ĉapitro sep

377 29 11
                                        

Di tengah dapur itu, gadis yang menjadi pusat perhatian hanya dapat membulatkan mata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah dapur itu, gadis yang menjadi pusat perhatian hanya dapat membulatkan mata. Pipi halusnya memerah, diterimanya semua hadiah berbungkus cerah yang dijulurkan dari berbagai arah.

Ah sungguh, menatap semua senyuman tulus yang ditujukan padanya membuat gadis bergaun hijau itu hanya dapat tersenyum. Seolah ia diselimuti kehangatan.

"Selamat berulang tahun."

Mendengarnya, mata silver si gadis terlihat berkaca-kaca bak permata. Kecantikannya memang tidak diragukan, tetapi malam ini ia dipenuhi kasih sayang. Satu orang membawakannya kue, satunya merangkul pundaknya sementara yang lain memasangkan sebuah jepitan berwarna putih di rambut ikalnya.

Dirinya, Arzelie, sempat menebak di dalam hati, apakah saat ini ia menduduki kursi kebahagiaan dan apakah ia pantas untuk ini semua.

"Selamat berulang tahun Nona Arzelie, siapa yang menyangka bahwa kue yang sederhana ini dapat menciptakan tangis bahagia di wajah Anda."

Bibir merah Arzelie yang kontras dengan kulit putihnya mulai melengkung ke arah bawah. Ditatapnya May yang berdiri sembari menyodorkan kue di hadapannya. Sementara para rekan wanita itu melingkarinya dengan penuh kehangatan.

"Tidak ada yang lebih manis daripada doa seorang gadis yang berulang tahun dan dicintai."

Arzelie mempercayainya.

"Dan jika Anda bersedia," lanjut May sembari mengangkat kue di tangannya yang membuat Arzelie dengan cepat membalas, "Dengan senang hati."

Perlahan gadis itu memejamkan matanya, lalu menunduk dan meniup lilin yang ditancapkan di tengah-tengah kue, sehingga dapur yang mereka tempati mulai ramai dengan segala pujian dan usapan kasih sayang pada kepalanya.

Perlahan Arzelie membuka matanya, pandangannya yang menatap kue dengan ukiran cantik itu mulai terangkat. Tertuju pada seorang Pria yang berdiri jauh, menatapnya dari depan dapur, berdiri dengan tanpa sedikit pun ekspresi yang mengisi wajahnya.

Menatapnya, tercipta ketulusan dari pandangan mata Arzelie. Seolah memberitahukan bahwa harapannya telah terwujud dengan hadirnya sosok itu.

Seolah perasaan Arzelie tersampaikan tepat pada tujuannya.

Pria itu, Yezekael hanya mengalihkan pandangan kemudian berbalik, meneruskan langkahnya yang sempat tertunda tanpa berniat menyapa. Membuat wajah Arzelie sesaat dipenuhi kekecewaan.

"Selamat ulang tahun, Nona."

Lagi, Arzelie berbalik, menatap pada Ezho yang sepertinya tengah lenggang sehingga dapat bergabung dengan mereka. Duduk di salah satu kursi dengan kacamata yang masih tetap berposisi pada hidung bangirnya.

Membalas keramahan Ezho dengan senyuman manis, Arzelie berbalik menatap May. "Boleh aku coba kuenya?" tanyanya, menyentuh tangan May dengan tergesa-gesa.

INTRÉPIDE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang