7 - Cerita Dari Sobat Duniawi

99 9 0
                                        

“Tuh, liat tuh. Yang rumahnya paling deket tapi datangnya paling telat,” ucap Miss Neina pada Miss Nike yang duduk di sebelahnya sembari memonyongkan bibirnya ke arahku yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Aku denger lho!” sergahku dengan nada pura-pura kesal.

“Justru sengaja biar kamu denger, Miss, biar nggak dibilang gibah dan nggak dapet dosa. Yang dapet dosa itu kalau ngomongin di belakang, kan? Berarti kalau ngomongin di depan nggak papa dong,” kekeh Miss Neina yang ditanggapi tawa oleh Miss Nike.

“Mana ada yang begitu?” sahutku seraya mendecak tapi kemudian tertawa bersama mereka berdua.

“Apa kabar, Miss?” tanya Miss Nike yang lebih dulu menarikku ke dalam pelukannya setelah derai tawa kami berhenti. Kami berpelukan sebentar kemudian cipika-cipiki.

“Baik,” jawabku. “Kamu sendiri gimana, Miss?” tanyaku balik.

Setelah selesai dengan Miss Nike, aku beralih ke Miss Neina seraya menanyakan hal yang sama seperti yang kutanyakan pada Miss Nike dan keduanya menjawab sama dengan jawabanku. Kami kemudian duduk saling berhadapan karena meja makan di depan kami berbentuk bundar dengan kursi-kursi yang mengelilingi meja.

“Lho, makananmu di mana, Miss?” tanya Miss Neina ketika menyadari aku tidak membawa nampan apapun ke meja. “Kamu nggak pesen makan sekalian, Miss?” tanya Miss Neina lagi yang kujawab dengan gelengan.

“Lah, emang tadi pas di depan nggak ada mbak-mbak yang menyambit eh menyambut?” Miss Nike juga ikut bertanya dengan berseloroh seperti biasanya.

Aku nyengir. “Ada sih. Tadi nawarin juga. Tapi aku bilang nanti aja soalnya mau ketemu temen yang udah dateng ke sini dulu. Presmuk. Presensi muka. Lagian aku malu kalau milih-milih makanan sendiri.”

“Malu kenapa?” tanya Miss Neina dan Miss Nike nyaris bersamaan.

Aku celingak-celinguk sebelum akhirnya berbisik pelan, “Aku takut ketahuan kalau porsinya jumbo meski badan langsing. Nanti dikira artis mukbang.”

Miss Neina dan Miss Nike mencebik padaku.

“Ya udah, sini aku temenin deh.” Miss Nike menawarkan diri.

Aku dan Miss Nike kemudian beranjak dari meja kami, meninggalkan Miss Neina sendirian, dan melangkah menuju bagian depan Omah Carkonah di mana ada sebuah meja besar dengan wadah-wadah stainless steel yang berisi lauk-pauk beraneka ragam dan tumpukan piring serta sendok dan garpu.

Omah Carkonah adalah sebuah kafe dengan konsep hidangan rumahan yang dimakan secara prasmanan. Bangunannya memanfaatkan bekas rumah dinas pabrik gula yang ada di Sragi dan dari segi arsitektur sepertinya keadaan bangunan tidak banyak diubah untuk menonjolkan kesan estetikanya. Jendela-jendela lebar menghiasi beberapa sisi bangunan. Ubin-ubin berbagai macam corak ditempel di lantai dan malah menjadikan bangunan kafe ini punya ciri khas tersendiri. Bagian depan bangunan kafe juga masih banyak pohon-pohon rindang sehingga menjadikan kafe ini semakin menyejukkan.

Sebagai kaum perempuan dengan ponsel pintar di tangan tentu kami bertiga tidak mungkin melewatkan berpose dengan latar belakang kafe yang estetik ini. Semua sudut kafe kami coba dengan beragam pose— untunglah kondisi kafe sedang tidak ramai sehingga kami bisa puas berfoto tanpa harus merasa malu. Setelah puas berfoto diri, kami juga memfoto hidangan yang sudah kami pesan. Namun, itu tidak berlangsung lama sebab makanan yang semula panas kini sudah mulai dingin. Es batu di dalam minuman yang kami pesan pun sedikit demi sedikit mulai mencair. Kami pun buru-buru menghabiskan hidangan pesanan kami sebelum suhu makanan dan minuman berubah dan menghilangkan nafsu makan kami.

"Omong-omong, kamu kok dateng sendirian sih, Miss? Zahira-nya mana? Aku, kan, ngajakin ketemuan sebenernya pingin liat Zahira juga," protes Miss Neina di sela-sela makannya.

The Course Jilid Dua | TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang