14. Hasan dan Panji

2.4K 84 6
                                        

Claudia berjalan perlahan keluar dari kamar Hasan, sekarang masih sangat pagi untuk bangun. Tapi itu memang rencana Claudia sejak semalam yaitu dia harus pulang ke kosannya sebelum semua bangun kemudian berangkat kerja.

Karena jika dia pergi saat yang lain sudah bangun pasti akan menjadi pagi yang ramai dengan perdebatan, karena mereka pasti akan menyuruh Claudia untuk tidak bekerja. Sedangkan Claudia hari ini harus kerja karena dia ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, lagi pula dirinya saat ini sudah merasa lebih baik.

Saat Claudia keluar dari kamar dia cukup terkejut mendapati Hasan yang saat ini tengah duduk dimeja makan dengan laptop yang menyala. Pandangan Hasan saat ini menatap ke arah Claudia yang saat ini sedang menatapnya juga dengan wajah terkejutnya. Claudia tidak menduga bahwa Hasan ternyata sudah bangun disaat mata hari bahkan belum muncul. Sekarang masih jam lima pagi, dan Claudia sangat tahu kalau Hasan adalah orang yang paling susah bangun pagi.

Claudia menatap ke arah karpet depan tv dimana adiknya dan Candra masih tertidur pulas dengan posisi yang tidak beraturan.

"Mau kemana pagi-pagi udah rapi?" Ucap Hasan dengan suara rendah dan wajah yang serius.

"Aku mau pulang, soalnya hari ini aku harus kerja." Dengan rencana yang sudah gagal total Claudia terpaksa untuk jujur kepada Hasan

"Keadaan kamu gimana setelah semalam?"

"Aku baik-baik saja, sehat dan gak terluka sedikit pun."

"Apa kamu yakin? Memang kamu udah gak takut lagi atau merasa cemas gitu? Seharusnya kamu gak usah kerja tenangin aja diri kamu."

"Aku harus kerja, aku juga merasa baik-baik aja. Terima Kasih karena semalam udah nolongin aku. Aku pulang ya. Salamin buat Bayu Sama Candra." Claudia berjalan menuju pintu kosan Hasan.

"Aku anter." Hasan beranjak dari tempat duduknya.

"Gak perlu aku bisa pulang sendiri."

"Aku gak menerima penolakan." Tanpa banyak bicara Hasan langsung mengambil kunci di dekat meja tv dan langsung menarik tangan Claudia untuk mengikutinya.

Tubuh Claudia tertarik dengan mudah sehingga terpaksa harus mengikuti Hasan.

Setelah sampai di dekat mobil Hasan baru melepaskan tarikan tangannya pada Claudia.

"Aku bisa pulang sendiri." Claudia diri di dekat mobil dan menatap Hasan kesal karena tindakanya yang menarik dirinya seenaknya.

"Aku males debat pagi-pagi kaya gini. Cepet naik Di katanya kamu mau pulang." Hasan membuka pintu penumpang mobil itu untuk Claudia.

Karena Claudia juga tidak mau berdebat dengan Hasan dan membuat keributan di pagi buta seperti ini jadi Claudia nurut saja.

Setelah Claudia masuk Hasan menutup pintu penumpang itu dan berjalan menuju ke bagian pengemudi. "Kita sarapan dulu, di depan sana ada tukang bubur yang buka jadi kita bisa sarapan disana."

"Kita langsung pulang aja." Tolak Claudia

"Udah aku bilang aku gak menerima penolakan."

"Aku gak mau sarapan bareng disana, gimana kalau ada yang liat kita." Ide untuk sarapan masih terdengar tidak baik untuk Claudia jadi dia tetap tidak mau.

"Kita makan di mobil kalau gitu. Aku yang pesenin buat kamu, kamu gak perlu turun. Jadi gak usah protes lagi." Claudia hanya bisa pasrah menuruti semua kemauan Hasan sampai akhirnya mereka sampai di gerobak bubur yang jam segini sudah mulai ramai. Padahal langit di luar masih gelap.

"Kamu tunggu aku pesan dulu." Claudia hanya diam saat Hasan sudah mulai turun dan menghampiri tukang bubur itu.

Tidak butuh waktu lama Hasan kini sudah kembali dengan dua mangkok bubur yang terlihat mengiurkan.

Belum Usai (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang