“Bu Mira, kalau temen kita mau les di sini boleh nggak?” tanya Oliv suatu hari ketika aku tengah sibuk mengoreksi tugas yang sudah dikerjakannya tadi.
“Ya boleh dong. Nanti jadwalnya barengan aja sama kalian,” kataku sambil menatap Oliv yang kini les bersama Raisa dan Safira.
Raisa dan Safira adalah murid kelas 6 yang juga teman sekelas Oliv. Mereka berdua bergabung di bimbelku setelah Oliv karena Olivlah yang mengajak mereka.
“T-tapi temen kita itu lesnya bukan les pelajaran, Bu,” sela Raisa.
Aku mengernyit. “Kalau bukan les pelajaran terus les apa?” tanyaku bingung.
“Ng, anu, kata bu guru di sekolah temenku ini disuruh les membaca dulu, Bu,” sahut Oliv yang membuatku harus mengkonfirmasi satu hal.
“Tunggu, tunggu. Temen kalian ini temen sekelas, kan, maksudnya?”
Oliv mengangguk.
“Kelas 6 juga, kan, berarti?” Kali ini Raisa dan Safira juga sama-sama mengangguk bersama Oliv. “Berarti temen kalian itu masih belum bisa baca meski udah kelas 6?” Mereka bertiga mengangguk lagi mengiyakan pertanyaanku. “Sama sekali?” Mereka mengangguk lagi entah sudah yang keberapa kali dalam waktu kurang dari enam puluh detik.
“Huruf aja belum hafal kok, Bu, gimana bisa baca?” tukas Oliv pelan yang membuatku tertampar keras.
“Yang A sampe Z, kan?”
Ketiganya mengangguk menjawab pertanyaanku.
Ya masa dari alpha sampe omega, tukas peri antagonis dalam diriku dengan sinis.
Aku menghela napas panjang.
Kembali ke masa dua tahun lalu— saat aku pertama kali membuka bimbel— aku sudah cukup dibuat terkejut saat mendapati murid kelas 2 masih belum lancar membaca. Namun, aku menyadari bahwa akupun dulu baru bisa membaca saat aku duduk di kelas 2 jadi aku masih bisa memakluminya karena kupikir itu masih belum jadi masalah besar. Meskipun aku memang tetap merasa ganjil karena keadaanku saat itu dan keadaan anak-anak ini di masa sekarang sudah sangat jauh berbeda. Dulu aku baru bisa membaca di kelas 2 SD karena bimbingan belajar membaca masih belum ada, kalaupun ada belum marak seperti sekarang dan harganya pun terbilang mahal. Aku hanya mengandalkan guru di sekolah. Sementara anak-anak ini harusnya sudah lancar membaca karena bimbingan belajar membaca sudah jauh lebih banyak dengan harga bervariasi serta banyak bertebaran metode membaca di internet yang bisa ditiru orang tua di rumah secara gratis.
Seolah mendapat murid kelas 2 yang belum lancar membaca belum cukup mengejutkanku, aku akhirnya mendapatkan murid-murid di kelas yang lebih tinggi yang masih belum lancar membaca bahkan ada yang belum kenal huruf sama sekali tapi kupikir kasus Iqbal dan Raihan sudah yang paling parah. Nah, kalau Raihan dan Iqbal bagiku sudah paling parah lantas teman Oliv, Raisa, dan Safira ini harus kusebut apa?
“Temen kalian ini kok bisa sampe kelas 6 masih nggak bisa baca? Orang tuanya kemana?” tanyaku setelah keheningan sempat menyergap kami selama beberapa menit.
“Ibunya kerja di luar negeri, Bu.” Safira yang sedari tadi diam saja akhirnya angkat bicara.
“Jadi TKW?” Mereka bertiga mengangguk kompak. “Di mana?”
“Kalau di mananya sih nggak tahu, Bu, tapi intinya ibunya jarang pulang,” masih sahut Safira.
“Terus bapaknya?”
“Di rumah ada sih bapaknya, Bu, sama kakak dan adeknya juga,” jawaban Oliv terdengar menggantung sehingga aku menyahut.
“Tapi?”
