat mereka baru saja keluar dari colosseum.
Pinky yang berada di sebelahnya hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya sembari mendengarkan penjelasan Fabian. Sedari tadi ia hanya bisa kagum melihat kerajaan Batara. Yang tidak pernah ia ekspektasikan lagi adalah hadirnya Fabian–sahabatnya–disini.
Michael berjalan di belakang keduanya, bukan untuk mengikuti, tepatnya untuk menjaga kedua perempuan di depannya. Michael hanya tidak ingin, ide-ide aneh dipunya oleh kedua orang ini dilaksanakan dan merugikan orang banyak.
Jangan sampai masa lalu terulang. Michael masih ingin santai sebelum hari pertarungan tuan putrinya tiba.
"Setidaknya kamu sudah bisa membayangkan bagaimana acara nanti, 'kan?" Tanya Fabian seraya menoleh pada Pinky.
"Actually, yes. Mungkin nanti akan pakai panggung kecil. Yang untungnya selalu tersedia di dalam tempat penyimpanan." Pinky menjawab dengan santai membuat Fabian tersenyum lega.
"Good to know that! Aku sempat khawatir saat tahu kamu adalah pembawa acara di pertarungan nanti." Ucap Fabian mengungkapkan kekhawatirannya pada Pinky.
Sementara yang dikhawatirkan malah kebingungan, "Kenapa harus khawatir?"
Fabian mendengus pelan. "Kau tahulah, Kerajaan Batara itu tidak secanggih kerajaan di permukaan. Aku khawatir jika kebutuhanmu tidak terpenuhi selama disini. Mau bagaimanapun juga, kau adalah tamu, Pinky."
"Oh my, aku terharu bisa dikhawatirkan sebegitunya oleh sahabatku sendiri," Tukas Pinky seraya mengusap bawah matanya seolah-olah sedang mengusap air mata yang mengalir. Ia sedang mengejek Fabian.
"Tidak usah mengejek..."
Pinky tertawa saat mendengar Fabian mati-matian menahan umpatan yang tidak dilontarkan di akhir kalimat. Ia tidak pernah menyangka jika sahabatnya berubah menjadi anak baik di lingkungan keluarganya sendiri. Mengingat saat bersama di permukaan waktu lalu, Fabian benar-benar orang yang jauh dari kata sopan santun.
Pinky hanya pernah mendengar Fabian sopan santun sebelum ini hanya saat mereka menghampiri pemerintah. Setelah itu tidak pernah sampai ia berada di Kerajaan Batara sekarang.
"Aarrgh! Berhenti tertawa, Pinky! Aku tahu kau sedang mengejekku!"
"My bad, my bad, aku benar-benar tidak bisa menahannya." Ucap Pinky di sela tawanya. "Untuk kebutuhanku, no need to worry. Tuan Putri Fiona sudah menanyakan itu padaku lebih dahulu sebelum kau yang bertanya."
Wajah Fabian yang kesal tadi langsung berubah menjadi kebingungan. "Tumben?"
"Apanya yang tumben?"
"Nevermind." Imbuh Fabian seraya menghentikan langkah kakinya ketika mereka berdua sampai di dekat taman. "By the way. Ini adalah taman belakang istana. Gedung di depanmu adalah istana dengan berbagai macam ruangan di dalamnya. Untuk penginapan, Wayne akan menjelaskannya lebih lanjut. I think that's all for today. Do you have any questions?"
Pinky tidak menjawab pertanyaan Fabian, ia malah menatap gedung di depannya dengan seksama. "Aku hanya ingin tahu, ini beneran hanya satu gedung? Lalu kalian tidur dimana?"
Fabian tertawa pelan mendengar pertanyaan tidak terduga dari Pinky. "Sebelum aku menjawabnya. Do you mind if we move to a better place?"
"Of course I do." Pinky tersenyum lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
D'WHITE
FantasyIblis. -adalah sebuah kata bermakna negatif. Selalu dihubungkan dengan sosok besar bersayap hitam pekat dengan seluruh tubuh berwarna merah dan taring panjang melebihi ukuran normal. Sifat yang bertolak belakang dengan malaikat. Penuh kelicikan da...
