Untuk satu minggu kedepan SMA Angkasa tidak akan ada proses belajar mengajar. Karena masih berada di semester baru atau lagi masa orientasi siswa untuk kelas 10.
Kini Abhista, Gabriela, Kavanza yang di juluki The Aresion dan juga Alsava sedang berada di ruang tersembunyi.
"Yang nyerang kemarin tetep keluarga Ravenzie? Atau orang lain?." Tanya Abhista.
"Tetep sama, cuman kali ini bekingannya bukan cuma keluarga Ivander aja, tapi yang lain." Ucap Kavanza.
"Siapa?."
"Salah satu kolega papa nya Arina, Marlon." Jawab Alsava.
Abhista langsung menoleh pada Alsava "papa Arina?."
Gabriela mengangguk "tapi om Arzan gak tau soal ini. Sepertinya, orang itu deketin dan ajak kerjasama perusahaan om Arzan karena ingin mengadu domba keluarga Devantara dan Bagaspati nantinya." Kat Gabriela.
"Sudah tidak diragukan lagi. Tapi gue masih tidak habis pikir apa keuntungan yang didapat Ivander dan orang itu sehingga mau saja membantu, Ravenzie? Bukankah Ravenzie sudah tidak memiliki kekayaan? Semuanya pada sudah di sita oleh polisi." Ucap Alsava.
"Itu yang harus kita cari tau. Kita tidak bisa diam saja. Gevano dan Marlon bukanlah orang sembarangan juga, kata papi dua orang itu cukup berbahaya." Timpal Abhista.
"Bagaimana caranya kita cari tau? Kita tidak punya rencana." Tanya Kavanza.
"Kita bisa menggunakan Zenna, dia pasti tau rencana ayahnya. Sedangkan soal Marlon, gue akan tanyakan sama papa Arzan." Ucap Abhista.
"Oke soal Zenna biar kita yang ngurus." Balas Gabriela.
"Hati-hati, musuh kita kali ini bukan orang sembarangan salah langkah dikit nyawa taruhannya. Kalo ada yang terdesak hubungin, Altair, Justino dan Rafka. Jangan bertindak sendiri." Peringat Abhista.
Semuanya mengangguk setuju, tentu Gabriela dan Kavanza tunduk. Karena Abhista adalah sepupu tertua, keturunan terkuat dan juga leader bagi mereka. Alsava sebenarnya tidak diperbolehkan untuk ikut campur namun perempuan itu kekeh. Karena yang ia tau keluarga nya juga mempunya masalah dengan keluarga Ivander.
"Gue pengen bantuin. Izinin ya, gue pengen hancurin Ivander sampek ke akar-akarnya."
Setelah diskusi yang cukup panjang, mereka keluar dari ruangan itu dan pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.
Mereka duduk ditempat biasanya di pojok deket pintu masuk. Kini giliran Alsava yang pergi memesan, sedangkan Abhista pergi ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Abhista mencuci tangan dan juga wajahnya. Saat mendongak untuk menatap cermin ia melihat Arina tengah keluar dari salah satu bilik kamar mandi sambil merapikan seragamnya.
Arina juga mendongak, terkejut karena dia bertemu dengan istri nya di kamar mandi sekolah. Abhista membalikkan badan untuk menatap Arina dengan jelas.
"Sendirian aja emm? Kalo ada yang jahatin gimana?." Ucap Abhista.
Arina tertawa pelan "parnoan kamu, Sheila sama Navella lagi di kantin. Lagian aku udah biasa ke kamar mandi sendiri."
Abhista menarik pelan tubuh Arina untuk mendekat membuat Arina cukup terkejut.
"Sudah aku bilang kan, kalo mau kemana-mana itu harus didampingi, jangan sendiri."
"Tau aku, tapi ini cuma di kamar mandi. Deket kantin juga."
"Yaudah lah, gak akan menang kalo aku debat sama kamu." Abhista merapikan rambut Arina dan menyelipkan nya ke belakang daun telinganya.
"Itu kamu tau. Oh ya ta, tadi papa telfon, katanya ada yang ingin dibicarakan sama kamu." Ucap Arina.
KAMU SEDANG MEMBACA
True Love Never Dies (END)
Short StoryMenikah di usia yang terbilang sangat muda, sama sekali tidak terpikirkan di benak seorang Skayara Abhista, Dia adalah, cewek cantik, lucu, mapan dan sedikit berisik. Diusia yang kini menginjak umur 17 dia harus menikah dengan cewek yang seumuran de...
