Ungkapan

4.5K 46 1
                                    

Pagi hari yang begitu sangat mendung, hujan begitu lebat dengan sambaran kilat, angin sangat kencang menyapu daun-daun yang berserakan di tanah, sungguh pagi yang begitu sangat dingin.

Agnes, terduduk di sisi ranjang memandang kaca yang terguyur hujan, air mengalir begitu deras dari kaca di luar sana, sesekali pandangannya ia alihkan kelangit yang menurunkan hujan, bibirnya mengukir senyum indah, walaupun sambaran kilat begitu terbesit jelas di pandangannya.

"Sepertinya aku, sudah tidak takut lagi dengan petir. Aku, mulai terbiasa dengan petir, walaupun kilatnya begitu silau, bahkan mungkin jika terkena akan mati! Tapi aku mengerti sekarang. Jika aku, menyerahkan diri pada petir mungkin aku, akan tersambar dan mati, namun jika aku menyerah diri pada hujan? Mengguyur tubuhku selama seharian oleh air hujan. Aku, akan sakit, namun tidak akan sampai mati."

"Dari petir dan hujan, sekarang kamu mengerti kan, apa perbedaan di keduanya? Seperti aku, yang berjuang mendapatkan hatimu, mati-matian aku, berusaha melindungimu, dan berusaha juga untuk selalu ada di sampingmu." sambung Morgan.

Agnes, merasa hatinya kembali potek jika membahas perjuangan Morgan, untuknya. Namun itu semua yang sudah terjadi, mau bagaimana lagi? Sekarang dia akan membuka hatinya lebar-lebar untuk menerima Morgan, di dalam hidupnya.

"Bukan hal yang mudah menaklukkan hati seseorang. Seperti petir, walaupun kilatnya terang, sambarannya mematikan bak listrik, bukan berarti petir langsung menghampirimu, dan kamu langsung mati begitu saja. Petir juga ada jangkauan, ada tempatnya, dan ada batasnya." Agnes.

"Tapi... Sebenarnya air hujan juga dapat membunuhmu sama seperti petir, namun bedanya air hujan membunuh secara perlahan, dan petir membunuh secara langsung." Morgan.

"Jika kamu mengerti bagaimana cara menangani hujan, kamu tidak akan mati. Tetap saja hujan dan petir itu berbeda! Hujan masih bisa di tangani, namun petir? Sudah konsisten seperti itu." potong Agnes, dengan senyuman menang di bls senyuman hangat oleh Morgan.

"Intinya. Kini cintaku terbalaskan, seperti aku, terguyur hujan aku hampir mati, tetapi aku, bisa menanganinya dan aku, sembuh kembali. Seperti itu perjuanganku mendapatkan kamu Agnes,"

"Maaf, untuk momen beberapa waktu kebelakang! Aku, tidak menyangka ternyata Zarel, anak buah ayah, aku kaget banget pas waktu di bar."

"It's ok Baby, yang sudah lewat biarlah berlalu. Sekarang aku, sedang memikirkan bagaimana untuk aku, menanam benih lagi? Aku, sungguh ingin seorang anak."

"Ini masih pagi Loh? Sebentar lagi mamah, bakal ngetuk pintu untuk sarapan." elak Agnes, tak habis pikir dengan Morgan, sungguh mesum.

"Tapi pagi ini cuacanya enak Loh... Lagi hujan cocok banget buat kita bikin debay." bisik Morgan, manja meminta jatah.

Tok! Tok! Tok!

Nah kan, baru saja Agnes, berucap dan benar saja Zelita, datang mengetuk pintu, dan membuat mood Morgan, hancur.

"Agnes, Morgan, ayo sarapan." teriak Zelita, membuat Agnes, merasa senang.

Wajah Morgan, jadi cemberut, bibirnya manyun, hasratnya sudah naik, sungguh dia ingin menguasai tubuh Agnes, di tambah sudah hampir 2bulan lebih Morgan, tidak melakukan itu.

"Mamah, kenapa mengganggu." kesal Morgan, merengek.

"Udah yuk, sarapan dulu. Kasian mamah, sama papah, udah nungguin di bawah." ucap Agnes, menahan senyum melihat Morgan, sangat murung. Pada akhirnya Morgan, hanya pasrah dan menurut saja.

Di meja makan Morgan, Agnes, Zelita, Gansa, dan Aiden, tengah makan bersama di pagi dengan guyuran hujan lebat di luar sana.

"Heum." dehem Zelita, seperti sebuah isyarat.

"Mamah, kenapa Keselek? Agnes, ambilkan minum ya."

"Mamah, bukan keselek. Mamah, emng sengaja berdehem." tolak Zelita, matanya menatap sang suami agar berbicara.

"Agnes, Morgan," panggil Gansa, membuat orang yang di panggil langsung menatap. "Mamah, sama papah, udah putuskan untuk menikahkan kalian, lusa." sambung Gansa.

Agnes, dan Morgan, melotot kaget. Apa mereka berdua sangat yakin dengan pendengaran mereka? Atau ini hanya mimpi? Bahkan Aiden, juga ikut kaget, sampai menghentikan suapannya.

"Menikah?" ucap Morgan, seakan tidak percaya.

"Lusa?" timpal Agnes.

"Wah.... Akhirnya bos aku, akan menikah." girang Aiden, tidak bisa di kontrol wajah bahagianya.

"Kalo mamah, gak salah ingat besok itu hari terakhir kamu sekolah kan. Besok kamu udah ke lulus?"

"Iya. Mah, tapi... "

"Apa lagi yang di ragukan?" potong Gansa.

"Agnes, bukan ragu soal pernikahan Pah," jawab Agnes, menghentikan ucapannya.

"Lantas tentang apa?" tanya Morgan.

"Soal ayah. Sampai kapanpun mereka akan terus mengejar Agnes, karena apa yang dia mau belum tercapai, bagaimana menghadapi ayah dan segala kelakuan bejadnya untuk waktu yang akan mendatang?" jawab Agnes, secara tegas.

"Mamah, sudah memikirkan hal itu bersama mas Gansa, kamu ingat Agnes, kalo ayahmu selalu menyiksa kamu dan mamah? Dan sekarang dia menjadi brutal."

"Apanya yang lebih brutal mah?" tanya Agnes, sangat penasaran.

"Dia telah memperjualbelikan seorang gadis, bahkan sudah banyak gadis yang selalu memuaskan nafsu ayahmu. Dia berusaha, segala sesuatu di lakukan untuk mendapatkan seorang gadis. Kamu ingat Agnes? Di sekolahmu ada 2gadis yang hilang, hingga sampai sekarang belum di temukan?"

"Iya. Agnes, ingat sekali." jawab Agnes.

"Itu pelakunya Zartin, dia menyuruh anak buahnya untuk menculik 2gadis itu setelah mereka pulang sekolah." jawab Zelita, pasti.

"Bagaima Mamah, tau kalo Zartin, melakukan semuanya?" tanya Morgan.

Zelita, tersenyum menang kemudian dia meririk ke arah Aiden, dengan Aiden, juga sama halnya meririk Zelita, pada akhirnya keduanya jadi saling pandang memandang.

"Kamu gak tau ya, kalo Aiden, itu seorang detektif yang menyamar untuk menangani kasus ini. Setelah mamah, menikah dengan papah kamu. Mamah, tak sengaja bertemu dengan Aiden, di alfamart. Dari sana dia mengintrogasi mamah, dan pada akhirnya kami saling membantu." jelas Zelita, membuat ke3 orang kaget tak menyangka.

Morgan memandang Aiden, dengan tangan mengepal keras, kesal rasanya punya sahabat bertahun-tahun namun malah menyembunyikan identitasnya, sungguh menyebalkan.

"Jadi selama Lo, sahabatan sama gue. Lo, sembunyikan identitas. Sumpah parah Lo!" amuk Morgan, melemparkan sendok dan garpu ke arah Aiden.

"Sabar Bro. Ini semua demi pekerjaan gue, dan ini juga demi Agnes, sama Lo, biar gue, punya bukti banyak buat jeblosin Zartin dan Zarel, ke penjara." jelas Aiden, sambil menghindari serang dari Morgan.

"Hais nyebelin! Terus kenapa kamu, mencibir aku?" kini Agnes, bersuara.

"Itu karena aku memang kesal. Susah payah Morgan, memperjuangkan kamu, eh... Kamu malah milih Zarel, bagaimana saya tidak kesal." jawab Aiden.

"Itukan aku, tidak tau kalo Zarel, sama bejadnya dengan ayah."

"Jadi kalo misalnya Zarel, baik? Saat ini kamu masih bersamanya?" tanya Aiden, di tatap serius oleh Morgan, membuat Agnes, gelagapan.

"Ti-tidak. Aku, akan tetap kembali ke bang Morgan," jawab Agnes, menyengir kuda.

"Sudahlah. Kini papah sama mamah, mau memikirkan pernikahan kalian lusa, untuk gaun mamah kamu udah pilihkan buat kamu, dan untuk resepsi papah, sama Aiden, juga udah mempersiapkan semuanya."

"Jadi kalian tinggal tunggu hari di mana hari bahagia itu datang."  timpah Zelita.

Agnes, dan Morgan, tersenyum bahagia. Tak di sangka akan secepat itu. Namun mereka tidak menyadari ada seseorang yang sudah menguping di balik kacang luar sana.

"Jadi seperti itu permainan kalian." ucapnya dengan senyuman devil, dan pergi setelahnya.

TUBUHMU MILIKKU!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang