“Firly kok nggak pernah berangkat lagi, Bu, sekarang? Udah berhenti les apa gimana soalnya baru dua kali tok dia les, kan?” tanyaku pada ibu Azza, orang yang membawa Firly padaku.
Ibu Azza meringis. “Iya kayanya, Bu. Maaf ya, Bu Mira. Saya juga jadi nggak enak sama Bu Mira sebenernya soalnya baru dua kali les kok langsung nggak pernah berangkat lagi,” jawabnya.
“Emangnya njenengan nggak pernah iseng-iseng nanya gitu sama orang tuanya Firly kenapa nggak pernah berangkat lagi?” pancingku.
“Pernah sih, Bu. Alesannya sih waktu itu karena jadwalnya malem dan jalan menuju ke sini, kan, sepi jadinya takut,” ungkap ibu Azza.
Aku mengernyitkan dahi. “Lho, bukannya waktu itu njenengan yang bilang kalau Firly mintanya jadwal malem? Saya inget banget saya malah sempet nawarin dia masuk di kelas yang malem Selasa sama malem Sabtu karena ada yang barengan kelas 4 juga tapi Firly nolak dan minta dibarengin Azza biar bisa berangkat bareng. Kalau saya nggak salah inget Firly emang mintanya malem karena sekolahnya baru bubaran sore banget abis asar. Lagian Firly sempet berangkat kok pas Azza nggak berangkat. Dia berangkat sama temennya naik sepeda listrik boncengan gitu. Pas saya tanya ‘nggak papa tuh berangkat berdua doang’ dia bilang ‘nggak papa soalnya rumahnya deket’ makanya saya bingung kenapa sekarang dia nggak pernah berangkat lagi. Kalau misalnya nggak berangkat sama temen, kan, bisa dianter orang tuanya.”
“Iya ya, Bu? Saya juga nggak tahu sih, Bu, alesan pastinya apa dan saya juga bingung maunya ibunya Firly kaya gimana. Intinya waktu saya tanya ke ibunya jawabnya ya begitu. Ibunya juga nggak selalu bisa nganterin sih karena sibuk dan capek.”
Aku mengangguk-angguk saja meski dalam hati merasa tidak puas dengan jawaban ibu Azza tadi.
Pasti ada apa-apanya nih.
Sebenarnya murid yang modelan Firly begini banyak sih di bimbelku. Mereka yang datang hanya sekali dua kali lalu berhenti ya cukup banyak jumlahnya bahkan yang sudah mendaftar kemudian tidak datang sampai hari ini pun juga ada dan aku tidak pernah mempermasalahkan mereka atau mencari mereka— prinsipku sing butuh mérêk; yang butuh mendekat. Namun, entah kenapa dengan Firly aku merasa penasaran.
“Mungkin udah ikut bimbel di sekolahnya kali, Bu. Kata Ibu di SD muridnya Ibu yang itu udah ada bimbelnya, kan?” tukas mas Ganjar ketika dicurhati masalah Firly ini.
Untuk yang sudah lupa aku kembali mengingatkan bahwa Firly ini bersekolah di sebuah sekolah swasta berbasis pondok pesantren yang cukup terkenal di daerahku meski sekolah itu belum lama berdiri. Tentu saja selain terkenal secara nama, sekolah Firly juga terkenal secara biaya karena biaya sekolahnya cukup mahal untuk lingkungan tempat tinggalku.
“Kayanya enggak deh, Yah, soalnya Firly pernah bilang kalau bimbel itu buat yang kurang paham sama pelajaran—”
“Bukannya Ibu dulu pernah bilang kalau anak ini nggak—” mas Ganjar memutar-mutar jari telunjuknya di samping kepala, mencari pemilihan kata yang tepat, “terlalu pintar?”
Aku mengangguk. “Iya sih,” sahutku.
“Berarti harusnya murid Ibu ini bisa dong ikut bimbel sekolah?”
Aku mengedikkan bahu. “Mungkin dia belum bisa masuk kategori ‘kurang paham pelajaran’ menurut versi sekolah?” tukasku tak yakin. “Lagian kalau nggak salah bimbelnya bayar juga sih, Yah, bukan bener-bener gratisan dari sekolah gitu. Jadi kayanya itu belum termasuk sama uang bulanan sekolah karena nggak semua anak ikut.”
Mas Ganjar ikut mengedikkan bahu.
Pembicaraan kami dan rasa penasaranku soal Firly akhirnya berhenti sampai di sana karena berminggu-minggu dan berbulan-bulan berikutnya aku disibukkan dengan mengajar murid-murid lainnya. Namun, suatu hari topik Firly kembali mengemuka. Ibu Al yang pertama kali menyebutnya.
