ĉapitro du

954 42 3
                                        

Pintu utama dari sebuah mansion yang kala itu dipoles dengan air hujan terbuka secara perlahan, mempersilahkan pemiliknya untuk melangkah masuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pintu utama dari sebuah mansion yang kala itu dipoles dengan air hujan terbuka secara perlahan, mempersilahkan pemiliknya untuk melangkah masuk. Semakin langkah mereka yang memasuki bangunan itu bertambah, maka semakin bertambah pula kekaguman Arzelie akan kehidupan mewah Yezekael.

"kepala pelayan!"

Arzelie tersentak ketika pria di belakangnya, Ezho, yang merupakan penjaga Yezekael memanggil dengan keras.

Tidak memerlukan waktu lama, kepala pelayan datang beserta dengan bawahannya yang berlari menyusul di belakang. Kompak berbaris rapi demi menyambut Tuan rumah ini yang telah kembali.

"SELAMAT DATANG KEMBALI, TUAN YEZEKAEL!" ucap mereka serentak dengan kepala tertunduk.

Lagi-lagi tersentak, Arzelie tanpa sadar melangkah maju, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Yezekael. Membuat lelaki itu sedikit melirik ke arahnya.

"Kau," Merasakan suara menyeramkan Yezekael yang memasuki pendengarannya, Arzelie mengangkat kepalanya, menatap pada lelaki itu yang jauh lebih tinggi darinya. "Ikutlah dengan mereka," lanjut Yezekael menunjuk pada kepala pelayan melalui gerakan kepalanya.

Tanpa melepaskan tangannya yang masih menarik kemeja putih Yezekael, Arzelie yang saat itu diselimuti oleh jas dari lelaki yang sama terlihat mengintip takut-takut.

Sejujurnya ia tidak ingin pergi. Satu-satunya yang ia kenal di sini adalah Yezekael. Tetapi mengingat seberapa menyeramkan pandangan Yezekael setiap kali menatapnya, Arzelie hanya dapat melepaskan genggamannya dan berjalan maju.

Sesekali menoleh seolah takut Yezekael akan melarikan diri.

Sementara itu, menatap pada Arzelie yang terlihat berhadapan dengan kepala pelayannya, Yezekael dengan tenang berbelok menuju tangga.

Baru beberapa kali melangkah, Yezekael berhenti dan berbalik. "Mereka tidak akan berhenti untuk mengejarmu," ujarnya membuat Arzelie yang memunggunginya ikut berbalik. "Karenanya bermalamlah di sini," lanjut Yezekael lagi, memberi isyarat pada kepala pelayannya untuk mengurus Arzelie dengan baik.

Sesaat, Yezekael berniat untuk kembali menaiki tangga, tetapi suara manis Arzelie yang terdengar membuatnya tidak dapat menahan diri untuk tidak membalas pandangan gadis itu.

"Mengapa melakukan semua ini hanya karena orang sepertiku?"

Membalas pandangan takut yang Arzelie berikan lamat, Yezekael hanya dapat mengulum bibir bawahnya, "Tentu saja ..." Pandangan Yezekael turun secara perlahan, terfokus pada air yang menetes dari anak rambut Arzelie, mengalir melalui leher gadis itu dan terus hingga melalui tanda lahir di dadanya.

"Karena kau cantik," lanjutnya, memilih berbalik dan melangkah cepat menaiki anak tangga. Tangannya yang terangkat menarik dasi yang melingkari kerah kemejanya. "Tinggalkan aku sendiri," perintahnya pada Ezho yang membukakan pintu kamarnya.

INTRÉPIDE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang