Pada suatu hari Minggu pagi yang tenang—
“Eh, Mira.”
Ralat.
Sepertinya ini tidak akan jadi Minggu pagi yang tenang karena adanya penampakan manusia satu ini.
“Oh, Mbak Titin,” sapaku balik demi sopan santun.
Sebenarnya aku bukan benci dengan mbak Titin hanya saja aku sedang berusaha menghindarinya karena aku masih sedikit sakit hati dengan kata-katanya tempo hari. Meskipun kata-katanya ada benarnya tapi bagiku itu cukup nylekit karena dia mengatakannya di saat kondisiku sedang tidak baik-baik saja waktu itu.
“Lagi ngapain, Mir, pagi-pagi gini?”
Aku memutar bola mata. Haruskah aku menjelaskannya?
Menurut ngana kalau beta sedang bawa selang air kira-kira sedang apa? Jahit baju kah?
“Lagi nyiram, Mbak.” Aku memilih menjawab dengan nada suara yang kubuat sedatar mungkin meski gondok setengah mati.
“Oh iya, lagi nyiram ya.”
Lah?
“Nggak sibuk?”
Terus nyiram ini apa?
“Les kamu libur ya kalau hari Minggu?”
Sepertinya mbak Titin tidak menyerah meski pertanyaannya kuabaikan.
“Iya,” jawabku lagi. Kali ini lebih singkat. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Selain itu, aku berharap dengan jawabanku itu aku bisa memberi kesan bahwa aku tidak ingin melanjutkan percakapan kami.
Kulihat mbak Titin hanya ber-oh pelan. Kupikir dia sudah kehabisan ide untuk mencari topik pembicaraan denganku tapi ternyata aku keliru.
“Omong-omong bimbel kamu kok rame lagi, Mir?” tanyanya yang memberi kesan seharusnya-bimbel-kamu-sepi-terus-dong.
Terus? Salah gitu?
“Oh iya deng. Kamu sekarang nggak cuman ngajar bahasa Inggris aja ya. Nah, kan, apa aku bilang. Kamu harusnya emang nggak ngajar bahasa Inggris doang karena di sini percuma ngajar bahasa Inggris tok. Nggak rugi, kan, kalau ngikutin nasihat orang yang lebih tua.”
Aku tersenyum sumir.
Sebenarnya usia mbak Titin sedikit lebih muda dariku. Kalau dia pikir dia lebih tua ya itu karena silsilah keluarga saja. Namun, aku tidak menampik kalau nasihatnya tempo hari memang ada benarnya.
“Nanti aku suruh Ryan les di sini deh ya. Bentar lagi dia mau kelas enam, kan, jadi pelajarannya makin susah.”
Aku mengangguk saja.
“Oh iya, Mir, si Ardi masih les di sini?” tanyanya setengah berbisik.
“Masih. Emang kenapa?” tanyaku sambil lalu.
“Dia itu anaknya Hana, kan, yang dari desa sebelah?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan kening. “Bukannya dia satu desa sama kita, Mbak? Tinggalnya di Pintu Air kok.”
Apa aku yang salah denger soal alamat Bu Hana waktu itu? Tapi sepertinya nggak kok.
Mbak Titin melambaikan tangannya. “Eh, itu rumah yang di Pintu Air itu, yang dia tinggalin sekarang itu, bukan rumahnya dia sendiri tapi rumah orang tua suaminya alias rumah mertuanya.”
Aku mengangguk-angguk.
“Aslinya rumahnya di desa sebelah tuh. Belakang makam itu loh. Rumah orang tuanya di situ. Nah, kalau rumah suaminya yang sekarang emang yang di Pintu Air itu. Mertuanya, kan, dua-duanya sudah meninggal. Sudah almarhum. Kayanya rumah yang sekarang dia tempati itu rumah warisan gitu.”
