38 - Berbanding Terbalik

55 6 0
                                        

"Kalau gitu sekarang mau belajar apa?” tanyaku pada seorang murid perempuan yang kini duduk di kelas 4, sebut saja namanya Firly. “Mau ngerjain PR? Ada PR nggak?” tawarku.

Ia menggeleng. “Nggak ada PR, Bu. Ng, belajar Matematika aja deh, Bu,” putusnya setelah berpikir sejenak.

Aku mengangguk kemudian mencari soal-soal latihan Matematika untuk kelas 4 di drive ponselku. “Pelajaran Matematika di sekolah sudah sampe mana?” tanyaku sembari mencari-cari berkas soal.

Firly berpikir sejenak lalu menjawab, “lupa!” sambil nyengir.

Aku mendesah pelan. Kids jaman jigeum¹, batinku. Apa sih yang bisa nempel di kepala mereka selain tren TikTok?

“Ya udah, kalau gitu Bu Mira kasih soal sembarang ya pokoknya buat kelas 4 aja.”

Usul itupun kemudian disetujui Firly dengan respon anggukan kepala.

Aku memilih-milih soal yang sekiranya mudah tapi cukup tricky untuk mengetes sejauh mana pemahaman Firly tentang materi Matematika. Setelah mencari-cari beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk memberikan soal tentang nilai tempat.

“Kalau nilai tempat udah pernah, kan?” tanyaku seraya menunjukkan contoh soal di ponselku kepada Firly.

Firly berpikir sejenak kemudian berkata, “kayanya udah sih, Bu, dulu.”

Aku mengangguk kemudian mulai menulis soal.

Aku memilih soal nilai tempat karena  sebenarnya soal ini termasuk soal sederhana tapi banyak muridku yang tergocek. Oleh sebab itu, jika Firly bisa menjawab semua soal tentang nilai tempat yang kuberikan itu berarti Firly lolos skrining awal.

“Kamu sekolah di SD mana, Fir? SD 1 atau 2?” tanyaku sembari menulis— oh, aku memang bisa multitasking— di buku tulis Firly.

Firly tidak menyebut salah satu di antara keduanya dan malah menyebut sebuah sekolah swasta di daerahku yang terbilang cukup mahal.

“Oh, kamu sekolah di situ?” tanyaku mengkonfirmasi. “Itu sekolah bagus, kan?”

“Iya, Bu,” jawab Firly. Terselip nada bangga pada ucapannya karena aku memuji sekolahnya. Dia bahkan bercerita bahwa sekolahnya menyediakan layanan bimbingan belajar sepulang sekolah yang menjadi nilai plus sekolah itu.

Waduh, salah kasih soal nih gue, batinku. Kalau dia sekolah di situ berarti dia pasti anak pinter dong. Soal beginian doang berarti ngerjainnya bisa sambil merem.

Namun, aku yang sudah terlanjur menulis beberapa soal merasa sayang kalau harus mengubah soal lagi terlebih aku menulis menggunakan pulpen sehingga tidak mudah dihapus.

Wes lah nggak papa. Kalau misal dia udah bisa ngerjainnya berarti emang bener dong kualitas sekolahnya nggak kaleng-kaleng. Nanti tinggal ganti kasih soal lain yang sesuai kemampuannya aja, tepisku menenangkan kekhawatiranku sendiri.

Akupun segera menulis soal dengan cepat kemudian segera mengangsurkan buku tulis Firly kembali kepada pemiliknya.

“Ya udah nih kamu kerjain dulu ya sambil coba kamu inget-inget lagi pelajaran Matematika di sekolah udah sampe mana biar selanjutnya kita belajar materi di sekolah aja,” kataku.

Firly mengangguk kemudian mulai membaca soal yang kuberikan sementara aku mencari kesibukan lain dengan membuka-buka buku paket soal Matematika kelas 6 sambil iseng mengerjakannya.

“Ng, Bu, iniiii gimana ya?” tanyanya dengan cengiran lebar setelah beberapa menit berlalu.

“Loh, jadi dari tadi kamu belum ngerjain soalnya satupun?” Aku membelalak kaget.

Firly nyengir kemudian menggeleng pelan.

“Katamu tadi ini udah pernah diajarin, kan?”

Firly mengangguk lantas nyengir sambil berkata, “iya, tapi udah lupa, Bu, soalnya udah lama banget.”

Aku mendesah pelan seraya menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Aku lantas menjelaskan materi tentang nilai tempat tadi pada Firly sambil memberikan contohnya. Firly mengangguk-angguk mantap sehingga aku berpikir bahwa ia sudah paham dengan penjelasanku. Namun, apa lacur, bocah itu ternyata masih salah juga dalam mengerjakan soal. Dari sepuluh soal hanya dua yang benar. Itupun karena aku membimbingnya selama pengerjaan. Sisanya yang dikerjakannya sendiri salah semua.

“Kalau kamu ketemu soal semacam ini, kamu kerjakan aja dari paling belakang karena angka paling belakang nilainya pasti satuan. Sebelah kiri satuan itu pasti nilainya puluhan dan seterusnya. Jadi setelah satuan yang ini kamu tambahin angka nol di belakangnya. Yang puluhan ditambahin angka nol satu, yang ratusan nolnya dua, yang ribuan angka nolnya tiga, dan seterusnya,” kataku sembari memberikan math hack terkait materi nilai tempat sementara Firly mengangguk-angguk seperti tadi.

“Ya sudah, karena ini sudah setengah delapan jadi Bu Mira kasih PR aja ya tentang nilai tempat tadi. Pertemuan berikutnya baru Bu Mira nilai. Oke?” Aku menyudahi pertemuan hari itu. “PR-nya jangan lupa dikerjakan terus caranya diinget-inget biar nggak lupa. Pelajaran itu jangan sampe ada yang lupa karena sebenernya pelajaran sekolah itu cuma pengulangan materi dari kelas-kelas sebelumnya aja. Kalau kamu udah paham, kan, bebanmu berkurang banyak. Biar nggak lupa caranya ya belajar di rumah. Diulang-ulang terus. Oke? Udah sekolah di sekolah bagus jadi kamunya juga harus pinter dong.” Firly cengar-cengir saja saat mendengar kata-kataku.

“Ealah, ternyata sekolah di sekolah bagus belum jaminan anaknya pinter juga ya, Yah,” ceritaku pada mas Ganjar malam harinya, seperti biasa, di sesi pillow talk.

Mas Ganjar yang sedang membaca Riyadhus Shalihin dan Penjelasannya meletakkannya di atas pangkuan, mengalihkan pandangannya padaku, lalu bertanya, “Siapa? Murid Ibu?”

Aku mengangguk seraya menguap-nguap karena malam itu aku memang sangat mengantuk setelah mengajar maraton sejak pukul satu siang hingga setengah delapan malam— sejak liburan sekolah berakhir jam mengajarku malah jadi betul-betul penuh.

“Emangnya sekolah di mana?” tanya mas Ganjar lagi.

Aku menyebutkan sekolah bergengsi yang jadi sekolah Firly lalu mas Ganjar mengangguk-angguk. “Jaman sekarang emang nggak bisa, Bu, bikin patokan sekolah bagus pasti murid-muridnya pinter apalagi sejak ada zonasi. Sekolah negeri yang tadinya favorit aja jadi rusak semua. Apalagi sekarang sekolah juga bisa dipolitisasi pake uang. Siapapun yang punya uang bisa masuk ke sekolah tertentu. Makin rusak lah itu pendidikan Indonesia.”

Aku mengangguk setuju. “Mana era sekarang era digital jadi orang tua dan guru juga kerjanya makin ekstra buat ngajar anak-anak jaman sekarang. Udah gitu sistem pendidikannya juga masih ketinggalan jauh bahkan dari negeri tetangga,” imbuhku yang diamini mas Ganjar pula.

Mas Ganjar mengelus kepalaku. “Wes, nggak usah Ibu pikirin. Kalau ngantuk tidur aja. Urusan sistem dan negara nggak usah ikut dipikir juga. Urusannya presiden dan menteri-menterinya itu. Toh, kalau kita ikut mikir nggak bisa ngubah apa-apa juga. Ibu tidur aja sana. Udah nguap segitu lebarnya aja masih mikirin urusan negara dan sistem pendidikan,” ucapnya seraya terkikik.

Aku nyengir lalu merebahkan diri di atas bantal. “Ya udah, Yah, Ibu tidur dulu ya. Ngantuk berat. Nggak kuat.”

Mas Ganjar mengangguk. “Iya. Ini Ayah mau lanjut baca lagi sebentar,” katanya.

Aku mengangguk lalu tanpa sadar aku sudah terseret ke alam mimpi.

Catatan.
¹ Anak-anak jaman sekarang

──  ⊱  𝓣𝓱𝓮 𝓒𝓸𝓾𝓻𝓼𝓮  ⊰  ──


The Course Jilid Dua | TAMATTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang