Lightning/past.

17.4K 74 1
                                    

Morgan, sedang duduk bersama temannya di sebuah caffe, memesan minuman, berbicara, dan bernegosiasi bisnis bersama sang teman.

"Gue, lihat akhir-akhir ini Lo, jarang ke club?" tanya pria di samping Morgan, sambil merangkul pundak Morgan.

"Gue, udah enggak sebejad dulu. Gue, udah tobat." jawab Morgan.

Tobat katanya, apa yang tobat? Lantas Agnes, di perlakuan bejad olehnya, jelas dia tau jika Agnes, adik tirinya, Sungguh aneh.

"Akhh. Masa iya? Gak percaya gue," sangkal Aiden, dengan senyuman semriknya.

"Gue, udah punya satu yang buat gue, tobat dan gak mainin wanita lagi." jelas Morgan, dengan mata yang pasti dan bibir tersenyum puas.

Memang jika di bilang Morgan, itu lelaki dengan sejuta pesona, walaupun angkuh, dingin, kadang kejam, namun wanita mana yang akan menolak tidur dengan Morgan.

Setiap malam, lelaki itu selalu ke club hanya untuk meniduri wanita-wanita malam, lalu membayarnya setelah Morgan, puas. Tetapi sejak kedatangan Agnes, di hidupnya Morgan, tidak lagi memainkan wanita, atau meniduri wanita.

"Siapa? Gue, penasaran wanita mana yang membuat teman gue, ini bisa setia sama satu wanita," tanya Aiden, menatap lekat mata Morgan.

"Tidak perlu tau, apa urusannya dengan Lo," elak Morgan.

"Kepok aja, kok bisa seorang Morgan, tunduk dan luluh oleh seorang wanita."jawab Aiden, memandang sini Morgan.

Morgan, hanya tersenyum devil mendengar pengutaraan dari Aiden, memang kenapa kalo dia benar luluh oleh wanita? Toh, tidak merugikan Aiden.

"Slow bro, tadinya gue, mau bawa lo, ke club. Di sana banyak banget cewek sexy, semok, bohay, beuh pokonya mantap." ucap Aiden, seolah-olah sedang promosi.

"Gak. Gue, mau pulang aja." tolak Morgan.

"Siapa sih nih cewek? Kok bisa bikin Lo, jadi gini." tanya Aiden.

"Adik tiri gue," jawab Morgan, jelas dan padat membuat Aiden, kaget.

"Memang ya, jika bukan wanita malam, ya adik tirik." kekeh Aiden, menggelengkan kepalanya.

Dari sini Aiden, menyadari temannya itu bukan tobat, hanya berpindah tempat dari wanita malam, menjadi pembucin gadis perawan.

*****

Malam yang mendung, hawanya menjadi semakin dingin, rumah yang besar membuat Agnes, ketakutan setengah mati di kamar seorang diri.

Setelah dia pulang dari sekolah hingga sekarang dia sendirian, abangnya entah pergi kemana? Ibu dan ayahnya belum pulang dari kantor, padahal jam sudah menunjukkan pukul 21.00.

Memang belum terlalu malam namun karena langit mendung, menandakan akan turun hujan, membuat Agnes, gemetar di ranjang. Apa lagi setelah mendengar petir yang menyambar begitu dahsyat membuat gadis itu meringkuk di dalam selimut.

"Hiksss. Aku, takut petir. Kenapa tidak ada seorangpun di rumah?" ucap Agnes, tubuhnya gemetar, bibirnya terisak.

Malam semakin gelap, hujan turun begitu deras bersamaan dengan petir, gadis cantik itu terisak dalam selimut, memeluk tubuhnya sendiri karena takut mendengar petir yang begitu kencang.

"Hikss... Abang pulang aku, mohon." pinta Agnes, dalam selimut sambil menangis sesenggukan.

Dari balik kaca kamar Agnes, memperlihatkan cahaya petir, sampai cahaya itu terlihat jelas walapun Agnes, di dalam selimut.

"Hiksss... Hiksss."

Gadis itu terus terisak, matanya menutup, sebuah bayangan masa lalu tiba-tiba saja terbesit di otaknya.

"Papah, jangan hiksss."

"Anak kurang ajar."

"Mas, sudah jangan siksa Agnes,"

Gadis itu menggelengkan kepalanya, matanya yang memeram ingin membuka, namun entah kenapa terus menutup, hingga bayangan tubuhnya di siksa oleh sang ayah terus ada.

"Hikss. Tidak, tidak." isak Agnes, terus saja menggelengkan kepalanya.

Semakin terbayang kala Agnes, dan sang ibu, di siksa oleh sang ayah hingga ibunya babak belur, dan hampir mati di tangan sang ayah.

"TIDAK." pekik Agnes, membuka selimut lantas meloncat dari ranjang.

Bugh.

Gadis Itu, menutupkan matanya serasa hangat karena tubuhnya saat ini sudah ada dalam dekapan Morgan, tepat saat Agnes, melompat Morgan, masuk kekamar Agnes, dan menangkap tubuh gadis itu.

"Bang Morgan," ucap Agnes, menatap Morgan, dengan mata sebab.

"Maaf, aku meninggalkan kamu di rumah sendirian." ucap Morgan, penuh dengan ketulusan.

"Hikss. Hikss. Kenapa pergi begitu lama? Abang, taukan kalo aku, takut banget sama petir? Aku. Aku sangat takut hikss." isak Agnes, memeluk erat tubuh Morgan.

"Iya, maaf." ucap Morgan, sambil mengelus kepala Agnes.

Morgan, membawa tubuh Agnes, ke ranjang menurunkannya, kemudian menidurkan gadis itu, tetapi baru saja dia akan melangkah keluar dari kamar Agnes, berniat ingin mengganti baju, tangan Agnes, dengan cepat menahan lengan Morgan.

"Jangan pergi lagi." pinta Agnes, matanya sudah merah dengan kantong mata sebab.

"Aku, hanya pergi ke kamarku untuk berganti baju." jawab Morgan, mengelus punggung tangan Agnes, menyakinkan gadis itu jika dia tidak pergi kemana-mana.

"Tapi."

Zedar

"Akhhh." teriak Agnes, mendengar suara petir begitu kencang.

Saking takutnya dia kembali bangun, dan melompat ke tubuh Morgan, menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Dengan pasrah Morgan, membawa Agnes, ke kamarnya.

Setelah sampai di kamar Morgan, kembali menurunkan Agnes, di ranjang memilih baju tidur, lalu masuk kedalam wc, dan menggantikan bajunya.

"Abang cepat." teriak Agnes, gadis itu benar-benar ketakutan karena hujan di luar masih deras dan petir masih senantiasa berkumandang.

"Kamu, itu takut petir atau ingin di peluk olehku?" goda Morgan, setelah kembali dari wc.

"Aku, benar-benar ketakutan. Bukan mencari kesempatan." jawab Agnes, kesal dengan bibir yang di gigit, karena takut.

Morgan, tersenyum melihat bibir Agnes, yang di gigit membuat bibir itu sexy, tangannya menarik leher Agnes, mendaratkan ciuman di bibir gadis itu.

Tidak seperti biasanya Agnes, langsung membalas ciuman Morgan, tubuh Agnes, di dekap dalam pelukan lelaki itu, membawanya kembali tidur, menarik selimut, lalu memeluk pinggang Agnes.

"Jangan takut, ada aku." ucap Morgan, sesaat setelah melepaskan ciumannya.

Agnes, menganggu mengerti wajahnya dia tenggelamkan di dada bidang lelaki itu, untuk malam ini Morgan, tidak ingin bermain dengan tubuh Agnes, melihat gadis itu ketakutan membuat rasa kasihan itu muncul.

"Tidurlah, aku akan terus di sampingmu." ujar Morgan, mengelus punggung Agnes.

Jujur saja Agnes, sedikit luluh dengan perlakuan manis Morgan, tetapi kelakuannya yang membuat dia muak, bersikap seolah-olah hanya dia yang bisa memerintah, Agnes masih gadis dengan pengetahuan luas, dia masih sekolah, tapi impiannya sekan hancur setelah dia bertemu Morgan.

"Entah benci atau cinta, aku tidak tau? Yang jelas untuk malam ini biarkan aku, merasakan kehangatan ini." hati Agnes, berbicara di lanjutkan dengan matanya yang memeram.

Tangan gadis itu memeluk pinggang Morgan, tanpa Agnes, sadari jika dia sekarang tidur di kamar Morgan.

Morgan pun ikut menyusul tidur saat dia melihat jika Agnes, sudah tertidur di pelukannya, kepalanya dia tumpangkan di atas kelapa Agnes, kedua tangannya setia memeluk tubuh Agnes, sambil mencium kilat kening gadis itu diapun terlelap tidur.
.
.
.
#TBC.

TUBUHMU MILIKKU!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang