Pagi sekali Agnes, bangun padahal semalam dia tidur sangat larut, karena setelah bercinta dengan Morgan, gadis itu merawat luka Morgan, barulah tertidur.
Mengingat hari ini hari minggu, hari libur semua orang berada di rumah, jadinya Agnes, bangun lebih pagi karena takut jika ayah ibunya, masuk kekamar dirinya, namun Agnes, tidak ada di kamar, malah ada di kamar Morgan, kan bisa bahanya.
Tidak begitu bahannya sebenarnya, namun ya sudah Agnes, cari aman saja.
Dengan pelan dan hati-hati gadis itu turun dari ranjang Morgan, berjalan secara perlahan kearah pintu, memutar knop pintu, kemudian membukanya lalu menutupinya secara perlahan.
Dengan cepat dia berlari kecil ke masuk kamarnya, kemudian mandi dan bersiap diri. Setelah selesai bersiap gadis itu duduk di pinggir Kasur dengan mata menatap dirinya dari pantulan cermin.
Memikirkan kejadian yang sudah terlewat selama satu hari, tentang penculikan kemarin, yang membuat dirinya sadar jika sang ayah memang sebejad itu.
"Kamu, kok belum turun sayang? Emang gak lapar." sapa Zelita, masuk kedalam kamar Agnes, karena khawatir anak gadisnya tidak kunjung turun untuk sarapan.
"Belum mah, nanti kalo lapar Agnes, turun." jawab Agnes, tersenyum memaksa.
Zelita, sedikit tidak biasa melihat Agnes, yang bengong melihat dirinya sendiri di pantulan kaca, terlihat seperti ada yang sedang di pikiran gadis itu.
"Agnes, apa kamu ada masalah?" tanya Zelita, yang peka terhadap perubahan Agnes.
Agnes, memandang sang ibu yang duduk sejajar dengannya di pinggir kasur, lalu membenarkan duduknya agar berhadapan dengan sang ibu, secara netral.
"Mah, tapi jangan cerita sama papa ya? Aku, takut papa khawatir." pinta Agnes, wajahnya resah, sorot matanya memperlihatkan khawatir di sana.
"Iya. Kamu cerita dulu, baru mama bisa janji antara iya atau tidaknya." tukas Zelita, memegangi tangan Agnes.
"Kemarin waktu pulang sekolah aku di culik sama beberapa orang, mereka bilang aku, akan di jual sama ayah, itu berarti mereka anak buah ayah," jelas Agnes, secara hati-hati.
"Apa? Kamu di culik?" Pekik Zelita, suaranya sampai terdengar sampai keluar dari kamar Agnes.
"Mah, shut. Jangan berisik." panik Agnes, jarinya telunjuknya dia tempelkan di bibirnya sendiri.
"Kok bisa, kenapa baru cerita sekarang? Kamu baik-baik ajakan? Gak ada yang lukakan?" tanya Zelita, sungguh panik.
"Aku, baik-baik aja. Tapi bang Morgan, kondisinya buruk, dia terluka mah," isak Agnes.
"Morgan, terluka? Kenapa bisa seperti ini? Separah apa lukanya?" sungguh Zelita, khawatir dan panik bukan main mendengar kedua anaknya dalam bahannya.
"Siapa yang sudah berani menculik kamu?" tanya Gansa, yang tak sengaja mendengar pembicaraan Agnes, dan Zelita.
"Papa? Papa, ngapain?" panik Agnes, berdiri memandang sang ayah.
"Kamu yang kenapa? Kenapa baru cerita sekarang? Itupun kau, bercerita hanya pada ibu." kesal Gansa, walaupun Agnes, anak tirinya tapi dia sudah menyayangi Agnes, seperti putrinya sendiri, apa lagi setelah mendengar cerita yang begitu pedih Agnes, dari Zelita.
"Aku, gak mau buat kalian khawatir. Bang Morgan, sudah jadi korban, gara-gara melindungi ku." jelas Agnes.
"Sayang, kamu itu anak papa, wajib kamu bercerita sama papa, apapun yang terjadi sama kamu, jangan hanya cerita sama mama, tapi harus sama papa, juga." ungkap Gansa, memegangi kedua bahu Agnes, sambil memandang gadis itu secara tulus.
"Tapi... Inikan masalah Agnes, dan ayah Agnes, aku tidak ingin papa kenapa-napa dalam urusanku, bang Morgan, saat ini sedang terluka, aku gak mau ada yang tambah terluka gara-gara aku." jelas Agnes, bola matanya mulai mengeluarkan air mata ketika mengingat luka Morgan.
"Tetap saja Agnes, kamu itu sekarang sudah jadi anak papa, gak boleh kaya gitu." Gansa, menjadi merasa bersalah karena tidak bisa melindungi anaknya.
"Dia adalah ayah yang kejam, bejad, dan gila, jika mana keinginan dia, belum tercapai dia akan terus mengejar, orang yang melindungi aku, akan terluka pah."
"Sayang, tenang ya. Papa sama mama, pasti bakal lindungi kamu, jangan di pendem sendiri." ucap Zelita, merangkul pundak Agnes, menenangkan anak gadisnya.
Gansa, memandang dalam wajah Agnes, yang begitu khawatir dan ketakutan, sorot mata gadis itu tidak teduh, dan tenang, melainkan risih, dan gelisah.
"Aku, ingin berbicara dengan Morgan," Gansa, keluar dari kamar Agnes, meninggalkan Agnes, dan Zelita.
*****
Gansa, dan Morgan, saat ini sedang duduk di sofa di dalam ruangan kerja Gansa, peria itu memandangi putranya yang sudah dewasa dan sudah pantas memiliki istri.
Namun pembahasan kali ini bukan kesana, melainkan bagaimana caranya melindungi Agnes, dari serangan ayahnya.
"Pah, Agnes cerita semua?" tanya Morgan, yang sedang bersandar di kelapa sofa.
"Tidak semua. Hanya poin pentingnya saja." jawab Gansa, memutarkan jarinya di bibir gelas.
"Jadi? Apa yang akan papa, rencanakan? Aku, tidak ingin Agnes, dan mamah, terancam lagi sama manusia biadab itu." tanya Morgan, karena jujur dia sangat menyayangi mamah tirinya itu.
"Itu yang sedang papa, pikiran. Tapi bukannya kamu itu ketua mafia? Mafia, yang di pimpin oleh dirimu sendiri, dan di dirikan olehmu sendiri? Kenapa kamu bisa terluka?" heran Gansa, memandangi luka yang ada di pinggang putranya.
"Namanya juga 1lawan banyak, mereka keroyokan." jawab Morgan.
"Apa Zartin yang menyerangmu?" tanya kembali Gansa, dengan wajah serius.
"Heum. Awalnya anak buahnya yang menyerang meminta agar aku menyerahkan Agnes, pada mereka." jawab Morgan, tampak berpikir.
"Katanya ketua mafia, kok di serang begitu aja kao." ejek sang ayah membuat Morgan, mendelek tidak suka.
Jangan tanya dari mana Gansa, tau jika Morgan, seorang pemimpin ketua Mafia, yang memang di bangun oleh Morgan, sendiri.
Di saat usia Morgan, 8thn Gansa, memasukan putranya kedunia persilatan, dari sana Morgan, orang yang paling mahir berkelahi, bukan tidak tau jika di saat Morgan, menginjak usia 20th masuk kedalam lingkungan Mafia.
Gansa, tau jika putranya masuk ke lingkungan ganas, bahkan Gansa, mendukung Morgan, untuk membangun Mafia atas namanya sendiri, namun dengan syarat kemampuan yang dia punya jangan di salah gunakan.
Saat Morgan, mempermainkan wanita, meniduri wanita malam. Gansa, tau dia membiarkannya tetapi saat Gansa, bertemu dengan Zelita, dan berniat menikahinya Gansa, berpesan pada Morgan, agar tidak memainkan wanita lagi, atau meniduri wanita lagi, dan jangan bersikap arogan.
Di saat jadi Mafia Gansa, meminta agar Morgan, menjadi mafia yang berhati nurani, tidak menjual barang ilegal, pada intinya Morgan, harus jadi mafia yang baik dan tidak memberontak.
Lantas dari mana yang di sebuah mafia? Jika Morgan, sendiri di batasi semua itu? Entahlah, namun Morgan, menurut dan hanya setia pada satu wanita yaitu Agnes.
"Lindungi terus Agnes, jangan sampai ada yang lecet sama anak gadis papa." perintah Gansa, secara serius.
"Gak mungkin aku membiarkan gadisku terluka apalagi sampai lecet." jawab Morgan, membuat Gansa, geleng-geleng kepala.
Ya, Gansa mengetahui jika putra sulungnya itu sangat mencintai Agnes, bahkan Gansa, tau jika Morgan, suka berbuat hal aneh pada Agnes.
Memangnya. ayahnya bucin sama Zelita, anaknya bucin sama Agnes, perpaduan anak sama ayah yang kompak.

KAMU SEDANG MEMBACA
TUBUHMU MILIKKU!
Teen Fictionmengandung cerita dewasa 18 sampai 21++ mau lanjut baca ya udah tanggung sendiri. jangan lupa setelah membaca tinggalkan ⭐, follow, dan komen ya guys. ****** punya abang lelaki itu emang menyebalkan apa lagi jika abang tiri seperti Morgan, selalu m...