18

74 10 0
                                        

"Apaaa?" Teriak ketiganya cukup terkejut mendengar lamaran Naka yang tiba-tiba.

'Gue serius padahal. Dan satu lagi, gue udah putus sama Winda' Ungkapan Naka semakin membuat ketiga wanita itu menganga tak percaya.

'Gila lu Na! Bisa-bisanya lu nyakitin wanita lain demi gue' Bening terlihat marah kali ini.

'Stress lu Na, gak abis fikir gue sama kelakuan lu sekarang' Sella memijit pelipisnya nampaknya ia ikutan pusing dengan tingkah Naka.

'Gue pengen ngomong kasar Na tapi gue lagi hamil' ujar Rezkia mempoutkan bibirnya.

'Ya udah tahan aja sampai lahiran nanti lu bebas ngatain gue' balas Naka kini memilih berdiri.

Rezkia mengepalkan tangannya lalu meninju lengan Naka tapi Naka tidak bereaksi. Naka menaruh bucket bunga itu di atas nakas.
Bening tahu niat Naka baik padanya akan tetapi Naka malah menyakiti wanita lain karenanya. Itu cukup membuat Bening merasa bersalah pada Winda, bagaimana pun dia tidak bersalah tapi malah tersakiti.

'Na gue tahu niat lu baik sama gue dan anak gue. Tapi keputusan lu buat ninggalin Winda itu salah Na. Lu harus minta maaf sama dia' Bening menatap Naka yang kini tertunduk di hadapannya.

'Saran gue ya Na mending lu minta maaf ke Winda, trus balikan aja. Toh Winda cewek baik, meskipun rada nyebelin anaknya' Sella duduk di pinggiran kasur pasien milik Bening. Sementara Rezkia hanya bisa mengangguk setuju.

Naka menghela nafas, tekatnya sudah bulat. Dia bersikeras untuk menikahi Bening. Ketiga wanita itu menghela nafas panjang bersamaan.

Di pintu luar terlihat Haekal berdiri menguping pembicaraan mereka. Meski samar ia bisa mendengar dengan jelas bahwa Naka mengakhiri hubungannya dengan Winda demi menikahi Bening. Jelas hal ini membuat Haekal naik pitam lantas ia menjatuhkan bucket bunga lily putih yang ia pegang di depan pintu ruangan Bening dan berlalu pergi tanpa menemui Bening.

Haekal berjalan munyusuri ruang bayi tanpa sadar ia menuju ruang NICU tempat dimana bayi Bening sedang di rawat. Sambil berjalan perlahan ia menghampiri kaca ruangan yang tembus memperlihatkan seorang bayi mungil sedang terbaring di inkubator.

Hidungnya terdapat alat bantu nafas, mata si bayi terbuka perlahan. Jantung Haekal berdegup kencang di tatap bayi mungil itu.
"Kenapa jantung gue jadi deg degan gini di tatap bayi? Matanya indah banget mirip mata Bening. Haah apa benar bayi ini anak gue? Gak mungkin, Bening kan punya hubungan dengan laki-laki lain juga dulu. Apa sih yang gue harepin sekarang?" Batin Haekal rasanya sedang bertengkar kali ini.

Haekal berbalik membelakangi si bayi. Nampaknya si bayi terlihat akan menangis, "oeek oeek oeek oeeeek" bayi itu menangis kencang membuat hati Haekal semakin berat melangkah pergi. Ia pun berbalik lagi melihat si bayi yang masih menangis itu.

'Hai jagoan, kenapa kamu nangis hemz? Ada om disini, cup cup cup udah ya jangan nangiiis. Om temani kamu sampai tertidur lagi ya usshhh ussshh ussshh bobo ya' Haekal terlihat seolah sedang menepuk-nepuk si bayi dari kaca luar agar si bayi tenang. Dan berhasil, si bayi terlelap lagi sekarang, hati Haekal jadi terasa tenang sekarang. Ada perasaan bahagia saat dia mampu membuat si bayi itu tertidur, ia tersenyum melihat si bayi yang tertidur pulas itu. Ia juga tidak menyadari Jevan sedari tadi memperhatikannya dari samping dengan jarak yang tidak begitu jauh pula.

Jevan berdiri sambil merekam Haekal lalu mengirimkannya pada Rezkia. Rezkia enggan untuk berkomentar kali ini ia memilih untuk tidak memberitahukan pada Bening akan kedatangan Haekal.
Takutnya Bening akan sedih lagi seperti terakhir kali bertemu, Rezkia memilih bungkam.

Haekal yang merasa sudah berhasil menidurkan si bayi hendak berbalik, namun ia terkejut melihat Jevan ada di sampingnya.
'Gimana? Bayi nya lucu kan?' Ujar Jevan menahan bahu Haekal yang hendak pergi.
'Elo bisa aja gak mau ngakuin ini anak lu, tapi ikatan darah jauh lebih kental dari pada air. Elo bakalan menyesal udah menyia-nyiakan anak sama wanita yang mencintai elo' ujar Jevan lagi.
'Bukan urusan elo Jev' Haekal menepis tangan Jevan lalu berjalan pergi. Jevan tersenyum simpul lalu menatap si bayi yang tertidur pulas.

In My DreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang