3. Munculnya banyak Keanehan

621 56 24
                                        


"Kalian belajar yang rajin, Ayah tunggu hasil belajar kalian!" Tuan Tsugikuni melambaikan tangannya ke arah kedua anak kembarnya yang dibalas lambaian antusias dari si bungsu, sedangkan si sulung hanya mengangguk sambil tersenyum.

Kedua anak kembar itu lantas berjalan menuju kelasnya, sama seperti rutinitas mereka, hanya saja entah mengapa Yoriichi makin merasa ada yang aneh dengan dirinya.

Pemuda itu pada awalnya masih belum menyadari seluruh keanehan yang ia alami. Seperti, entah mengapa sejak ia sering mendapatkan mimpi yang adalah potongan masa lalunya, entah mengapa refleksnya kian meningkat. Lalu saat beberapa hari setelah kejadian di bus itu, kini seluruh Indranya mendadak men Weejadi sangat peka.

"...chi"

"...Richi"

"Yoriichi!" Yoriichi tersentak. Disebelahnya, Michikatsu lagi-lagi menatap sang adik dengan khawatir. Kali ini Yoriichi dapat tahu dengan mudah karena bau penuh ke khawatiran yang ia rasakan dari sang kakak. Ngomong-ngomong soal penciuman, entah mengapa Yoriichi teringat dengan Tanjirou mengingat anak itu juga memiliki penciuman super tajam.

"Jangan melamun, kamu hampir masuk selokan tadi." Michikatsu mendengus kesal ketika melihat respon sang adik yang hanya nyengir tidak berdosa.

"Hanya memikirkan sesuatu. Tapi kak, apa... Kamu memikirkan hal yang aku pikirkan?" Keduanya berpandangan, menyalurkan isi pikiran masing-masing tanpa bertukar suara.

Keduanya lantas berjalan menuju kelas tanpa ada percakapan setelahnya.

------------------------------------------------------

"Demi apapun, aku sudah mau mati, aku tidak kuat lagi." Zenitsu, anak berambut kuning itu tepar di tengah matras. Bokuto miliknya bahkan sudah tergeletak entah kemana.

Keadaan kedua sahabatnya pun sama, Inosuke bahkan sudah tertidur sambil tengkurap. Hanya Tanjirou yang tampak sedikit normal. Bocah berambut merah itu menyandarkan tubuhnya ke salah satu tiang. Mereka kebetulan memang sedang disiapkan untuk kompetisi antar sekolah, makanya Michikatsu dan Yoriichi melatih mereka 'sedikit' lebih keras dari biasanya.

"Istirahat 30 menit, luruskan kaki kalian. Inosuke! Jangan tidur!" Sentak Michikatsu dengan nada mengancam, mampu membuat Inosuke langsung bangkit dan beringsut ke arah Tanjirou, begitupun Zenitsu.

"Nee, senpai?" Si kembar menoleh.

"Apa kalian percaya dengan Oni?"

UHUK!!!

Yoriichi menyemburkan air dari mulutnya, sedangkan Michikatsu sedikit melotot. Keduanya berpandangan.

Tanjirou bingung, dua seniornya agak aneh.

"Darimana kamu tahu tentang oni?" Tanya Yoriichi setelah hening beberapa saat. Baik sang kakak maupun dirinya segera merapat ke arah ketiga pemuda berbeda Surai itu.

"Sebenernya... kaa-san dan Tou-san sempat membicarakan ini. Mereka bilang bahwa cerita itu sudah turun temurun diceritakan dari generasi ke generasi. Ajaibnya, salah satu nama pemburu iblis terhebat itu memiliki nama seperti namaku, Kamado Tanjirou. Bahkan nama ayah, ibu dan seluruh adik-adikku memiliki nama serupa seperti nama kedua orangtua dan adik-adik beliau."

Tanjirou terdiam.

"Aku juga sering memimpikan banyak hal secara terus menerus belakangan ini, entah kenapa sangat terasa familiar tapi asing secara bersamaan."

Yoriichi menghela napas, sedangkan Michikatsu hanya menatap datar, walaupun sebenarnya baik Tanjirou maupun Yoriichi dapat mencium bau penyesalan sekaligus kekhawatiran dari Michikatsu.

"Kamu percaya reinkarnasi?"

"Kelahiran kembali? Memang itu ada?" Tanya Tanjirou penuh rasa penasaran. Michikatsu mengusap rambut merah bata milik Tanjirou, membuat bocah itu tersentak sekaligus kagum melihat senyuman Michikatsu secara langsung.

"Kamu akan tahu nanti, semuanya memiliki waktu masing-masing."

"Dan ya, kamu hanya perlu tabir itu terungkap Tanjirou, maka setelahnya kamu akan sangat mengerti apa yang terjadi." Tanjirou terdiam.

"Keluargamu memiliki semacam Tarian atau ritual turun-temurun yang kalian miliki setiap tahun?" Tanjirou mengangguk, mengiyakan pertanyaan Yoriichi.

"Di halaman rumah, setiap akhir tahun dimana musim salju mulai turun. Ayah selalu menarikan itu, katanya karena leluhur kami terdahulu selalu bekerja dengan api, Ayah harus melakukannya."

"Meski beliau sekarang tidak bekerja bersama api, tapi ayah tetap menarikannya. Tarian itu juga diwariskan padaku, kebetulan aku bisa menunjukannya." Yoriichi agak terkejut. Michikatsu bahkan sampai refleks memukul kepala Inosuke, membuat anak itu hampir mengamuk jika tidak tahu siapa yang memukulnya.

"Bisa kamu tunjukan padaku?" Pinta Yoriichi. Tanjirou awalnya agak bingung, tapi akhirnya dia hanya mengiyakan. Anak itu mengambil bokuto-nya dan memulai gerakan.

Yoriichi tersenyum melihat gerakan milik Tanjirou yang sama persis, hanya saja anak itu menggunakan ritme disetiap gerakan, sehingga transisi antar jurus tampak sangat mulus. Tepat setelah menaruh bokuto-nya, Si kembar bertepuk tangan sedangkan Zenitsu maupun Inosuke terkagum hingga mulut mereka terbuka lebar. Tanjirou menggaruk dahinya karena malu.

Ia sedikit mengerutkan keningnya melihat tanda aneh di dahi Yoriichi dan di dagu Michikatsu.

"Senpai-tachi, dahi dan dagu kalian berdua memiliki tanda seperti milikku juga? Apakah itu bekas luka juga?" Yoriichi dan Michikatsu menoleh bersamaan. Keduanya mulai saling memperhatikan satu sama lain. Benar saja, Demon Slayer Mark milik mereka muncul kembali.

"Seperti semua keanehan ini mulai terjawab." Gumam Yoriichi.

"Maksud senpai?" Tanya Zenitsu agak penasaran. Yoriichi menatap ketiganya dengan khawatir.

"Ada kemungkinan Era sebelumnya akan terulang kembali." Kali ini Michikatsu yang menjawab.

"Era? Maksudnya?!"  Sentak Inosuke. Ekspresi Yoriichi berubah. Hal tersebut sontak membuat Trio Kamaboko takut seketika, sedangkan Michikatsu hanya menghela napas lelah.

Kaumnya dulu memang sangat merepotkan, setidaknya itu yang dia pikirkan.

"Para iblis akan kembali."



Halohaaa, bagaimana kabarnya guys? Kali ini aku memutuskan Double up karena lagi mumet, jadi sekalian aja deh aku tulis semuanya.

Segitu dulu ya, sampai jumpa lagi!

Salam hangat

San-

Hello Again, Brother Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang