***
suasana sore itu sedikit mendung, kendaraan yang membawa dokter Zen mulai terhenti di salah satu penginapan dengan pemandangan laut yang luas. lelaki itu keluar sembari membawa tasnya, terburu-buru hingga tak melihat dengan seksama Jun yang menyambutnya.
"Dimana pasiennya?" tanya dokter Zen tergesa-gesa,
" di dalam kamar"
Jun membawa dokter Zen ke hadapan Arsen yang sudah tergolek lemas. beberapa saat, dokter Zen sedikit tertegun karena tak menyangka akan bertemu kembali dengan Arsen setelah beberapa tahun. namun ia adalah dokter, tak mungkin baginya untuk mengindahkan penyelamatan manusia hanya karena orang itu adalah Arsen. dia segera memerintahkan beberapa orang untuk mengambil tabung oksigen dan peralatan-peralatan lainnya dari dalam mobil. pelan-pelan, dokter Zen memeriksa tubuh Arsen yang semakin mengurus itu. dia tahu, ini penyakit yang disebabkan oleh pikiran dan depresi.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Aku tidak bisa menceritakan pada anda.. yang pasti, adik saya.. telah menyiksa dirinya sendiri " ucap Jun dengan suara layu,
dokter Zen masih diam, lalu memberi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakitnya. dengan menghela nafas, dia memberikan obat-obatan itu pada Jun. lelaki tampan itu tidak bertanya pada dokter, karena dia sudah tahu apa yang terjadi pada adiknya.
"Jika memungkinkan, selesaikan dengan cepat, ganjalan di hatinya.."
Jun hanya mengangguk mendengar kata-kata itu, ia tidak menambahkan atau menyangkal. Dokter keluar dari tempat itu, lalu duduk di teras unit penginapan itu. dia bimbang, jauh di lubuk hatinya, ia tak tega melihat kondisi Arsen.
Berlin berjalan mendekati dokter Zen yang masih ragu mengambil keputusan. masih lekat di ingatan Berlin, siapa lelaki di sampingnya itu. namun mereka berlagak seakan tak saling kenal satu sama lain, hanya dua orang lelaki yang saling bertegur sapa. lalu Berlin memecah keheningan dengan sepuntung rokok dan beberapa kalimat.
" Jika terus begini, bukankah sudah impas?"
"yang tahu setara atau tidaknya, hanyalah mereka yang berada di dalam lingkaran itu"
"Sungguh menjengkelkan, kukira aku akan bisa meninggalkannya, ternyata aku semakin kasihan padanya"
"pada akhirnya.. " suara dokter Zen terhenti
"Pada akhirnya, siapa yang benar-benar menjadi boneka.."
sebuah percakapan random itu menyiratkan banyak hal, mereka saling berbincang tanpa melihat satu sama lain. suasana yang mulai semakin gelap itu benar-benar membuat Berlin takjub.
***
di tempat lain, Alex dan adiknya sibuk merawat ayahnya yang sakit. lelaki tua itu sudah tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan benar, bahkan sesekali ia berbicara melantur tak tentu arah. Alex hanya dapat memupuk kesabarannya, karena satu-satunya keluarga kandung yang ia miliki hanyalah ayahnya. Ia berjanji akan mengembalikan semua yang sudah dicuri oleh Arsen dan keluarganya, semua usaha dan kerja keras ayahnya. namun ia juga tahu, apa yang ia miliki saat ini belum sampai pada upaya itu, ia masih harus melangkah semakin jauh lagi.
sebuah dering telpon mengalihkan perhatiannya, panggilan dari Bobby. pemuda berambut keriting itu mengajaknya untuk naik ke pos dua selatan, disana adalah pos dua untuk pendakian dan olahraga ekstrem. namun tempat itu juga menjadi tempat bagi para mafia dan penjudi kelas kakap untuk berkumpul, lalu memulai transaksi besar. Alex memang telah bangkit, dengan caranya sendiri.
"Ayo!" jawab singkat Alex menutup telponnya,
dengan sigap, Alex meloncat dari balkon rumahnya yang terbuat dari kayu itu. dia langsung duduk dengan manis di atas sepeda motor gunung milik Bobby, dan melaju melewati rimbunnya pepohonan.
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my doll || GeminiFourth ||
FanfictionBagaimana jika seorang pecandu judi bertemu dengan seorang pewaris yang sadis, putra konglomerat dan mafia terkenal? Alex, pemuda berumur 20 tahun . Lahir di keluarga yang kaya membuatnya salah pergaulan dan menjadi seorang penjudi ulung. sayangnya...
