39. Menuju Sesuatu

937 39 0
                                        

Claudia sedang duduk di sofa dengan khawatir, sudah hampir tengah malam dan Hasan belum juga kembali ke kamar sejak perdebatan mereka.

Hasan juga tidak membawa hp dan yang Claudia tahu dari Anggi, Hasan pergi minum bersama Candra dan yang lain. Awalnya Claudia biasa saja tapi saat jam segini Hasan belum juga kembali hal itu membuat Claudia sedikit khawatir.

Claudia merasa bersalah atas perdebatan mereka sebelumnya. Dan tidak biasanya juga perdebatan mereka berlangsung cukup lama seperti ini. Claudia mulai merasa bahwa mungkin dirinya terlalu memaksa Hasan untuk menceritakan tentang hal yang memang tidak ingin Hasan ceritakan. Tapi Claudia juga merasa dirinya tidak sepenuhnya salah, Hasan yang membuat hubungan mereka mengambang dan membingungkan untuk Claudia dengan sikapnya yang tidak mau terbuka itu.

Hubungan mereka semakin lama bukan semakin jelas tapi malah semakin meragu, Claudia bingung harus memperbaiki masalah ini seperti apa. Sedangkan di satu sisi sikap Hasan yang seperti itu seakan memang tidak ingin hubungan ini berjalan kedepan. Hasan bilang mencintainya tapi apakah rasa cinta itu tidak cukup untuk membuat Hasan percaya kepada Claudia dan mulai terbuka. Apakah selama ini hubungan mereka tidak bisa menjadi tumpuan untuk Hasan agar lebih terbuka. Semua sikap Hasan membuat Claudia bingung.

Claudia tidak suka memiliki masalah dengan Hasna terlalu lama tapi semuanya tidak bisa menjadi baik-baik saja dengan sendirinya. Harus ada yang memulai.

Claudia merasa bosan terlalu lama menunggu Hasan, akhirnya Claudia memilih untuk tidur. Claudia sudah kesal menunggu Hasan jadi masa bodo Hasan mau pulang jam berapa, dia sudah dewasa. Lagian seharusnya Claudia memang tidak mencemaskan Hasan disaat dirinya sedang kesal seperti ini.

****

Claudia yang saat ini baru saja terpejam merasakan sebuah tangan tiba-tiba melingkari tubuhnya dan aroma alkohol langsung tercium oleh Claudia.

Mendapatkan pelukan dan aroma alkohol membuat Claudia benar-benar terbangun dari tidurnya dia berusaha melepaskan tangan Hasan yang sepertinya sedang mabuk ini.

Tapi kegiatan Claudia melepas tanganya terhenti karena dari belakang punggungnya Claudia dapat mendengar Hasan terisak. Seketika Claudia mematung, karena untuk pertama kalinya Claudia mendengar Hasan menangis.

Claudia benar-benar yakin Hasan saat ini memang sangat mabuk, karena sangat mustahil melihat Hasan menangis jika dia tidak mabuk.

Claudia tidak berusaha untuk melepas tangan Hasan, karena dari balik tubuhnya Claudia mendengar Hasan mulai bergumam.

"Maaf Di, maaf karena buat kamu kesal dengan sikap aku yang kaya gini. Maaf karena aku tidak bisa tegas kepada diri aku sendiri, aku terlalu takut. Aku mencintai kamu dan gak mau kamu tinggalin aku, tapi aku sendiri masih takut untuk terbuka sama kamu. Aku takut untuk melangkah. Maaf Di. Aku sekarang bingung, aku harus gimana?" Ucapan Hasan di tengah tangisannya membuat Claudia merasa sedih, dia seperti merasakan semua rasa bingung dan sedih yang Hasan rasakan. dari ucapan dan tangisannya itu walaupun Claudia memang tidak tahu apa yang sebenarnya Hasan takutkan sehingga membuat dirinya seperti ini.

"Claudia, apa kita gak bisa kaya gini aja. Apakah kita gak bisa bahagia dengan hubungan ini. Jawab aku aku gak mau kita terus bertengkar. Claudia aku cinta sama kamu." Hasan masih terus berbicara dalam tangisnya. Claudia tahu Hasan saat ini tengah mabuk tapi bukannya perkataan orang mabuk biasanya jujur dari hati.

Claudia berusaha melonggarkan pelukan Hasan dan mulai berbalik untuk menatap ke arah Hasan. Wajah Hasan saat ini cukup merah dengan air mata yang membanjiri pipinya dia kini tengah menatap Claudia dengan mata yang sayu.

"Claudia kamu dengar aku kan, aku cinta sama kamu aku gak mau kita terus marahan kaya gini." Hasan kini mulai menatap Claudia dengan dirinya yang setengah sadar itu.

Belum Usai (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang