ĉapitro tri

807 35 1
                                        

Membenarkan jas yang melapisi tubuhnya, Yezekael berjalan menuruni tangga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Membenarkan jas yang melapisi tubuhnya, Yezekael berjalan menuruni tangga. Menghampiri Ezho yang berdiri menunggunya di pintu utama. Ia memerintahkan Ezho untuk segera memasuki mobil sebelum ia menyadari kehadiran Arzelie yang berdiri di samping penjaganya itu.

Yezekael mengerutkan dahi, menilai penampilan Arzelie dari atas hingga ke ujung sepatu dengan pandangan heran. Gadis itu mengenakan sebuah kemeja putih yang panjangnya hanya menutupi paha atas. Alas yang melapisi kaki gadis itu juga adalah slipper rumahan. Sementara kedua tangannya menggenggam tali dari tas besar yang entah apa isinya.

"Anu ... maaf karena telah merepotkan Anda terlalu banyak. Saya dapat pergi sendiri," seperti biasa, pandangannya canggung, menghindari mata Yezekael yang menatapnya lekat. "Anda tidak perlu menghantarkan saya ...," gumamnya di akhir.

Ah benar, Yezekael menyuruh gadis itu pergi secepatnya dari mansion ini.

Seolah paham dengan gerak-gerik Tuannya yang mengerutkan dahi heran, Ezho memilih untuk membantu memberi penjelasan, "Tidak ada baju yang pas untuk Nona Arzelie gunakan, Tuan. Para pelayan di rumah ini merasa keberatan untuk meminjamkan baju mereka karena takut Nona Arzelie tidak nyaman," jelasnya panjang lebar.

"Lalu kemeja yang ia kenakan?" Yezekael menunjuk Arzelie dengan jari telunjuknya.

"Kemeja yang tidak pernah Anda pakai. Bersih dan dipastikan berbahan bagus," Ezho membalas.

Percakapan keduanya membuat manik silver Arzelie kehilangan arah. Ia sepenuhnya di abaikan.

"Aku tidak akan mengantarkannya dengan penampilan seperti itu. Ezho, minta penjahit untuk membuatkannya pakaian," perintah Yezekael sembari melangkah menuruni tangga teras.

Ezho berjalan menyusul, dengan sigap membukakan pintu mobil. "Tapi menempa pakaian akan membutuhkan waktu. Mengapa tidak mengajak Nona Arzelie ke butik dan mencarikannya pakaian yang pas," sarannya.

Untuk sesaat Tuannya itu terdiam.

"Ezho," balas Yezekael. "Biarkan mereka datang kemari," tekannya. Berniat memasuki mobil.

Hal itu berhasil membuat Ezho tak lagi berkutik.

Sementara Arzelie yang masih terdiam di depan pintu hanya dapat meringis. "Ah ... bagaimana dengan saya?" Arzelie bertanya. Sejujurnya ingin menangis karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Kedua Pria dewasa itu mengerikan.

"Apa maksudmu? Masuk!" isyarat Yezekael, membuat gadis itu mau tidak mau kembali melangkah memasuki kediaman, bersamaan dengannya yang mendudukkan diri di atas kursi mobil.

Melirik pintu kediamannya yang tertutup melalui kaca spion, Yezekael memerintahkan Ezho untuk menjalankan mobil.

••••

Arzelie hanya dapat menahan nafas ketika tali pengukur melingkari beberapa bagian dari tubuhnya. Mungkin karena beberapa hal, ia merasa takut setiap kali orang baru datang mengisi bagian dari hidupnya. Bahkan saat ini, ketika ia ditarik untuk berdiri di tengah-tengah ruangan, rasa gugup mengisi pemikirannya.

INTRÉPIDE Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang