Suasana panas diruangan yang didominasi dengan warna gelap itu semakin mencekik, dimana dua saudara tengah beradu kata dengan kasarnya. Mata kevin seakan menyala saat berhadapan dengan adik bungsunya itu. dalam pikirannya, ia seolah tak mengerti sosok yang tumbuh bersamanya itu. Arsen menatap tajam pada sosok kakaknya yang berdiri di depannya dengan angkuh duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya.
" Kenapa kau melakukan itu pada Danielle?" bentak Kevin,
"Kabar sangat cepat menyebar, " ucap pemuda itu masih dengan sikap acuhnya,
"Sampai kapan kau akan bertindak seenaknya, "
"Seenaknya?" suara arsen mulai bergetar,
"hanya karena kau diandalkan untuk menghandle bisnis utama keluarga ini, bukan berarti kau bisa seenaknya.. "
"Siapa yang kau bilang seenaknya? Apa aku menginginkan semua ini? itu semua karena ketidak becusan kalian.. "ungkap Arsen dengan emosi sembari membuang muka,
Mendengar kata-kata itu, Kevin dengan cepat menggenggam pistol yang sedari tadi berada di dalam jas abu – abunya. Ia tak ingin menggunakannya, tidak untuk adiknya, tapi kata-kata itu terlalu menyakitkan baginya yang begitu menginginkan posisi Arsen saat ini. terutama karena Danielle..
"kau kira aku tidak tahu... kenapa kau semarah ini hanya karena Danielle.. " kata Arsen memancing reaksi spontan kevin, ia tersentak,
"Tutup mulutmu.. " ancam kakak sulungnya itu, dengan menyodorkan ujung pistol ke arah adiknya. Hal ini menjadi pemandangan biasa bagi mereka, Saudara hanya sebuah kata yang terketik dalam kartu keluarga, namun dalam kenyataannya tak ada yang benar – benar menjadi saudara. Bagi Arsen sendiri, mereka hanya korban dari ambisi ibu ibu mereka di masa lalu, dan kesombongan sang ayah. Mereka tak ubahnya seperti mesin, tak segan-segan menodongkan pistol satu sama lain, lalu besoknya saling tersenyum seakan tak terjadi apa apa.
"setidaknya kau tidak harus menyembunyikan apapun pada dunia, tidak harus menyembunyikan orientasi seksualmu... " gumam Arsen pelan, kata-kata itu sayup terdengar ke telinga kevin, seketika ia menurunkan pistolnya dan meredakan emosinya.
Terkadang, Arsen juga ingin jujur pada seseorang dan merebahkan semua beban di pundaknya sejenak. Tapi tidak ada yang benar-benar bisa ia percaya, bahkan keluarganya sendiri..
"Hapus semua asumsi bodohmu.. dan lakukan pernikahan dengan benar, jangan buat Danielle kecewa dan sedih lagi.. kau tau seberapa fatalnya itu bagi keluarga kita.. " tandas kevin,
Ia berjalan meninggalkan sosok adiknya itu, di depan pintu kamar, ia sempat berhenti sebentar.
" Dan satu lagi, cepat bereskan si bonekamu itu... ayahnya sudah mau bekerjasama dengan kita," katanya lalu keluar dari kamar itu dengan cepat, disusul beberapa pengawal yang sedari tadi bersiap.
***
Arsen masih duduk di atas sofa panjangnya, ia merentangkan tangannya lalu menatap ke atas. Pikirannya begitu riuh dengan berbagai hal, namun seketika ia mulai tenang ketika mendengar suara gerutu dari balik pintu rahasia itu. sosok yang ia sebut sebagai boneka, kenapa sosok itu begitu menarik baginya? Bahkan ketika hanya suaranya yang sayup terdengar.
Sebuah suara menghancurkan lamunannya, tak kala ada pesan masuk di handphonenya.
'Cepat bereskan si C, dia ada di pelabuhan, dia akan kabur'
Pesan itu membuat Arsen dengan cepat beranjak dari tempatnya, lalu memberi isyarat pada pengawalnya untuk membawa beberapa orang.
"Ada apa tuan?"
"Kita selesaikan si tikus itu, dia penghianat.. " ucap Arsen yang langsung di pahami oleh para pengawalnya, mereka segera bersiap menuju pelabuhan. Sementara dua pengawal andalannya, ditugaskan untuk menjaga Alex yang masih sibuk dengan kentangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You are my doll || GeminiFourth ||
FanfictionBagaimana jika seorang pecandu judi bertemu dengan seorang pewaris yang sadis, putra konglomerat dan mafia terkenal? Alex, pemuda berumur 20 tahun . Lahir di keluarga yang kaya membuatnya salah pergaulan dan menjadi seorang penjudi ulung. sayangnya...
