Begitu sampai di rumah sakit, Abhista segera di tangani oleh dokter. Begitu juga dengan Arina. Luka yang di alami Arina juga cukup banyak. Membuat Arina pingsan ketika berjalan mengikuti brangkar milik Abhista.
Gabriela tengah duduk sambil memeluk Kavanza. Sepupu nya itu menangis kencang, karena untuk pertama kalinya Abhista terluka cukup parah. Apalagi dia terkena tembakan.
"Apa dia tidak memakai pelindung itu? Jika dia mati bagaimana, Gabi?." Ucap Kavanza dengan histeris.
"Sky tidak akan pernah meninggalkan kita. Aku percaya padanya." Balas Gabriela sambil mengelus bahu Kavanza.
Alsava mengangguk setuju "ata adalah keturunan terkuat di Bagaspati. Tidak mungkin dia mati begitu saja."
Abhista kini berada di ruang operasi. Karena peluru yang yang bersarang di lengan dan juga pinggang nya. Setelah kurang lebih 1 jam. Akhirnya dokter keluar.
Gabriela, Kavanza dan Alsava langsung berdiri menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya?."
"It's stable. However, it must be monitored frequently. We will move the patient to the ward."
"Move to VIP room." Ucap Gabriela. Dokter tersebut mengangguk.
"Oh yes, move the patient in the name of Raespati Arina to the same room as my cousin." Pinta Gabriela lagi.
Dokter itu mengangguk "If so, I'll excuse myself." Ketiganya mengangguk lalu dokter tersebut pun pergi.
Abhista dan Arina dipindahkan ke ruangan yang sama. Keadaan Arina sudah lebih baik. Tapi dia masih belum sadarkan diri, sama seperti Abhista.
Altair sudah di hubungi oleh Gabriela. Dia dan Rayna telah berangkat dari inggris. Ya Altair berada di inggris dia menghadiri pertemuan dengan beberapa koleganya. Saat mendengar putri semata wayangnya terkena tembakan dan terluka parah, membuat detak jantung Altair berpacu dengan cepat. Dia bener-bener takut kehilangan putri semata wayangnya itu.
Sama halnya dengan Altair, Rayna juga khawatir. Sepanjang perjalanan dia menangis di pelukan suaminya. Dia bener-bener takut kehilangan Abhista lagi. Ya dulu Abhista hampir mati, jika Altair, Justino dan Rafka tidak menolong nya tepat pada waktunya.
Sama seperti Altair dan Rayna. Arzan, Tania dan juga Ayzel langsung terbang ke islandia setelah mendapat kabar jika anak dan menantunya terluka. Raut wajah khawatir dari kelima orang itu sungguh ketara sekali.
Begitu sampai di rumah sakit, Altair menodong Gabriela dan Kavanza dengan sejuta pertanyaan.
"Bagaimana bisa sky terluka? Bukankah rencananya tidak begini. Gabi, Kava." Ucap Altair dengan nada tegas.
"Maaf uncle. Kita telat. Sampai disana sky telah terluka. Kita juga lengah, kami tidak melihat jika Renan menembakkan pistolnya pada Sky." Jelas Gabriela dengan nada santai tapi tegas.
"Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?."
"Semuanya stabil. Tapi masih perlu di kontrol."
"Menantuku bagaimana?."
"Dia juga terluka. Tapi tidak separah Sky, uncle." Altair mengangguk.
Tidak ada yang boleh masuk, walaupun keadaan keduanya stabil. Tapi pihak rumah sakit melarang dengan kata, mereka membutuhkan istirahat jika ingin menjenguk nanti siang saja, begitu kata dokter.
Siang harinya keadaan Arina bener-bener stabil. Dia sudah siuman, dia sudah bisa dijenguk begitu juga Abhista. Walaupun Abhista belum menunjukkan tanda-tanda akan segera siuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
True Love Never Dies (END)
Short StoryMenikah di usia yang terbilang sangat muda, sama sekali tidak terpikirkan di benak seorang Skayara Abhista, Dia adalah, cewek cantik, lucu, mapan dan sedikit berisik. Diusia yang kini menginjak umur 17 dia harus menikah dengan cewek yang seumuran de...
