“Kalau yang penjumlahan tanpa menyimpan caranya kaya tadi ya. Nah, sekarang soal yang berikutnya itu adalah penjumlahan dengan cara menyimpan dan caranya seperti….”
Aku terpaksa menggantung kalimatku kemudian menghela napas panjang ketika melihat gadis kecil di depanku buru-buru mengerjakan soal-soal latihan yang ada di buku tulisnya sebelum aku selesai menerangkan materi hari itu.
“Ya udah deh kamu kerjain aja dulu kalau gitu,” putusku kemudian pada Septi, nama muridku itu, yang kini duduk di kelas 3 SD.
Meski aku sedikit dongkol karena Septi mengabaikan penjelasanku tapi aku membiarkan Septi menyelesaikan soal-soal latihannya sembari memperhatikan cara kerjanya. Aku melihat dia membuat kesalahan di sana sini tapi aku masih diam saja. Kubiarkan dia selesai menuntaskan pekerjaannya baru nanti aku akan menunjukkan di mana letak kesalahannya— sekaligus memberi sedikit wejangan.
“Sudah selesai, Bu,” pekau Septi seraya mengangsurkan bukunya padaku.
Aku mendekatkan kembali buku tulis Septi ke hadapan pemiliknya lalu berkata, “Kita teliti sama-sama ya, Septi.”
“Emang ada yang salah, Bu?” tanya Septi.
Well, tingkat rasa percaya diri anak ini memang patut diacungi jempol. Sebelum ini dia pernah sok-sokan mengajari temannya membaca ketika aku tengah mengajari temannya membaca padahal Septi pun pun masih membaca dengan terbata-bata.
“Makanya kita koreksi bersama apa ada yang salah atau nggak. Oke?”
Gadis kecil itu pun akhirnya mengangguk meski wajahnya semula tampak keberatan.
“Kita mulai ya. Soal nomor 1. Dua puluh delapan ditambah tiga puluh sembilan. Jawabanmu lima satu lima atau lima ratus lima belas.” Aku mengetuk-ngetuk tepat di jawaban yang ditulis Septi. “Apa ini jawaban yang bener? Nah, Bu Mira pengen tahu gimana cara kamu ngitungnya kok kok bisa dapet angka ini?”
Septi kemudian menjelaskan caranya menghitung yang sudah tentu salah total.
Aku tersenyum. “Caranya belum benar, Sep. Sebenernya caranya tuh masih sama kaya tadi yang penjumlahan tanpa menyimpan. Kalau udah berbentuk bersusun begini tinggal kerjain dari…. Dari mana dulu, Septi?” tanyaku sekaligus mengetes kembali pemahaman Septi.
Aku memang harus sering-sering mengulang penjelasan tiap mengajar karena mereka mudah sekali lupa bahkan pada apa yang mereka dengar kurang dari semenit lalu.
“Ng, ini dulu.” Septi menunjuk pada angka dua pada bilangan dua puluh delapan dan tiga pada tiga puluh sembilan.
“Oh ya? Coba diingat-ingat tadi pas ngerjain soal penjumlahan sebelumnya caranya gimana? Kerjain dari mana dulu? Kamu, kan, tadi bisa ngerjain sendiri dan semuanya bener.”
“Ng, ini dulu.” Septi akhirnya menunjuk angka yang benar.
Aku mengangguk. “Iya. Jadi kalau ada operasi hitung penjumlahan dan pengurangan selalu ingat untuk kerjakan dari bilangan yang paling belakang dulu. Nah, kalau gitu berapa delapan ditambah sembilan?”
Septi mulai menghitung kemudian menjawab, “lima belas.”
“Coba dihitung lagi.”
Septi masih menjawab dengan angka yang salah beberapa kali hingga akhirnya dia menjawab tujuh belas dan aku berteriak, “Bagus. Nah, sekarang—”
Belum selesai aku memberi penjelasan lagi-lagi Septi buru-buru menuliskan jawabannya setelah menghapus jawaban sebelumnya yang salah. Sayangnya, dia hanya menghapus bagian lima satuan sementara angka-angka yang lain masih dia biarkan sebagaimana tadi.
