****
Satu minggu kemudian,
Pada pagi buta, suara keributan terdengar nyaring dari dalam kamar rahasia. Suara bentakan dari Arsen dan alex dengan berbagai argument yang saling serang. Sesekali suara tamparan juga terdengar,bahkan suara barang-barang yang saling terlempar juga terdengar hingga pintu luar kamar Arsen. Ke empat penjaga yang mendengar pertengkaran hebat itu hanya saling melirik satu sama dengan canggung. Lidah mereka gatal ingin meng-ghibahi bos mereka, tapi disisi lain mereka juga takut dengan kekejaman bos muda.
***
"Kau dilarang untuk keluar dari kamar ini, sama sekali !!" bentak Arsen sembari keluar dari kamar rahasia, dengan wajah tertekuk, dia duduk sembari membuka sebotol anggur di atas meja kerjanya. Dia mengangkat telpon dan menekan nomor salah satu pengawal andalannya,
"Berlin, pastikan untuk mengirim orang untuk menjaga dan mengikuti Alex. Aku yakin dia tidak akan menuruti perintahku, jadi biarkan saja dia ke kampus, tapi awasi dengan ketat. Laporkan apapun yang ia katakan dan lakukan selama di luar" ucapnya dengan berbisik.
Setelah itu, dia duduk di sofa sembari menikmati sebotol anggur yang sebelumnya ia buka. Dia menikmati suara kemarahan yang terdengar sayup-sayup dari kamar rahasia, suara Alex yang masih penuh dengan omelan-omelan pedas. Selama 10 menit berlalu, hingga akhirnya suara omelan itu sudah tak terdengar. Kaki berotot Arsen yang sebelumnya berayun sembari menikmati kemarahan Alex dari dalam kamarnyapun perlahan berhenti, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi kesal yang akan dibuat Alex di balik pintu itu, ia pun tersenyum.
Tak berapa lama, matahari semakin Nampak. Hal itu bersamaan dengan panggilan lembut dari pelayan sembari mengetuk pintu, lalu tak lama pria tua itu masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa piring makanan. Tiga pelayan membawa makanan masuk ke dalam kamar rahasia, sementara sisanya membawa makanan yang lebih banyak ke hadapan Arsen.
"kedepannya, tolong gabung saja makananku dan makanan si boneka, aku ingin makan bersama dengannya. " perintahnya,
"Baik tuan" kata pelayan dengan sopan, lalu melanjutkan menyiapkan makanan untuk Arsen.
Setelah semua selesai, pelayan keluar dengan rapi. Sementara itu, Arsen makan dengan tenang sembari masih menikmati sebotol anggur yang ada di tangannya.
***
Tepat pukul delapan pagi, Alex yang sudah menyiapkan diri di dalam kamar, segera menyelinap keluar. Sesekali ia melihat ke kiri dan kanan, memastikan para pengawal tidak menemukannya. Tapi reaksi beda didapatkan alex, para pengawal seakan tidak melihat dan membiarkan Alex keluar dari kamar tanpa menghalanginya. Raut wajah bingung terlihat dengan jelas, membuat ia terlihat canggung dan aneh. Ia berjalan dengan bingung hingga sampai di ruang tamu, ketika ia bertemu dengan Berlin yang berdiri di hadapannya.
"Alex, aku yang akan mengantarkan anda ke kampus" ajaknya dengan tenang,
"Kok..kok..kok bisa?"
"ini adalah perintah bos"
"lalu... untuk apa tadi pagi bertengkar, sampai moodku rusak, grrrr" suara kekesalan alex yang masih terdengar,
Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kampus dengan cepat. Sepanjang perjalanan, Alex terus membuka materi-materi yang belum sempat ia kuasai karena tugas mengupas kentang yang diberikan Arsen.
***
Sesampainya di kampus, Alex dengan cepat keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam kampus. Dia bahkan belum sempat mengucap terima kasih ke Berlin yang sudah mengantarkannya. Ia masuk ke dalam lorong kampus, mencoba menyusup diantara kerumunan mahasiswa yang mengantri di depan lift. Dengan cepat, tangan mark meraih tubuh Alex dan menariknya untuk naik melalui tangga darurat. Mereka berdua naik dengan cepat, mark membantu Alex untuk bisa naik dengan cepat karena kondisi alex yang masih belum pulih total.
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my doll || GeminiFourth ||
FanfictionBagaimana jika seorang pecandu judi bertemu dengan seorang pewaris yang sadis, putra konglomerat dan mafia terkenal? Alex, pemuda berumur 20 tahun . Lahir di keluarga yang kaya membuatnya salah pergaulan dan menjadi seorang penjudi ulung. sayangnya...
