35 - Libur Sekolah Membawa Berkah

61 7 0
                                        

Libur kenaikan kelas telah tiba. Alih-alih senang menyambut liburan aku justru gundah gulana— apalagi libur sekolah kali ini sebulan lamanya— karena itu artinya aku akan vakum mengajar selama sebulan pula karena biasanya murid-muridku juga akan berhenti les sepanjang liburan.

Anggep aja buat istirahat atau refreshing, Bu, begitu kata mas Ganjar ketika kusampaikan kekhawatiranku.

Refreshing apanya?

Aku justru bisa membayangkan betapa membosankannya liburanku selama sebulan ke depan. Apa pasal? Pasalnya aku terancam hanya akan ngendon di rumah karena tidak bisa pergi kemana-mana sebab mas Ganjar, kan, tidak libur kerja selama libur.

Udahlah nggak bisa pergi-pergi, nggak dapet duit pula, gerutuku dalam hati begitu membayangkan liburanku yang suram.

Tentu saja keinginan untuk mengumpulkan foto-foto estetik pergi liburan pupus sudah. Meski demikian, aku tetap mensyukuri satu hal dari liburan kali ini. Aku bisa rehat sejenak dari rutinitasku mengurus dan menyiapkan keperluan Zahira untuk sekolah yang biasanya membuatku kerepotan setiap pagi. Aku jadi punya banyak waktu untuk mencoba resep masakan yang baru atau menulis di Wattpad yang cukup lama kutinggalkan. Aku juga bisa berkunjung ke rumah ibu dan mencoba tempat makan atau playground baru yang ada di sekitar sana— Zahira sedang keranjingan main di playground akhir-akhir ini.

Libur lama mungkin nggak seburuk itu juga, pikirku. Refreshing, kan, nggak harus yang jauh juga, ucapku meyakinkan diri sendiri.

Lagian ngapain sih kudu punya foto-foto estetik segala? Mau di-posting? Buat apa? Nyari validasi? Seumuran kamu mah harusnya bukan nyari validasi lagi tapi nyari tambahan duit. Sekolah anak makin lama makin mahal noh, sentil peri jahat dalam diriku.

Seolah semesta sedang mendengar keluh kesahku, mendadak ada sebuah pesan masuk di ponselku dari salah satu ibu teman Zahira yang membuatku langsung tersenyum semringah.

Mbak, nanti Aulia les di kamu ya selama liburan.

Salah satu ibu teman Zahira memang sempat berkata padaku kalau ia akan mendaftarkan anaknya untuk les di tempatku tapi dia belum bisa memastikan kapan tepatnya rencananya itu akan dimulai karena satu dan lain hal. Selain itu, aku juga belum punya jadwal yang pas waktu itu. Obrolan kami tentang itu sudah berlalu cukup lama sehingga aku melupakannya. Gara-gara pesan itu aku jadi teringat lagi akan obrolan kami tempo hari.

Eh, bisa pas gini ya, pikirku.

Tentu saja pesan itu langsung kubalas dengan dua huruf— ok.

Ini nanti barengan sama Gisel, Nafis, dan Brian juga.
Hari apa aja bisanya?
Kalau jam 9 mulainya bisa nggak?

Lagi-lagi aku membalas pesan itu dengan dua huruf yang sama. Namun, ketika aku membaca ulang pesan dari ibu teman Zahira barulah aku panik.

Tunggu, tunggu, tunggu. Jam sembilan? Apa nggak kepagian ya? Mana ini musim libur lagi. Aku, kan, pengennya leha-leha dulu gitu. Aku berpikir lagi.

Namun, aku kemudian teringat ajaran supervisor-ku ketika aku masih ada di Bank Nusantara dulu.

Jangan pernah mengucapkan penolakan ketika ada nasabah yang datang dan bertanya apakah bisa ini atau itu. Terima saja dulu. Kalau ternyata nggak bisa nanti diatur belakangan.

Wes lah iyain aja, putusku. Lagipula aku juga tidak mau gabut selama liburan kali ini.

Akupun buru-buru membalas pesan dari ibu teman Zahira itu dan berkata bahwa aku menyanggupi permintaannya. Kamipun akhirnya bersepakat tentang jadwal dan segala macamnya. Anehnya, lagi-lagi seolah semesta sedang berpihak padaku, setelah pesan dari ibu teman Zahira itu aku kembali mendapatkan pesan serupa bertubi-tubi.

The Course Jilid Dua | TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang