****
Setelah operasi berlangsung, tubuh alex dibawa ke ruang ICU. Ayah Alex berdiri dibalik kaca, di luar ruang ICU. Dia berdiskusi dengan serius dengan dokter yang menangani Alex, sementara kedua teman Alex, mark dan Vau hanya menyimak di belakang punggung ayah alex. Setelah beberapa saat, dokter yang menangani alex pergi meninggalkan mereka bertiga, tepat ketika arsen datang membawa satu bucket bunga besar yang ia bawa. Dengan tatapan tanpa penyesalan, arsen berjalan dengan senyum merekah melihat wajah kesal dan murka dari ayah alex.
"Bajingan, untuk apa kau kesini.. ?" teriak ayah Alex, yang seakan ingin menghajar pemuda tampan tapi gila di depannya
"Aku ingin melihat Alex, sekaligus membawanya kembali ke rumahku... ah.. ini bunga untuk anda" katanya sembari memberi bucket bunga kepada ayah alex,
"Kau sialan... lepaskan anakku!!" bentak Ayah alex dengan cepat menggenggam kerah kemeja arsen, kedua pengawal dengan sigap menghalau serangan ayah alex.
"Anda lupa? Anda sendiri yang memberi anak anda kepada saya, anda sudah menandatangani surat yang sudah kuberikan"
"Aku tidak mengira kau akan membuat anakku hampir mati seperti ini.. "geram ayah alex,
" bukannya aku bilang dia akan menjadi 'doll'-ku" picingnya dengan tatapan mengejek,
Suara gemeratak gigi penuh kegeraman dari ayah alex, terdengar dengan jelas. Matanya memerah dan wajahnya dipenuhi dengan urat yang mulai terlihat.
"Om, hentikan.. "pinta vau dan mark, mencoba menarik tubuh kekar ayah alex,
****
Setelah beberapa saat, Ayah alex mulai menenangkan dirinya. Beberapa kali Vau mencoba menenangkan ayah alex,
" coba Tarik nafas, buang nafas, Tarik nafas, buang nafas... bersihkan pikiran anda om" perintah Vau dengan wajah serius,
Pemandangan itu sontak membuat Arsen tersenyum sendiri, bagaimana pemandangan lucu tersebut malah terlihat serius. Beberapa kali, Ayah alex melempar pandangan tajam kea rah arsen, namun hanya dijawab dengan senyuman tanpa bersalah.
Seketika, setelah dirasa sudah tenang, Ayah alex berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati tubuh arsen yang masih mengamati tubuh lemah alex dari balik kaca.
"Aku butuh bicara berdua" ungkap ayah alex dengan nada tajam,
Akhirnya mereka berdua berjalan berdua menuju suatu sudut di luar ruang icu, mereka berdiri berhadapan dengan memasang wajah serius dan tegang. Beberapa kali, ayah alex menggempalkan tangannya seakan benar-benar ingin menghajar arsen, namun berhasil ditahan dengan sekuat tenaga. Mark hanya duduk di tempat duduk sembari membawa bucket bunga pemberian arsen. Mereka melihat kea rah kedua orang yang tengah berdiskusi tegang, bahkan beberapa kali hampir baku hantam.
Setelah beberapa saat, arsen pergi meninggalkan tubuh ayah alex yang masih membeku berdiri. Arsen berjalan mendekati mark dan vau, lalu melemparkan tatapan seakan merendahkan kea rah mereka.
"Kalian bisa pulang, biar urusan alex, aku yang urus" perintahnya dengan menjengkelkan,
" kami tidak bisa menyerahkan teman kami padamu.. " ujar Vau dengan kesal,
Dia melambaikan tangannya kepada kedua pengawalnya, lalu kedua pengawalnya menyeret tubuh vau dan mark dengan kasar. Mereka di lempar di dekat tubuh ayah alex yang masih berdiri dengan depresi.
"Sialan!!" bentak Mark dengan amarah,
Sementara ayah alex hanya diam sembari memberi tanda untuk mereka,
"Ayo kita pergi.. " katanya lemas, seakan tengah dirundung keputusasaan.
Akhirnya mereka bertiga berjalan lemas meninggalkan tubuh alex yang masih tidak sadarkan diri di ruang ICU.
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my doll || GeminiFourth ||
Fiksyen PeminatBagaimana jika seorang pecandu judi bertemu dengan seorang pewaris yang sadis, putra konglomerat dan mafia terkenal? Alex, pemuda berumur 20 tahun . Lahir di keluarga yang kaya membuatnya salah pergaulan dan menjadi seorang penjudi ulung. sayangnya...
