"100 tahun yang kau lalui dengan banyak penderitaan yang kau alami, ternyata tidak seberat diriku." - Singhantara Alam Samasta
Rasa sakit yang tidak bisa di sembuhkan, bertahan hingga kehidupan selanjutnya.
~ Kisah ini menceritakan tentang Singhant...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak semua orang harus hidup menjadi yang terbaik. Bahkan jika kamu bukan bintang paling terang, masih akan ada orang yang mencintai mu."
***
Terima kasih sudah bertahan, Al🌻🌻🌻
****
🐬 Sabtu, 17 Febuari 2024 🐬
****
Oh, ya. Di bab selanjutnya aku lupa mau nulis ini. Kalo latarnya di Indonesia, nggak tau bagaimana . Tapi aku sempet bilang, "Semarang" ya, bgtulah. Terserah ajalah. Aku bingung juga:(
Cerita ini apa? Bukan BXB, ya!
***
[Januari, 2000]
"Ayah, ini gimana nasib kita." ucap seorang perempuan yang terduduk lemas, sembari terus memegangi perutnya. Cuaca sejuk pagi itu, tidak membuat perempuan itu lega. Dirinya merasa kepanasan dan keringat bercucuran.
"Ayah juga nggak tau, Bu."
Keduanya adalah sepasang suami istri yang tengah kebingungan. Pasalnya perempuan hamil itu akan segera melahirkan. Namun, tidak ada yang membantu keduanya.
Jarak ke rumah sakit cukup jauh, dan tidak ada kendaraan yang lewat sedari tadi. Jalanan pagi itu benar-benar sepi.
"Gimana kalo anak kita kenapa-kenapa?"
"Jangan bilang begitu, Bu."
Tiba-tiba ada sebuah motor yang lewat.
Segera laki-laki itu mencoba untuk meminta bantuan.
"Permisi. Bisa tolong istriku? Dia akan segera melahirkan." ujarnya. Mereka berdua terpaksa terjebak di jalanan itu, Karena keduanya di rampok oleh orang-orang yang berada di dalam angkot yang akan membawa keduanya untuk pergi ke rumah sakit.
Motor itu berhenti. Bagaimana terlihat seorang wanita tua, bersama dengan seorang laki-laki.
Perempuan tua itu langsung memegangi perut ibu hamil itu.
"Kalian berdua bisa bantu angkat dia dan bawa ke gubuk disana." ujarnya. Menunjuk sebuah gubuk di tengah-tengah sawah.
Sang suami dan satu lagi laki-laki itu mencoba untuk mengangkat ibu hamil itu ke sebuah gubuk yang biasanya menjadi tempat peristirahatan para petani.