"Katanya lagi sakit, Nay, kok kamu tetep berangkat?" tanyaku begitu melihat Kanaya di ambang pintu.
Kanaya adalah salah satu muridku yang duduk di kelas 3. Dia belum lama bergabung jadi murid di bimbelku dan jadi salah satu muridku yang cukup cemerlang. Bagaimana tidak, ibunya menyuruhnya les ke beberapa guru sekaligus sehingga dalam sepekan jadwal lesnya sangat padat. Belum lagi ditambah les berenang di akhir pekan yang menambah padat jadwal kegiatannya. Dia juga punya tata krama yang baik di antara murid-muridku yang lain; bilang maaf ketika berbuat salah misalnya ketika tidak sengaja menjatuhkan pulpenku atau menyenggol lenganku ketika aku sedang menulis dan tulisanku jadi jelek, berterima kasih setelah mendapat bantuan atau barang, tidak pernah mengutak-atik barang yang bukan miliknya meski barang itu ada di depan matanya, izin sebelum memakai barang milik orang lain, tidak pernah berkata kotor, dan sebagainya yang jarang kutemui pada murid-muridku yang lain.
Kanaya mengangguk lemah. "Ibu bilang nggak papa berangkat aja soalnya udah lama nggak berangkat," sahutnya lirih.
Kanaya memang sudah absen selama enam pertemuan lebih atau sudah lebih dari dua pekan karena sakit. Senyum ceria yang biasanya selalu muncul di wajahnya setiap kusambut kedatangannya di rumahku kini lenyap berganti dengan bibir pucat dan tubuh lemas. Kata ibunya Kanaya sakit demam. Namun, aku tidak tahu pasti demamnya karena apa. Cuaca memang agak menyebalkan akhir-akhir ini; sebentar panas, sebentar hujan, lalu panas lagi, siang hari panas macam di gurun, malam hari dingin menggigil tiada ampun. Aku menebak sakit Kanaya karena cuaca musim pancaroba karena Zahira juga demam akhir-akhir ini.
"Ya kalau kamu masih sakit ijin lagi aja nggak papa, Nay. Ibumu, kan, bisa WA Bu Mira lagi," kataku.
Kanaya menggeleng. "Ibu nggak mau kehilangan jadwal les lagi kaya waktu itu, Bu, soalnya takut susah ngatur waktunya lagi," tuturnya.
Aku memang memberlakukan aturan baru sejak bimbelku mulai ramai. Murid-murid, terutama yang nongrup, yang sudah punya jadwal tetap tetapi absen selama dua pekan berturut-turut atau selama minimal enam kali pertemuan tanpa pemberitahuan maka jadwalnya akan kuhapus dan kuganti secara sepihak dengan jadwal kelas lain- aku menyebut aturan ini sebagai "pemutihan". Aturan ini terpaksa kuterapkan sejak beberapa muridku tidak berangkat dalam waktu lama berturut-turut dan tanpa keterangan sehingga membuatku bingung ketika ada murid baru yang mendaftar dan menanyakan ketersediaan jadwal.
Kanaya kena apes jadi salah satu murid yang jadi korban aturan pemutihanku ini karena sempat absen selama lebih dari dua pekan sebelumnya karena kesibukannya waktu itu. Alhasil setelah jadwal kegiatannya agak longgar ibunya menghubungiku lagi dan kembali meminta jadwal.
Aku mengangguk saja sebagai respon.
"Ya sudah, sekarang kita mau belajar apa? Ada PR?" tanyaku kemudian.
Kanaya menggeleng tapi sambil mengeluarkan buku tulis dan buku paket sekolahnya. Suasana kelas yang biasanya cukup ramai meski hanya ada Kanaya jadi sepi karena Kanaya tidak banyak bicara. Baru kali ini aku jadi merasa canggung ketika mengajar Kanaya padahal kalau dia sehat obrolan kami bisa mengalir; dari bahasan soal teman sekelasnya yang klepto, kakak kelas yang ditaksirnya, hingga bertukar informasi soal alat tulis lucu yang dijual di sebuah toko di pusat kota.
"Gimana kalau kita ngebahas tentang..." Aku membuka buku paket milik Kanaya lalu mencari-cari materi yang belum kami bahas, "aah, ini aja gimana?" Aku menunjuk sebuah tema.
Kanaya mengangguk saja padahal biasanya kami berdebat dulu menentukan materi apa yang hendak kami bahas tiap pertemuan.
"Oke nih?" Kanaya mengangguk lagi tanpa perlawanan. "O-oke." Akupun menerangkan materi pertemuan kami hari itu lalu menuliskan soal setelah aku merasa cukup memberikan penjelasan.
