Menikah di usia yang terbilang sangat muda, sama sekali tidak terpikirkan di benak seorang Skayara Abhista, Dia adalah, cewek cantik, lucu, mapan dan sedikit berisik. Diusia yang kini menginjak umur 17 dia harus menikah dengan cewek yang seumuran de...
Di sebuah mansion mewah, seorang perempuan tengah bersenandung kecil. Ini adalah hari pertamanya di sekolah setelah libur panjang setelah akhir semester. Sekarang dia sudah naik ke kelas 12, mungkin beberapa bulan lagi akan lulus dari bangku SMA.
Turun dengan langkah gamang, dia pergi ke meja makan yang terdapat kedua orang tuanya. Dia menautkan kedua alisnya, melihat kedua orang tuanya masih berada di rumah di jam yang terbilang sudah sedikit siang itu.
"Tumben sekali, papi dan mami masih di rumah. Tidak kerja tah?." Tanya nya setelah dia mendudukkan pantatnya di kursi.
Sang kepala keluarga menggeleng "papi dan mami kerja. Cuman pengen sarapan bareng kamu." Jawab nya dengan nada datar.
Sang anak hanya menganggukkan kepalanya. Sang mami memberikan piring yang sudah di isi oleh nasi goreng favorit yang di hiasi oleh telur berbentuk beruang. Melihat itu, perempuan yang kini sudah menginjak umur 17 itu mendelik malas dan melayangkan protes pada sang mami.
"Mi, Ata sudah dewasa. Jangan buat telur begini dong." Protesnya.
Sang mami hanya tertawa "loh bukannya kamu suka jika telurnya di begitukan." Sahut sang mami dengan nada meledek.
Sang kepala keluarga juga tertawa tipis. "Sudah, kamu makan saja. Ini hari pertama kamu masuk setelah libur semester. Masa terlambat lagi." Ucap sang papi dengan nada tegas.
"Pi, aku terlambat juga karena macet. Jangan salahkan aku."
Sang papi menghela napas "dari dulu alasannya mu selalu begitu. Papi tidak mau ya kamu terlambat lagi, kamu ini sudah kelas 12. Kurang-kurangin nakalnya." Nasehat sang papi.
Kalian pasti heran kenapa Abhista menyebut namanya berbeda. Jika ke maminya dia akan memanggilnya dirinya dengan nama Ata. Dengan sang papi memanggil namanya dengan nama Sky. Abhista juga tidak tau alasannya apa, tapi yang jelas Abhista suka panggilannya keduanya.
"Sudah, abiskan sarapan nya. Lalu berangkat ke sekolah dan ke kantor." Ucap sang mami menengahi.
Abhista dan papi Altair hanya mengangguk dan menghabiskan sarapannya dengan tenang.
Setelah menghabiskan sarapan, Abhista berpamitan kepada papi dan maminya. Dan segera berangkat menggunakan mobil BMW sport berwarna biru.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di perjalanan menuju sekolah, dia menghubungi kedua temannya. Gabriella dan Alsava, yang dipanggil Sava oleh Abhista dan Gabriela.
Di pertigaan menuju sekolah mereka bertemu. Rumah mereka sebenarnya berlawanan arah, tapi terkadang kedua temannya itu menginap di sebuah apartemen yang sudah dijadikan basecamp sejak kelas 1 SMA.
Saat ingin memasuki sekolah, Abhista berdecak karena dipintu gerbang dia melihat seorang perempuan yang sangat tidak ingin dia lihat di pagi ini.