“Kok jadwalnya Bintang jadi hilang, Bu?” protes ibu Bintang, salah satu muridku yang duduk di kelas 1 SD, ketika kuberitahu bahwa anaknya harus mengatur ulang jadwal pascalibur.
“Saya, kan, sudah dari awal ngasih tahu Ibu kalau jadwal setelah libur pasti berubah karena jadwal les saat libur hanya berlaku sementara kecuali memang ada konfirmasi kalau anak-anak yang sudah ada jadwal tetap sebelumnya mengundurkan diri atau nggak lanjut les lagi, Bu. Waktu itu Ibu sudah mengiyakan to?” jelasku. “Lagian selama liburan kemaren juga Bintang jarang berangkat jadi jadwalnya saya oper ke anak lain. Saya juga sudah memberitahukan soal ini sebelumnya, kan? Kalau Ibu lupa saya masih punya bukti chat-nya,” imbuhku tak gentar yang membuat ibu Bintang terdiam karena tidak bisa mengelak.
“Anu, Bintang memang sempet lama nggak masuk karena waktu itu saya lagi repot, Bu. Sempet ada hajatan keluarga selama dua minggu terus abis itu saya sempet repot karena anak juga rewel habis sakit.” Ibu Bintang mengemukakan alasannya.
Aku mengangguk. “Iya tapi Ibu waktu itu nggak ada pemberitahuan jadi saya juga bingung mau mempertahankan jadwal untuk Bintang atau lepas karena selama Bintang nggak berangkat banyak yang tanya apa ada jadwal kosong dan saya waktu itu tetep mempertahankan jadwal Bintang sampe selesai libur sekolah,” terangku lagi yang membuat ibu Bintang tertunduk malu tapi tak ayal air muka ibu Bintang menunjukkan kekecewaan mendengar jawabanku.
“Jadi nggak bisa nih, Bu?” tanya ibu Bintang mencoba bernegosiasi.
Aku mengangguk. “Sementara ini memang belum bisa, Bu, karena sekarang saya juga lagi membatasi jumlah siswa per kelas maksimal dua anak saja.” Ibu Bintang makin kecewa. “Tapi kalau nanti ada jam kosong saya bakal segera hubungi Ibu lagi.” Mendengar kalimat terakhirku roman ibu Bintang mendadak berseri.
“Baik, Bu, semoga secepatnya saya dapet kabar dari Bu Mira,” pungkasnya penuh harap.
Dan harapan ibu Bintang terkabul dua pekan setelahnya karena aku mendapati bahwa ada jam kosong di hari Jumat sore.
Alhamdulillah, respon ibu Bintang saat kuhubungi via pesan singkat.
Berarti Bintang bisa mulai berangkat Jumat ini ya bu, balasnya lagi.
Aku mengetik balasan dengan dua huruf— ya.
Bintang pun mulai ikut kelas sesuai jadwal yang kuberikan. Sepekan, dua pekan, tidak ada masalah. Namun, di akhir pekan di pekan kedua tepat sehari setelah jadwal les Bintang tiba-tiba ibunya mengirimiku pesan.
Bu, ada jadwal kosong lainnya ga soalnya kalau lesnya cuma seminggu sekali kok kerasanya lama banget. Bintang jadi ngambek dan ogah-ogahan tiap mau berangkat.
Aku menghela napas panjang.
Bukannya nggak mau ngasih jadwal atau menolak rejeki tapi masalahnya jadwal emang udah padat merayap, batinku seraya meringis.
Kalau aku memaksakan menerima murid— terlebih murid calistung— lebih dari dua anak per sesi maka sudah bisa dipastikan aku yang akan keteteran.
Been there, done that. Aku bergidik membayangkan betapa repotnya kala aku terjebak di situasi itu dulu.
Aku tidak segera membalas pesan dari ibu Bintang itu. Aku mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjukku sambil berpikir keras. Aku kemudian membuka catatan jadwal mengajar di ponselku lalu menimbang-nimbang kira-kira di kelas mana aku bisa “menyelipkan” Bintang.
Sejauh pengamatanku Bintang ini bukan anak yang lamban berpikir. Justru bagiku dia anak yang cukup cerdas. Selama ini dia memang masih ikut kelas calistung dan dia baru masuk level 3 membaca. Oleh sebab itu, aku merasa tidak enak jika aku harus menyatukannya dengan anak-anak lain yang levelnya masih di bawahnya. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk “menyelipkan” Bintang di kelas Rino karena Rino kini sendirian setelah Nindy, rekan les juga teman sekelasnya, tiada kabar berminggu-minggu dan kuanggap
tidak meneruskan les meski kemampuan Rino masih di bawah Bintang.
