Satu minggu Morgan, di rawat oleh Aiden, dan dokter yang setiap hari datang ke rumah Morgan. Selama satu minggu Morgan, di rawat belum ada tanda-tanda dia sadar, tubuhnya terbaring lemas tidak berdaya di ranjang, dan Aiden, selalu ada di samping Morgan.
Lelaki itu senantiasa merawat dan memberikan perawatan yang bagus kepada Morgan, sesuai apa yang di ucapan sang dokter pada Aiden. Bisa di bilang Aiden, itu tangan kanannya Morgan, orang kepercayaan sekaligus orang yang selalu Morgan, anggap dia adiknya.
Tali persaudaraan yang sangat kuat walaupun tidak memiliki hubungan darah apapun. Berawal dari saling tolong menolong, saling membagi pekerjaan, berakhir menjadi saudara yang begitu sangat erat.
Maka dari itu tak heran jika Aiden, sangat marah dan kecewa pada Agnes, bahkan dia mencibir Agnes, satu minggu lalu, karena sahabat dia. Yang dia kenal Morgan, itu tangguh dan orang anti bucin, anti berkorban demi seseorang, sangat anti menaruhkan nyawanya, wanita mana yang tidak di dapat oleh Morgan? Wanita seperti apa yang tak akan luluh oleh Morgan?
Kejam? Itu udah pasti sifat Morgan, tidak punya hati nurani, senjata selalu ada di tangannya hanya untuk melukai orang-orang yang paling dia benci. Sebelum Gansa, menikahi Zelita. Morgan, sungguh berutal sangat susah di atur, hingga waktu di mana sang ayah kembali menikah dan membawa istri serta anak tirinya kerumah, semuanya menjadi berubah.
Perilaku, sikap, attitude, benar-benar semuanya berubah. Memang adanya Agnes, mengubah Morgan, menjadi orang benar dan baik, tidak lagi memainkan wanita, tidak lagi mabuk-mabuk, tidak lagi jadi mafia bandel, tidak lagi emosional, dan sangat bijak, nan patuh pada perintah sangat ayah.
Tetapi perubahan itu hanya sementara saja, sementara saat dia bucin, dan saat Agnes, patuh pada Morgan. Hingga Agnes, melenceng mengungkapkan segalanya, mengeluarkan ucapan-ucapan yang mampu membuat Morgan, mundur dari perjuangannya, dan Morgan, kembali ke mode hancur dimana dia sangat hancur seperti sekarang ini.
"Tak heran kalo manusia udah buta oleh cinta, akal sehatpun jadi korban, bahkan segala sesuatu di lakukan. Sungguh bodoh!" umpat Aiden, memandangi wajah damai Morgan.
Morgan, menggerakkan jari jemarinya membuat Aiden, kaget. Pasalnya baru saja dia mengumpat mengucapakan kata-kata kesal, tangan Morgan, bergerak yang berarti dia sudah sadar.
"Apa dia denger apa yang baru saja gue, ucapin?" dumelnya masih setia menatap wajah Morgan.
Mata belo dengan bola mata coklat itu akhirnya membukakan matanya, meririk ke kanan dan kekiri, hal pertama yang Morgan lihat adalah Aiden, sedang duduk sambil tersenyum bahagia.
"Akhirnya." girang Aiden.
"Dimana Agnes?" tanya Morgan, membuat Aiden, memutarkan matanya malas.
Memang lelaki pantang menyerah. Sudah tau jika saat ini terbaring itu gara-gara Morgan, dengan nekat melindungi Agnes, menerima tawaran Zartin, untuk datang padanya seorang diri. Melawan Zartin, sendirian jika memang Morgan, tak ingin menyerahkan Agnes.
Dan hasilnya Morgan, di rawat selama 1minggu lebih. Sungguh Aiden, tidak habis pikir pada sahabatnya itu, baru saja bangun dan baru pulih hal utaman yang di tanyakan tetap Agnes.
"Nyesel gue, ngerawat lo, selama seminggu. Yang di tanyakan tetep cewek itu." kesal Aiden.
"Gue, tanya sekali lagi! Dimana Agnes?" tanya kembali Morgan, dengan nada bossy dan serius.
"Gak tau, tadi dia keluar." jawab Aiden, seadanya.
"Hah, sore gini? Ini cuaca lagi gak bagus, seharusnya dia tidak keluar." khawatir Morgan.
"Ih sumpah. Stop peduliin tuh cewek! Lo, tau gak? Lo, begini itu gara-gara dia. Masih aja care sama dia!"
"Lo, gak bakal paham dan gak bakal ngerti sama hati dan perasaan gue! nanti ketika Lo, dapat wanita yang benar-benar Lo, cintai dan bener-bener Lo, sayangin. Hal yang sama yang bakal Lo, lakuin ke cewek Lo, seperti apa yang gue, lakuin sekarang!" jelas Morgan, nadanya benar-benar dalam dan serius.
Aiden, menghela nafasnya. Mungkin benar apa yang di katakan Morgan, Aiden bersikap seperti itu karena dia belum menemukan seseorang yang tepat, dan belum menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai.
*****
Agnes, menyusuri jalanan seorang diri. Terlalu bosan di rumah segala hal di cegah oleh Aiden. Bahkan dia ingin sekali melihat keadaan Morgan, namun Aiden, mencegah! Jangankan untuk melihat tubuh Morgan, hanya memegang knop pintu kamarnya saja sudah tidak boleh.
Sungguh menyebalkan Aiden, itu. Tetapi Agnes, tau kenapa Aiden, bersikap seperti itu, dia kecewa dan kesal karena sikapnya terhadap Morgan, bahkan jika di cerna lagi ucapan Aiden, seminggu lalu. Luka-luka yang terdapat pada malam itu? Itu karena ayahnya sendiri, itu artinya Morgan, Diam-diam masih melindungi Agnes? Tapi, kenapa harus sampai terluka seperti itu.
salut juga sebenarnya Agnes, pada Aiden, tak di sangka Morgan, memiliki teman yang begitu peduli padanya. Mengingat kenangan Morgan, dan wajahnya tergambar jelas di otak, membuat hati Agnes, potek kembali. Apa lagi jika mengingat luka yang ada di tubuh Morgan, pada malam itu, sungguh mengerikan.
"Berikan aku satu gelas minuman yang non alkohol." pinta Agnes, pada barista di hadapannya.
"Baik." jawabnya memberikan segelas minuman yang di pesan oleh Agnes.
Gadis itu merogok HP dari dalam tasnya mengecek chat yang tak di balas oleh Zarel, sudah 3hari Zarel, hilang tak ada kabar. Di telpon tak aktif, di chat tak di bls, membuat mood Agnes, semakin hancur.
"Sebenarnya kemana dia ini?" dumelnya sambil terus memandang layar hpnya.
"2gelas minuman." teriak seorang lelaki pada barista yang saat ini berdiri di hadapan Agnes.
Entah kenapa suara itu seperti tidak asing di telinga Agnes? Sontak gadis itu memutarkan kepalanya secara perlahan dan melihat ada 2orang lelaki seperti sedang berbicara serius.
"Bukankah itu Zarel, dan ayah?" kaget Agnes.
Dia ingin mendengarkan percakapan apa yang di bicarakan keduanya? Namun agar tidak ada yang curiga gadis itu mengubah tampilannya. Rambut yang tadinya terurai kini dia ikat, jasnya dia buka, untung saja baju dalamnya tidak begitu sexy, lalu memakai topi yang entah milik siapa, kemudian memakai kaca mata dari dalam tasnya.
Agnes, berjalan secara perlahan duduk di antara 2jajaran dari Zarel, dan Zartin, kemudian dia duduk, sambil meminum yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Mau, sampai kapan kau, mendekati putriku? Cepat bertindak! Aku, ingin dia. Kali ini uangnya lebih besar! Tubuh Agnes, jadi keuntungan untukku."
"Sabar. Jangan gegabah, lagian kini dia tidak memiliki pelindung lagi, Morgan sedang sekarat bukan? Santai saja, beberapa hari lagi aku, akan menyerahkan Agnes, padamu."
"Tepati janjimu!" tekan Zartin.
Agnes, tersentak air liurnya sendiri mendengar percakapan antara Zartin, dan Zarel, jadi selama ini Zarel, bersekongkol dengan ayahnya? Jadi selama ini Zarel, sama sekali tidak mencintainya. Dia mendekati Agnes, hanya untuk membawa Agnes, ke Zartin.
"Dasar bedebah." umpannya pelan lantas berdiri dan kembali ke meja semula ia duduk.
Sekarang Agnes, mengerti kenapa Aiden, dan Morgan, selalu bilang jika dekatnya Agnes, dan Zarel, akan membawa bahanya, dan akan membuat dia berada di dalam situasi yang sangat sulit. Ternyata seperti ini kenyataannya.
Agnes, mengambil jaketnya bahkan dia kembali memakainya, membuka topinya dan kembali dia simpan di meja, kaca matanya dia buka dan di taruh kembali ke tas, dan ingin segera pergi dari club itu sebelum kedua manusia itu menemukannya.
"Disini sudah tidak aman!" ucap Agnes, pelan hendak membalikan badannya.
Bruk!
Brak!
"Akh." pekik Agnes, tubuhnya terjatuh ke lantai dengan perut terbentur ke meja.
Ketika Agnes, membalikkan tubuhnya entah dari mana seorang peria dan perempuan sedang bertengkar, membuat Agnes, terdorong kebelakang mengakibatkan perutnya terbentur ke meja.
Zarel, dan Zartin, yang melihat keributan itupun sontak kedua matanya melihat Agnes, berusaha berdiri dan pergi dari tempat itu, dengan darah mengalir di paha hingga betisnya.
"Itukan Agnes?" tunjuk Zarel, pada Agnes, yang sedang berjalan keluar club.
"Bagus. Dia sudah menyerahkan dirinya pada kita." bangga Zartin. "Tangkap dia." perintah Zartin.

KAMU SEDANG MEMBACA
TUBUHMU MILIKKU!
Teen Fictionmengandung cerita dewasa 18 sampai 21++ mau lanjut baca ya udah tanggung sendiri. jangan lupa setelah membaca tinggalkan ⭐, follow, dan komen ya guys. ****** punya abang lelaki itu emang menyebalkan apa lagi jika abang tiri seperti Morgan, selalu m...