Chris menarik tangan Hyunjin untuk mendekat padanya. Merangkul pinggang ramping itu dengan posesif di sebelah lengan kekarnya. Hyunjin menoleh sangsi. Sementara Chris tidak peduli. Dilihatnya tempat ini cukup berkelas dan mewah. Bahkan tadi Hyunjin memerlihatkan sebuah kartu pada penjaga di depan pintu sebelum masuk. Tidak ada awak media dan sepertinya pesta tertutup para pengusaha. Beberapa dari mereka pernah dia temui di rapat bisnis.
Hyunjin sendiri sedikit mengerutkan keningnya karena Chris tidak bertanya macam-macam. Memasang seri simpul di wajah dengan lesung pipi yang berlekuk dalam. Hyunjin akui, Chris terlihat memesona dengan setelan jas yang kasual—kaus putih di dalamnya dan tatanan rambut pirang yang sedikit acak—dibanding setelan kakunya yang beberapa kali Hyunjin lihat ketika lelaki pirang itu hendak pergi menyibukkan diri dengan urusan kantornya.
Dia sendiri hanya memakai kemeja putih dan rompi hitam yang membalut tubuh hingga lekuk rampingnya benar-benar terlihat memukau. Tidak lupa celana kain dan sepatu pantofel hitam. Kemejanya tidak dia masukkan ke dalam celana, membiarkannya terurai pendek terhimpit rompi, juga lengan kemeja panjang yang digulung asal sampai siku. Bahkan dua kancing kemeja teratas sengaja dibuka. Ditambah sentuhan kasual lainnya, tentu saja, dengan aksesoris di telinga, leher, jemari, dan pergelangan tangan. Hyunjin suka seenaknya memang di acara formal seperti ini.
"Jangan jauh-jauh dariku," bisik Chris tepat di telinganya ketika mereka baru saja mau mengambil minuman di meja hidangan.
"Aku bahkan gak ke mana-mana," balas Hyunjin malas.
Si Legam berjalan ke arah dua orang yang menyapanya ketika dia lewat. Tugas Chris cuma mengekori Si Legam dan sesekali mendengar apa yang mereka bicarakan. Basa-basi kabar dan penampilan saat ini, selebihnya soal bisnis dan saham.
"Oh, gak kamu kenalin orang di sebelahmu, Hyunjin?" tanya satu orang yang dari tadi salah fokus dengan lengan kokoh di pinggang Si Manis.
"Dia?" Hyunjin menunjuk sekilas Chris di sebelahnya dengan gelas wine di tangan. "Dia budakku."
Orang itu mengangkat sebelah alisnya ragu, sedangkan Chris mengangkat sebelah alisnya karena sangsi. Padahal di lain sisi Hyunjin itu budak sebenarnya. Benar-benar topeng yang bagus dengan wajah angkuh itu. Padahal choker di lehernya sudah memberi sinyal bahwa Hyunjin pihak yang berada dalam bawah dominasi sekarang.
Lelaki berambut cokelat itu tertawa kecil. "Lelucon yang bagus. Ngomong-ngomong, kamu nanam saham di BC dan HO? Kedua perusahaan itu kerja sama dan kayaknya prospektifnya bakal naik."
"Kedua perusahaan itu stabil," komentar Hyunjin, lalu menyesap isi gelasnya.
Chris melirik sekilas. Tertarik dengan pembicaraan ini.
"Saya coba menanam saham di sana. Ternyata lebih mahal daripada yang saya kira," timpal seorang lain berambut kelam.
"Saya juga," sahut Si Rambut Cokelat. "Mereka berkemungkinan turun bersama ke pasar internasional."
"Gak heran, perusahaan besar," celetuk Si Kelam.
"Wait, HO kan emang perusahaan multinasional," timpal Hyunjin. Dua kenalannya mengangguk.
"Gak mau coba nanam saham dari perusahaan multinasional lokal, Hyunjin?" saran Si Cokelat.
Hyunjin menggeleng setelah menandaskan isi gelasnya. "Prospek perusahaan asing lebih menggiurkan."
"Tapi terlalu berisiko kalau ada likuiditas atau korupsi," komentar Si Kelam.
"Ya hati-hati dong mainnya, Changbin. Emangnya kalian gak mau nyoba main keluar sana?" tanya Hyunjin.
Changbin dan Si Cokelat saling pandang ragu. Hyunjin berdecak kecewa.
"Kalau gitu saya permisi, Tuan-Tuan." Hyunjin pamit pergi dari hadapan keduanya dan melenggang lebih dulu. Meninggalkan Chris yang menatap Changbin sekilas, lalu segera menyusul Hyunjin yang kini sudah bertengger di salah satu kursi bar.
Chris duduk di sebelahnya dan mengerang dalam hati karena kini Hyunjin berbicara dengan seorang pengusaha asing, dengan bahasa asing. Sialnya, bukan Inggris. Ini semacam bahasa Prancis, pokoknya Chris tidak mengerti. Dia tidak tahu Hyunjin bilingual sampai level ini. Entah berapa bahasa yang dia kuasai untuk hal ini.
Mereka terlihat melakukan kesepakatan. Senyum simpul Hyunjin melebar dan mereka berjabat tangan tanda setuju setelah saling tukar kartu nama. Setelahnya, lelaki kulit putih itu pamit pergi dari sana untuk menemui tamu lainnya. Hyunjin menoleh pada Chris dengan binar antusias.
"Senang?" tanya Si Pirang.
Hyunjin mengangguk semangat. "Cukup." Senyumnya belum luntur. "Hng ... Chris, aku ke toilet dulu, ya?"
"Aku ikut."
Si Legam membolakan matanya. "Pake ikut segala."
"Yang kebelet kan gak cuma kamu."
Hyunjin memimpin jalan. Sengaja memilih toilet di dekat jalan menuju basement. Sambil berjalan, Hyunjin tersenyum geli dalam hati. Rencana kaburnya kali ini harusnya berjalan lancar. Hyunjin heran ketika keluar dari rumah Chris, choker di lehernya tidak bereaksi. Mungkin ada hubungannya dengan Chris. Bisa jadi Chris adalah kuncinya. Hyunjin bahkan dari tadi mencoba memberi jarak pada Chris untuk memastikan apa dia akan kenapa-napa kalau berada jauh dari Chris, dan tidak terjadi apa-apa. Mungkin sensornya dimatikan Chris dan keberadaan Si Pirang di sini hanya sebuah gertakan.
Berbelok ke kanan, Hyunjin masuk ke toilet dan masuk ke salah satu bilik tertutup. Hyunjin diam di dalamnya, menunggu sampai langkah sepatu pantofel Chris ikut masuk ke bilik tertutup di sebelah. Hyunjin segera membuka pintu perlahan dan mengintip keluar. Sepi, tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua. Hyunjin itu sudah ahlinya kabur. Jadi dia bisa pergi dengan mudah tanpa suara.
Setelah keluar dari toilet, Hyunjin menuju arah basement. Manik legamnya mengedar menyapu pandangan untuk memeriksa apa ada Jeongin di sekitar. Karena tadi mereka disopiri Jeongin kemari sekalipun aura kemusuhan Hyunjin benar-benar pekat untuk Si Rubah satu itu. Sejak awal pertemuan mereka, Hyunjin jadi tidak suka pada Si Pemuda Yang itu sampai menolak ingin melihatnya lagi. Namun lagi-lagi, dia tidak punya pilihan.
Hyunjin meraba choker-nya. Masih aman. Lantas berlari menuju pintu keluar basement. Berusaha menghindari CCTV dan berpindah melewati jalur titik buta. Namun, belum sampai ke gerbang kebebasannya, Hyunjin ambruk. Jatuh berlutut sambil mengerang kecil memegang choker-nya. Dia tersengat lagi. Apa Chris menyadari dia tidak ada hingga sensornya dinyalakan lagi? Apa choker ini punya batasan jarak dengan kuncinya?
"Argh!" teriak Hyunjin agak keras karena matanya mulai berkunang-kunang. Sengatan listriknya masih mengaliri setiap inchi tubuh hingga bergetar kecil dan Hyunjin masih bersikukuh menarik dirinya lebih jauh untuk keluar dari basement.
Dirasakannya tubuh melemas. Lalu kepala mencium beton pelataran parkir. Matanya memberat ketika ada seseorang mendekat. Hyunjin cuma bisa merasakan sakit sekujur tubuh sebelum memejamkan mata rapat.
Aliran listriknya berhenti kala sang pengguna choker kehilangan kesadarannya. Seseorang membopong Hyunjin sedikit kasar menuju sebuah mobil. "Di sini kamu rupanya. Pintar sembunyi juga kamu."
Sementara itu, Chris yang panik karena tidak menemukan Hyunjin di toilet langsung melesat menghampiri mobilnya yang terparkir bersama Jeongin di sisinya. Tidak lupa dia minta tolong pacarnya Felix itu untuk memeriksa seluruh ruangan pesta untuk menemukan Hyunjin.
"Ayen!" seru Chris sambil tersengal sebab berlari dari pintu belakang basement ke bagian depan karena mobilnya terparkir di sana. "Kamu lihat Hwang Hyunjin?!"
"Tidak, Tuan. Bukannya Tuan Hyunjin di dalam bersama Tuan?" tanya Jeongin heran.
"Dia kabur lagi."
"Tapi—"
"Choker-nya udah berhenti bereaksi, berarti Hyunjin udah pingsan lebih dari seratus meter dariku. Ayo cari! Pasti belum jauh," potong Chris setelah memeriksa ponselnya di mana aktivitas choker itu sudah berhenti satu menit yang lalu. Tanpa reaksi, tidak bisa dilacak. Sial!
TBC
.
.
.
.
.
.
.—by devilbrush.
Don't forget to vomment, 여러분~!

KAMU SEDANG MEMBACA
How to Escape
ФанфикBebas adalah hak seluruh makhluk hidup. Bebas itu pilihan. Bebas itu prinsip. Maka jika tidak bisa bebas, melarikan diri adalah cara pertama. Biar kuberitahu caranya di sini.