Delapan muridku malah berkerumun sekembalinya aku dari toilet— tadi aku pamit buang air kecil setelah aku selesai menuliskan jawaban soal-soal latihan di papan tulis— dan tampaknya mereka sedang sibuk membahas sesuatu alih-alih menyalin jawaban di papan tulis.
“Nah, itu Bu Mira udah balik,” seru Nabila.
“Emangnya ada apa? Nulisnya udah selesai, belum?” tanyaku.
“Belum, Bu!” Mereka berdelapan menjawab kompak. “Tapi Iang mau nanya sesuatu katanya,” imbuh Nabila buru-buru sambil terkikik.
Iang adalah panggilan akrab Raihan dari teman-temannya.
“Nanya apa?” tanyaku beralih pada Raihan.
“Raihan mau sunat katanya, Bu,” sela Albi kemudian cekikikan dengan Dimas dan Iqbal yang duduk di sebelahnya.
“Oh, bagus dong. Kapan?” tanyaku.
“Nanti, Bu, kalau udah kelas 5,” jawab Raihan sambil cengengesan seperti biasa.
“Kok nggak sekarang aja. Kenapa harus nunggu kelas 5?” tanyaku lagi.
“Mbuh kuwi. Kudune kowe, kan, iki wes kelas 5 berarti kudune kowe wes sunat iki¹.” Dimas ngegas.
“Opo kowe? Rasah melu-melu. Emange kowe wes sunat²?” Raihan mendelik ke arah Dimas yang menertawai Raihan bersama Albi dan Iqbal.
“Yo durung tapi aku, kan, pancen durung kelas 5. Nek kowe, kan, wes ora munggah sepisan³.” Dimas masih tidak mau kalah.
“Sudah, sudah,” leraiku sebelum mereka betulan cakar-cakaran.
“Kecing⁴ huuuuu!” ledek Dimas masih tidak puas. Kali ini Albi juga ikut mengompori.
“Sudah, Dim, sudah. Kamu juga belum sunat kok. Albi udah sunat belum? Iqbal?” Aku bertanya satu satu pada murid-murid cowokku.
Dimas dan Albi cengengesan.
“Aku udah sunat kok, Bu,” sahut Iqbal kalem.
“Nah, berarti yang tadi cengengesan pasti yang belum sunat. Iya, kan?” tudingku pada Dimas dan Albi yang masih saja cengengesan. “Yang belum sunat nggak usah ngeledek. Emang kamu tahu rasanya sunat sampe ngatain kecing itu?” cercaku pada mereka berdua.
“Emang rasanya sunat gimana, Bu?” tanya Albi padaku dengan polosnya.
“Ya ndak tahu kok tanya saya,” jawabku menirukan omongan seseorang yang langsung diganjar sorakan oleh kedelapan muridku.
“Ah, Bu Mira. Kirain Bu Mira tahu rasanya,” gerutu Albi.
Aku tertawa. “Kamu tanya rasanya sunat kok sama Bu Mira ya sampe kapanpun Bu Mira nggak bakal tahu. Kalau kamu tanya sama bapakmu pasti tahu.”
Murid-muridku, selain Albi, tertawa terbahak. Raihan bahkan meledek dengan tanya-bapakmu-sana dalam bahasa Jawa.
“Kok bisa gitu, Bu?” Albi malah masih bingung.
“Lha, Bu Mira, kan, cewek. Cewek mana ada yang disunat?” jawabku yang diberi sorakan ‘hu’ pendek oleh para murid cewek.
“Gitu aja kok ga ngerti,” ejek Nabila dan Anisa nyaris bersamaan.
“Tapi kira-kira sakit nggak, Bu, kalau disunat tuh?” tanya Dimas kali ini.
Aku langsung menudingnya. “Hayo, takut ya? Gitu kok tadi ngatain Raihan kecing. Siapa yang kecing sekarang hayo?” ledekku.
Dimas tersenyum seraya menggaruk kepalanya sementara Raihan tertawa puas dan balik meledek Dimas dengan kata yang sama yang tadi ditujukan padanya.
“Kalau persisnya gimana Bu Mira nggak tahu ya tapi kalau ditanya sakit apa enggak ya jelas sakit lah. Itu, kan, ibarat daging diiris. Jarimu nggak sengaja keiris pisau, misalnya, itu aja sakit, kan, apalagi yang sengaja diiris terus dipotong terus dijahit pula.”
