[ FOLLOW AUTHOR FIRST ]
Setelah ditinggalkan orang tuanya di usia yang masih sangat muda, Arzelie merasakan pengalaman terburuk ketika tiba-tiba saja orang yang mengaku sebagai kerabatnya membawanya memasuki sebuah rumah bordil yang menjadi sarang k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak sama seperti biasa, hari ini bulan yang terkait di langit malam terlihat lebih cerah dari biasanya.
Tetapi tidak sama dengan kehidupan tenang orang lain yang bebas menatapnya setiap saat. Di malam yang sama, tepatnya di kota terpecil di dalam negeri yang munafik ini, seorang gadis terlihat berlarian dengan bertelanjang kaki. Melewati jalan setapak yang basah, dengan masing-masing bangunan-bangunan tua yang berdiri di kedua sisi.
Rasa panik yang memuncak membuat gadis itu tidak memperhatikan langkahnya, tanpa berpikir ia melewati jalanan licin di bawahnya dan berakhir tersungkur. Gaun putih selutut yang memperlihatkan bahunya berakhir basah, kotor terkena genangan air.
Dengan menahan rasa sakitnya, gadis itu berniat untuk kembali berdiri. Pandangannya terangkat, menatap pada langit gelap di atas kepala.
Langit di kota ini suram. Tidak ada bulan dan bintang melainkan hanya terdapat rintik hujan yang membasahinya.
Seolah ia terlahir sial.
Benar kakinya terluka, dan benar juga bahwa ia lelah. Tetapi sorakan keras yang menakutkan terus-menerus mengejarnya dari belakang.
Dengan rambut pirangnya yang jatuh ke atas bahu, gadis itu pada akhirnya bangkit dan berlari. Sejujurnya putus asa karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tetapi ketika matanya mendapati punggung seorang lelaki yang terlihat ingin memasuki sebuah mobil sedan berwarna hitam, otaknya bereaksi cepat dan berlari menghampiri.
Tetapi baru saja langkahnya sampai di hadapan lelaki itu, teriakan yang menyerukan namanya kembali terdengar.
"ARZELIE!!"
Sehingga karena rasa takut, Arzelie, gadis yang namanya disebut dengan panik menyembunyikan wajahnya di pelukan lelaki itu.
Arzelie merasakan benar tubuhnya yang gemetar karena bentakan yang terasa nyata mengancam. Dengan tangan yang menutupi telinga dan manik silvernya yang berair, gadis itu berakhir dengan sebuah permintaan.
"Tolong ..." Bisiknya dengan suara yang pecah.
Suara yang keluar dari bibirnya menggambarkan jelas rasa takut yang ia rasakan. Seharusnya berhasil untuk membuat manusia lain merasa iba. Tetapi lelaki di hadapannya berbeda.
Rasa kemanusiaan? Mungkin patut untuk dipertanyakan.
Suara yang meneriakan nama Arzelie terasa semakin dekat, tetapi seseorang yang seharusnya menjadi penyelamatnya tidak sedikit pun bergerak. Hanya menatap kosong pada jalanan gelap, tempat Arzelia datang. Sementara rintik hujan mulai mengguyur basah tubuh keduanya.
Pada akhirnya, lelaki itu mendorong bahu Arzelie menjauh. Sempat terdiam ketika matanya berpapasan dengan bola mata Arzelia yang menatapnya tidak percaya. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena lelaki itu memilih memutus kontak di antara mereka berdua dan memasuki mobil mewah yang telah menunggunya.