55. Keputus Akhir

1.4K 44 5
                                        

Setelah kejadian semalam, rasanya Claudia semakin malu untuk bertemu dengan Hasan untung saja Hasan saat ini tidak jadi mengantarnya ke bandara karena mendadak ada urusan dengan pekerjaannya. Walaupun begitu tetap saja Hasan sebelumnya mewanti-wanti Claudia untuk selalu mengabarinya tentang apapun itu. Lalu untuk masalah Panji, semalam Claudia sudah mengirim pesan kepada Panji. Mengajaknya bertemu untuk membicarakan semua ini, dan mengirimkan lokasi restoran milik Uji.

Panji langsung menyetujui hal itu, mengatur janji untuk bertemu secepatnya. Setelah Claudia benar-benar mempersiapkan diri untuk bicara dan bertemu Panji.

*****

Sore ini tiba saatnya Claudia pergi bertemu dengan Panji. Saat ini Claudia sangat gugup dan takut.

Setelah sampai di depan restoran milik Uji, Claudia sudah melihat mobil milik Panji, rasanya setiap langkah yang Claudia ambil membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Claudia takut tapi dia mau semuanya jelas.

Saat memasuki restoran itu Claudia mengedarkan pandangannya dan berhasil menemukan Panji yang menatap ke arahnya dengan senyum yang entah kenapa menjadi hal yang tidak Claudia sukai.

Claudia berjalan perlahan menuju meja Panji, dia berusaha menenangkan dirinya dan mencoba untuk terlihat percaya diri.

Dari kejauhan Claudia dapat melihat Wajah Panji yang memiliki beberapa memar, belum lagi bibirnya yang terlihat sobek. Claudia yakin itu akibat ulah Hasan waktu itu, dia merasa bersalah akan hal itu tapi bukankah Panji pantas mendapatkannya setelah apa yang dia lakukan pada Claudia.

"Maaf aku telat." Ucap Claudia basa-basi sebenarnya dia memang sengaja untuk melambatkan waktu bertemu dengan Panji.

"Gapapa, kamu duduk dulu. Terus pesen makan atau minum kita bicara santai aja." Claudia duduk dan menuruti Panji untuk memesan minum terlebih dahulu.

Setelah memesan, meja mereka hening beberapa saat.

"Langsung aja, ke topik pembicaraan. Alasan kita disini untuk membahas pertunangan kita kan?" Claudia mencoba untuk memulai pembicaraan

"Kamu baru sampe, setidaknya kita mengobrol saat minuman kamu sudah datang."

"Langsung aja, aku gak punya waktu banyak. Lagian bukannya Mas Panji yang maksa aku untuk bicara secepatnya."

"Oke kalau itu yang kamu mau. Kita langsung aja. Aku gak mau pertunangan ini batal begitu saja." Panji mengeluarkan cincin pertunangan yang sempat Claudia kembalikan kepadanya dengan wajah yang lebih serius dari beberapa menit yang lalu.

"Setelah apa yang Mas Panji lakukan sama aku, Mas Panji masih mau mempertahankan pertunangan ini? Aku gak bisa." Claudia menatap Panji tidak habis pikir.

"Semua ini karena apa yang aku lakukan dalam video itu kan? Terus apa yang kamu lakukan dengan Hasan juga bisa dikatakan pantas? Kalian pergi berdua ke Surabaya, menginap dengan seorang pria yang merupakan mantan kamu ? Kalau dipikir-pikir bukankah kita sama saja?" Claudia tertampar oleh ucapan Panji, dia membenarkan semua itu, tapi semua ini terjadi karena sikap kasar Panji sebelumnya andai saja kejadian di apartemen itu tidak terjadi mungkin dia tidak akan berakhir dengan Hasan.

"Semua itu bukan tentang apa yang ada di video saja, ini semua juga tentang sikap kasar Mas Panji. Mas Panji hampir perkosa aku, aku masih gak bisa terima semua itu." Claudia mendapatkan alibinya, Claudia memang tidak bisa menjadikan alasan sikap Panji dengan mantannya itu seratus persen pendorong keputusan semua ini keluar, karena dirinya juga merasa sama saja dengan Hasan. Tapi sikap kasar Panji rasanya masih belum bisa termaafkan.

"Aku sangat merasa bersalah tentang itu Di, aku kebawa emosi. Aku kalap, aku sangat menyesal dengan semua yang aku lakukan. Makannya aku tidak bisa marah dengan kamu yang memilih pergi dengan Hasan, aku terima dia pukuli aku, untuk menebus semua yang aku aku lakukan ke kamu." Claudia dapat melihat raut penyesalan dalam wajah Panji, tapi tetap saja hal itu tidak bisa Claudia terima.

Belum Usai (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang