[ FOLLOW AUTHOR FIRST ]
Setelah ditinggalkan orang tuanya di usia yang masih sangat muda, Arzelie merasakan pengalaman terburuk ketika tiba-tiba saja orang yang mengaku sebagai kerabatnya membawanya memasuki sebuah rumah bordil yang menjadi sarang k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari sudah berganti menjadi malam, matahari kembali bergantian dengan sang rembulan. Gadis cantik itu tertidur pulas di atas kasurnya. Kejadian kemarin berputar-putar di ingatan Yezekael bak sebuah kaset rusak.
Ia menghela nafas panjang di atas kursi kebesarannya.
Tumpukan kertas-kertas yang bernilai jutaan rupiah itu tidak ia hiraukan, walau Ezho sudah berkali-kali mengingatkan nya untuk segera diselesaikan.
"Eungh.."
Perhatian Yezekael teralihkan ke arah Arzelie yang melenguh di dalam alam bawah sadar. Ia bangkit mendekat dan terduduk di sampingnya. Memperhatikan setiap lekuk sempurna dari kontur wajah seorang gadis yang bahkan pernah menjadi rebutan laki-laki di tempat lelang. Ah, tidak salah ia menjadi rebutan.
Sebuah senyum kecil kemenangan terbit di wajah Yezekael.
"But I could," tangannya mengelus-elus rambut Arzelie dengan hati-hati takut membangunkan gadisnya.
Tangan itu berlama disana sebelum turun menuju pipi Arzelie yang memerah alami tanpa pewarna. Jari telunjuknya mengusap naik-turun wajah itu penuh kelembutan. Merasakan bagaimana lembutnya benda yang akan menggembung saat gadis ini kesal membuat ia terkekeh kecil mengingatnya.
Tidak hanya sampai disitu, jarinya turun menuju leher jenjang Arzelie yang seolah menggodanya untuk dihisap hingga muncul bercak merah tanda kepemilikan.
Tidak akan kubiarkan orang lain memiliki mu..
Yezekael tenggelam dalam pemikiran nya sendiri tanpa menyadari Arzelie telah membuka matanya menatap bagaimana ia melamun dengan tangan yang berada disekitar leher Arzelie.
Sama seperti wanita pada umumnya saat melihat lelaki tampan. Arzelie pun sama, ia termangu dengan senyum malu yang terbit namun coba ia sembunyikan.
"Bukankah dia terlalu sempurna?" ujarnya di hati menatap Yezekael.
Arzelie bangkit setengah terduduk mencondong ke arah Yezekael, tanpa terduga ia memberanikan diri untuk mencium laki-laki itu tepat di ujung bibirnya. Hal yang membuat Yezekael tersentak hingga kembali tersadar.
Mereka bertatapan dengan Arzelie yang menampilkan senyuman manisnya.
"Tuan?"
"Hm." gumam Yezekael tanpa mengalihkan pandangan dan makhluk indah dihadapannya.
Yezekael, ia kembali menggerakkan tangannya mengelus leher putih Arzelie. "Kenapa terbangun?"
Yang mendapat pertanyaan mengerjapkan matanya, ia bahkan lupa alasan ia terbangun sejenak saat mata nya menatap Yezekael,
"Haus."
Benarkah?
Atau hanya alasan semata?
"Aku panggilkan maid," saat Yezekael akan beranjak tangannya di tarik oleh Arzelie hingga berhenti sejenak lalu kembali menatap gadisnya.