Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kepulangan Sepupu

851 69 1
                                        

Pagi pun tiba matahari sudah muncul dari arah timur. Namun seorang perempuan masih berada di dalam selimut menikmati mimpi indahnya. Tak berselang lama, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

"Ata, ayo bangun. Udah siang ini."

Tidak susah membangunkan seorang Skayara Abhista. Dia sangat sensitif dengan suara-suara. Maka dia langsung mengerjapkan kedua matanya dan bangun dari tempat tidurnya.

"Iya mi." Sahutnya dengan suara serak.

"Setelah mandi, nanti jangan lupa sarapan. Mami udah siapin kamu sarapan."

"Iya mi."

Abhista segera bergegas ke kamar mandi setelah mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari kamarnya.

Hari ini adalah hari dimana keputusan Abhista dan Arina. Mungkin Arina sudah memutuskan, beda halnya dengan Abhista dia tahu harus memutuskan apa untuk hubungan nya ini. Ditambah dirinya yang masih tidak bisa melupakan Avira.

Sampai di ruang makan, ternyata hanya ada maminya, papinya sudah berangkat ke kantor.

"Papi sudah berangkat mi?."

Rayna mengangguk "ayo sarapan dulu. Abis itu baru kamu pergi ke sekolah." Abhista hanya mengangguk pelan. Lalu menyantap sarapan.

"Mami sudah sarapan?."

"Sudah sama papi tadi." Abhista menganggukkan kepalanya dan kembali menyantap sarapan buatan sang mami.

Setelah menghabiskan sarapan, Abhista mengambil air lalu meneguknya hingga habis.

"Mi, aku berangkat dulu ya."

Rayna mengangguk "hati-hati kamu nyetirnya, jangan ngebut."

Abhista mengangguk "siap komandan!." serunya dengan gestur hormat menggunakan tangannya. Rayna menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsunya itu.

Abhista segera berjalan ke mobil yang sudah dipanaskan oleh sopir pribadi papinya. Lalu masuk ke dalam dan langsung menjalankan mobilnya.

Di sepanjang jalan, Abhista memikirkan tentang perjodohan nya dengan Arina yang terbilang sangat mendadak. Tidak taukah papinya jika dirinya masih mencintai Avira, walaupun Arina memiliki wajah seperti Avira. Itu tidak membuat Arina sama dengan Avira di matanya.

Abhista menghela napas panjangnya, lalu ia menekan sebuah nomor yang sudah lama tidak ia hubungi sejak beberapa hari ini.

Tak lama sambungan telfon itu pun tersambung. Dengan suara khas seorang kakek yang menyapanya dengan lembut.

"Halo cucu kakek." Sapanya diseberang sana

Abhista tersenyum simpul "halo juga kek. Emm gimana kabar kakek, sehat?."

"Sehat sekali, kamu dan kedua orang tuamu bagaimana, sehat?."

"Kami semua sehat kek."

"Syukur lah kalo begitu. Oh ya ada apa menelfon kakek? Ada hal yang penting?."

"Tentu kek. Aku bingung."

"Huh? Bingung kenapa?."

Abhista menghentikan mobilnya di pinggir jalan. "Aku dijodohkan dengan seorang perempuan oleh papi. Apa kakek tau soal ini?."

Seseorang diseberang sana tidak langsung menjawab dia diam sebentar. "Yah papi mu sudah mengatakan nya pada kakek.."

"Lalu kakek setuju?."

"Yah kakek tentu setuju. Dia cantik sekali."

"Bukan masalah cantiknya kek. Tapi dia....."

"Musuhmu disekolah bukan?."

True Love Never Dies (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang