Satu minggu kemudian, Alex akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Raut wajah pertama yang ia pandang, ada wajah Arsen yang tenang membaca buku di kursi dekat ranjang rumah sakit. Ia duduk seperti seorang pangeran yang tengah khusyuk membaca, dengan bibir yang sibuk menelaah setiap kata di dalam lembaran buku itu.
"eng.." suara serak Alex,
"kau sudah sadar?" Tanya Arsen dengan lembut, tangannya memeriksa wajah dan tubuh Alex dengan cermat,
Alex hanya menatap pemuda tampan itu dengan tatapan lemah, di benaknya, ia masih dibuat bingung dengan segala sikapnya. Sikap lembut semacam ini, benar-benar tidak cocok dengan Arsen yang dikenalnya.
Tak berapa lama, dokter dan perawat datang. Mereka dengan sigap memeriksa kondisi Alex dengan menyeluruh.
"Bagaimana? Bisa ku bawa pulang? Kami punya dokter pribadi" ucap datar arsen,
"Maaf, dia baru saja membuka matanya, itu terlalu beresiko.. " jawab dokter dengan hati-hati,
"Aku tidak perduli, dia akan baik-baik saja.. aku pastikan itu... "
"Kondisinya untuk saat ini memang stabil, tapi jika harus keluar dari rumah sakit.. hhmm.... "
" Baiklah, pastikan dalam waktu 3 hari kedepan, kondisinya kuat untuk kubawa pulang" tegas arsen,
Alex yang mendengar percakapan itu, rasanya seperti de ja vu. Ia memicingkan pandangannya, dan melihat tangannya yang penuh dengan selang.
***
Hening..
Beberapa kali alex melirik sosok Arsen yang masih tenang dan hanyut dalam bukunya. Sesekali ia membenarkan posisi duduknya, dan tangannya sibuk membolak balikkan kertas di buku itu. aroma bunga yang ia masukkan ke dalam vas bunga, semerbak mengelilingi ruangan serba putih itu.
" Sampai kapan kau mau melihat dengan cara aneh seperti itu?" tanyanya,
"Apa kau sudah puas?"
Dia mendongakkan kepalanya, dan memandang wajah pucat Alex. Dia menatap lekat pemuda yang terbaling lemah di atas ranjang itu.
"sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan kedua kakiku, bahkan perutku rasanya mati rasa. Apa kau sudah puas? " lanjut Alex mendesak,
"Diam!" tegas arsen,
" Jika hari itu aku tidak selamat, kau tidak akan merasa bersalah sama sekali.. "
"Aku bilang DIAMM" suara arsen mulai meninggi,
Alex terdiam, ia menelan ludahnya dan menahan kata-kata pahit yang ingin ia muntahkan ke wajah Arsen. Beberapa kali alex menarik nafas panjang dan dalam, pandangannya ia lemparkan jauh ke arah lain. Ada pikiran buruk, bagaimana jika tubuh itu tak lagi bisa bergerak seperti sebelumnya?
"kau harusnya bersyukur, aku ada disini.. " ungkap Arsen tanpa ada nada bersalah,
Alex hanya dapat menahan tangisnya, ia masih ingat tentang bayangan ayahnya yang memeluknya di dalam ambulance.
"Dimana ayahku? Aku ingin bertemu dengannya.. " pinta Alex,
"Aku sudah mengusirnya.. " kata Arsen datar,
" APAAA!!" bentak Alex, yang langsung diikuti dengan suara ringis kesakitan,
"Kau sudah bukan lagi anaknya, kau adalah milikku" tegas Arsen, lalu ia berdiri dari tempat duduknya, dan beranjak pergi begitu saja.
***
Hari berikutnya,
Seorang perawat datang membawa makanan kepada Alex. Dia menaruh bubur yang sangat lembut dan pudding di atas meja kecil itu, kemudian perempuan paruh baya itu menjelaskan kepada alex, tentang kondisinya dan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan. Alex hanya mengangguk pelan, sementara Berlin mencatat semua kata-kata dari perawat dengan seksama. Lalu perawat itu pergi begitu saja.
Berlin menatap Alex yang terlihat tidak berselera dengan makanannya.
"ada apa alex?" tanyanya khawatir,
"Aku hanya tidak mood makan.. "
"Kau bosan?"
"Aku kesal pada bosmu.. "
"Ah.. begitu... " jawabnya dengan menghela nafas berat,
Tangan lemah alex mulai mengangkat gagang sendok itu, pelan. Namun dengan tenaganya sekarang, rasanya mengangkat sendok seperti mengangkat besi yang berat. Akhirnya, belum seperempat terangkat, sendok itu terjatuh dan membuat kotor selimutnya.
Tiba tiba saja, suara pintu terbuka dengan kerasnya, bersamaan dengan suara berisik yang keluar dari mulut vau.
"Aleeexxx... " teriaknya dengan haru,
"Vau, mark?"
"ya ampun, gimana sih.. biar aku suapin.. sini.. " kata Vau dengan semangat, lalu mengangkat sendok itu dan menyuapi alex dengan lembut,
Mark datang dengan tenang, lalu duduk di sebelah Vau. Namun tanpa sadar, melihat kedua sahabatnya, air mata Alex jatuh dan semakin derah tak tertahankan. Vau yang melihat itu, langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Tenanglah, kita akan selalu ada di sisimu.. " ucap Mark menenangkan,
"Bagaimana kondisi kalian? Apa arsen melakukan hal buruk pada kalian?" tanya Alex sembari sesenggukan,
" Selain menelpon pagi pagi buta sambil marah-marah, yah, semua aman" jawab Mark, sembari kesal
Vau menjelaskan dengan lembut kepada alex tentang kejadian dimana Arsen yang tiba-tiba menelpon mark di pagi buta, sembari marah-marah menyuruh mereka menemani alex dan membuatnya nyaman. Mark yang mendengar kata-kata Arsen saja, sedikit banyak mulai terpancing emosinya.
Alex hanya mendengarkan cerita Vau dan Mark, sementara Berlin hanya menatap kosong ke arah tiga anak muda yang sibuk bercerita. Setelah mendengar ceritanya, Alex hanya tertegun penuh kebingungan. Di dalam pikirannya, ia terus bertanya – Tanya " sebenarnya apa yang diinginkan arsen?"
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my doll || GeminiFourth ||
FanfictionBagaimana jika seorang pecandu judi bertemu dengan seorang pewaris yang sadis, putra konglomerat dan mafia terkenal? Alex, pemuda berumur 20 tahun . Lahir di keluarga yang kaya membuatnya salah pergaulan dan menjadi seorang penjudi ulung. sayangnya...
