Begitu sampai di mobil, Abhista menaruh dua plastik yang ia bawa ke bagasi mobil. Setelahnya dia masuk dan menjalankan mobilnya menuju apartemen.
Abhista memarkirkan mobilnya di basement apartemen. Perempuan itu segera turun dan membuka pintu mobil dimana Arina tertidur.
"Gue bawa Arina aja dulu kali ya? baru nanti gue turun lagi. Iya deh gitu aja."
Abhista segera menggendong Arina dan membawanya ke unit apartemen nya yang berada di lantai 4. Begitu keluar dari lift, dia tidak sengaja melihat kedua orang tua Arina yang sepertinya akan mampir ke unit apartemen dirinya dan Arina.
"Mama, Papa." Sapa Abhista setelah dia berada tak jauh dari kedua orang tua Arina.
"Loh ta, Arina ini kenapa?." Tanya mama Tania panik.
"Arina gapapa kok, Ma. Tadi di mobil dia ketiduran, gak enak kalo di bangunin. Jadinya Ata gendong aja." Jawab Abhista.
"Kebiasaan kalo lagi capek pasti ketiduran." Ucap Papa Arzan.
Abhista terkekeh "emm boleh engga Pa, bukain pintunya. Tangan Ata mulai pegel ini."
"Eh iya, berapa password nya."
"Gausah password pa, pake kartu ini aja." Abhista menyodorkan kartu aksesnya pada sang papa mertua.
Papa Arzan menerimanya lalu membuka pintu itu. Dan mempersilahkan Abhista untuk masuk terlebih dahulu.
"Papa duduk aja dulu. Ata mau bawa Arina ke kamar." Kedua orang yang tak lagi muda itu mengangguk.
Abhista melangkahkan kakinya menuju kamar untuk merebahkan tubuh Arina disana.
Selagi menunggu Abhista papa Arzan dan mama Tania duduk di sofa. Tak lama Abhista turun dengan baju rumahan. Kaos dan juga celana pendek.
Perempuan itu duduk di single sofa dengan matanya menatap lekat kedua orang tua Arina.
"Ada apa papa dan mama datang kesini? Tumben sekali." Tanya Abhista.
"Tidak ada. Hanya ingin melihat kondisi kalian." Ucap papa Arzan.
Abhista mengangguk "papa dan mama ingin minum apa? Biar Ata buatkan."
"Gausah sayang. Kita juga cuma mampir bentar."
"Emm mau aku bangunin Arina, pa, ma?. Biar ngobrol sama kalian." Saran Abhista.
"Gausah, kita tau dia kecapean. Mending jangan."
Abhista ingat jika papa mertuanya ini adalah rekan bisnis Marlon. Maka ia memberanikan diri untuk bertanya pada laki-laki yang berstatus papa mertuanya itu. Namun dia tidak enak karena ada mama mertuanya.
Mama Tania yang melihat raut wajah Abhista yang berubah itu pun peka. Maka dia berinisiatif untuk memasak saja, karena beliau berniat untuk makan malam bersama dengan suami, anak dan juga menantunya.
"Em. Ta kamu ada bahan masakan engga? Mama dan papa rencananya mau makan malam bareng sama kamu dan Arina." Ucap mama Tania.
"Kebetulan, ma. Tadi aku beli-beli bahan masakan. Tapi masih di bagasi, biar aku ambil dulu ma." Ucap Abhista.
"Gausah biar mama aja." Kata mama Tania.
"Jangan ma, biar Abhista."
"Yaudah kalo gitu." Abhista bangun dari duduk. "sebentar ya pa, ma." Keduanya mengangguk.
Abhista berjalan keluar dari unit apartemen nya. Untuk mengambil bahan-bahan masakan, cemilan dan minuman yang tadi dia beli.
Di lain sisi Arina yang terbangun dari tidurnya itu mengerjapkan kedua matanya melihat ke sekeliling. Dia terkejut karena sudah berada di kamar apartemen nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
True Love Never Dies (END)
Short StoryMenikah di usia yang terbilang sangat muda, sama sekali tidak terpikirkan di benak seorang Skayara Abhista, Dia adalah, cewek cantik, lucu, mapan dan sedikit berisik. Diusia yang kini menginjak umur 17 dia harus menikah dengan cewek yang seumuran de...
