-Emosi-

689 35 0
                                        

***

Setelah kedatangan Danielle yang mendadak, Arsen menjadi sangat murka dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia tidak bisa melampiaskannya pada Danielle, karena itu akan berbahaya bagi perusahaan dan usaha mereka. Mata arsen menatap alex, begitupun alex menatap arsen.

"Kenapa? Kau ingin membunuhku untuk meluapkan emosimu?" tantang alex, entah mengapa alex sudah muak dengan perasaan yang timbul dan menyakitinya.

"jangan menantangku, bagaimana dia bisa kesini dan menemukanmu?" Tanya arsen mencoba menahan emosinya,

" mana aku tahu, bukankah kau merantaiku disini"

"apa masih sakit?" ucap Arsen secara tiba-tiba,

Alex masih kesal, tapi juga bingung dengan perubahan suasana hati arsen yang mendadak. Ia hanya melirik sinis pada sosok yang tiba-tiba memberi perhatian padanya. Arsen duduk di samping tubuh alex, lalu melihat luka bekas tamparan di pipi alex. Baru saja hati arsen mulai tenang, sebuah telpon datang dan merusak kembali hati arsen.

Suara kencang terdengar dari balik telpon,

"Arsen sialan, apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa Danielle bertemu dengan alex? Memang seharusnya kau bunuh saja dia!!!" bentak ayah arsen dengan amarah di ubun-ubun,

"bukankah ayah menyuruhku untuk tidak menyakitinya, rencana kita masih belum selesai" jawab tenang Arsen,

"Ah, benar.. ah sialan.. pokoknya selesaikan urusanmu dengan Danielle," perintah keras ayah arsen sebelum menutup telponnya,

Mata arsen melirik tajam pada Alex. Ia merasakan panas sampai di ubun-ubun kepalanya, ia tidak tahu harus melakukan seperti apa, tapi ia harus melampiaskan emosinya. Dengan cepat, tangannya meraih tubuh alex yang masih terduduk di ranjang.

"Apa maumu sialan!" bentak Alex,

"Kau benar-benar menyebalkan," gerutu arsen,

Tangan arsen segera mengepal dan memukul tubuh alex yang masih tidak berdaya. Bahkan tanpa sadar, arsen terus memukul alex hingga wajah dan tubuh alex membiru dan lebam-lebam. Beberapa kali, alex memuntahkan darah karena pukulan membabi buta dari arsen.

"Hentikan, tolong.. ampun" pinta alex yang benar-benar tidak tahu apa kesalahannya,

"hah!!!" suara desah nafas kesal arsen yang sudah puas melampiaskan emosinya,

Sejenak, suasana hening ketika tubuh arsen mulai berhenti memukuli alex. Ia melihat tubuh alex yang tergeletak di atas ranjang dengan wajah yang membengkak, tubuh membiru, dan darah yang mengucur dari hidung dan mulutnya. Mata alex mendadak mengeluarkan air mata, karena rasa sakit dan rasa takut yang seketika menyergap alex, ia baru saja melihat kegilaan lain dari arsen.

****

Arsen menyadari apa yang baru saja ia lakukan, tanpa meminta maaf, ia mengambil jas nya dan segera keluar dari kamar. Alex hanya menatap pintu yang baru saja tertutup, ia kebingungan. Alex terus mengerang kesakitan saat ia merasakan rasa sakit di perutnya, semakin lama semakin sakit.

"Tolong, panggilkan dokter" rintih alex, namun tak ada satupun yang datang hanya untuk melihat keadaan alex,

Alex terus mencoba memanggil siapapun diluar untuk membantunya, namun masih saja yang datang hanya harapan. sekitar satu jam-an, seseorang masuk ke dalam kamar dan membawa sekotak obat.

"Arsen?" gumam alex ketika ia menyadari siapa yang datang,

"Dokter sedang tidak ada disini" katanya dengan datar,

Ia segera mengeluarkan obat dan mencoba mengobati luka-luka yang ia sebabkan sendiri itu. alex secara spontan menarik tubuhnya menjauh dari arsen, melihat bagaimana alex yang ketakutan dengannya membuat emosi arsen mulai naik kembali.

"Berhenti menjauh, kau mau mati hah!" bentak arsen,

"apa salahku? Kenapa aku yang kau pukuli? Aku bahkan tidak tahu siapa wanita itu?" Tanya alex dengan suara yang gemetaran,

"Maaf, aku gelap mata.. " katanya seakan tidak niat untuk meminta maaf,

Dengan kasar, arsen menarik tubuh alex dan memaksanya untuk tetap diam di dekatnya. Ia mengoleskan obat ke luka-lukanya, sesekali ia juga mengusap kembali darah – darah yang masih keluar dari luka –luka itu.

Setelah selesai, arsen menutup kembali kotak obat yang ia bawa. Alex hanya terdiam dengan mata yang masih bengkak, beberapa kali ia menunduk sembari sesenggukan. Arsen merasa gerah dengan sosok alex yang seperti ini, baginya itu berkali-kali lipat lebih menyebalkan. Lebih baik melihat alex yang keras kepala dan tengil, daripada melihatnya yang lemah seperti ini.

"kenapa kau baru takut denganku saat ini? padahal ini bukan pertama kali aku menyiksamu.." tanya arsen seakan tanpa rasa bersalah,

" aku juga tidak tahu, " jawab singkat, mungkin perasaan itu muncul karena shock yang dirasakan alex, setelah perlakuan arsen yang melembut akhir-akhir ini.

Sejenak mereka hanya diam, hanya terdengar suara angin yang sayup-sayup masuk melalui lubang jendela. Arsen mulai memutar tubuhnya untuk menghadap tubuh alex yang duduk di atas Kasur. Tangannya lembut menyentuh wajah alex lalu mencium pipinya yang masih terluka.

"Auch!" suara rintihan alex, ketika bibir arsen menyentuh luka di pipinya.

"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku bersumpah, aku tidak akan menyakitimu" suara arsen benar-benar melembut,

Alex hanya mengangguk, ia tidak ingin berekspektasi tinggi dengan sikap arsen,tidak lagi.

"Aku ingin keluar dari kamar ini, aku tidak ingin di kamar ini" pinta alex tanpa menghiraukan permohonan maaf arsen,

"kau mau kemana?"

"aku ingin keluar dari tempat ini,"

"hfft.. baiklah, besok aku akan membawamu ke suatu tempat" ujar arsen,

Alex kaget, dengan semudah itu arsen mengabulkan keinginannya. Apakah ini kesempatan alex untuk kabur?

 Apakah ini kesempatan alex untuk kabur?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
You are my doll || GeminiFourth ||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang