“Ih, Bu Guru kok ngomongnya begitu?”
“Bu Guru nggak sopan! Ngomongnya kotor!”
“Bu Guru kok misuh¹? Dosa lho, Bu. Nanti dimarahi Allah.”
Begitulah respon ketiga muridku yang masih duduk di bangku TK besar ketika aku sedang mengajari mereka membaca.
Jadi beberapa hari yang lalu aku kedatangan murid baru dari sebuah TK yang ada di dekat rumahku. Sebut saja namanya Rafa. Tak lama setelah Rafa mendaftar, kedua temannya yang sekolah di TK yang sama juga ikut mendaftar. Praktis, aku mendapat tiga murid sekaligus.
Mereka kumasukkan ke level 2 membaca karena setelah melewati placement test — yang biasa kuberikan pada murid-murid calistung — ternyata mereka sudah lancar membaca suku kata yang ada di buku level 1 tapi masih mengalami kesulitan ketika kuberi buku membaca level 2.
Sebagai informasi, level 1 membaca di bimbelku adalah belajar suku kata dengan huruf vokal a sedangkan level 2-nya belajar suku kata dengan huruf vokal i dan u.
Ini baru hari pertama mereka les dan aku sudah diprotes sedemikian keras oleh mereka setelah mengajari mereka membaca suku kata ba dan bi.
“Kok bisa kalian ngomong Bu Guru ngomong kotor? Bu Guru cuman bilang suku kata ini ba dan ini bi jadi kalau digabung jadinya babi,” kataku yang terkesan membela diri walaupun aku tidak merasa bersalah.
“Lha, itu Bu Guru ngomong kaya gitu. Apa namanya kalau bukan ngomong kotor?” Muridku yang bernama Dika ngotot.
“Ngomong apa?” Aku pura-pura tak tahu.
“Ngomong babi itu, Bu!” Niko berniat memperjelas tapi mendapat desisan gusar dari kedua temannya yang membuat cowok berusia enam tahun itu langsung bungkam.
“Gini deh. Huruf b sama a kalau ketemu bacanya apa?” tanyaku.
“Ba.” Mereka serempak menjawab.
“Nah, kalau gitu huruf b sama i kalau ketemu bacanya gimana?”
“Bi!” seru mereka lagi dengan kompak.
“Nah, kalau gitu ba dan bi kalau dibaca berurutan jadinya apa?”
“Nah, itu nggak boleh, Bu!” Rafa langsung menolak menjawab.
“Mana bisa ba dan bi dibaca nggak boleh?”
Rafa mendecak. “Aduh, Bu Guru. Bukannya gitu.”
Diam-diam aku menahan tawa. Aku sedang ingin mengisengi mereka karena ketiga cowok cilik ini menggemaskan sekali di mataku terutama ketika mereka sedang ngambek seperti sekarang. Lagipula aku ingin memberi mereka sedikit pengertian setelah ini.
“Lha, tadi kamu bilang begitu, kan?”
“Bukan. Maksudnya kalau ba dan bi itu nggak boleh dibaca, Bu,” kata Niko yang sepertinya kebagian sebagai orang yang bertugas memperjelas di antara ketiganya.
“Karena?” pancingku.
“Karena kata bu guru di sekolah kata itu kotor, jorok, nggak sopan,” jawab Niko lagi.
Aku mengerutkan glabelaku. “Kotor? Jorok? Nggak sopan? Dari mananya? Karena mereka suka berkubang di lumpur? Itu, kan, karena babi—”
“Bu Guru!” Mereka serempak memotong ucapanku.
“Apa?” Aku sampai kaget.
“Dibilangin nggak boleh ngomong itu, Bu. Kata itu tuh kotor, jorok, dan nggak sopan.” Rafa menyilangkan kedua lengannya di depan dada sementara yang lain melambaikan tangan mereka sebagai isyarat negasi.
Aku menghela nafas sejenak.
“Begini ya, Niko, Rafa, dan Dika. Kata babi yang kalian bilang kotor, jorok, kasar, dan nggak sopan itu adalah nama seekor makhluk hidup ciptaan Tuhan. Intinya setiap benda, setiap makhluk hidup kayak tanaman atau hewan yang ada di dunia ini pasti punya nama biar memudahkan kita untuk menyebutnya. Coba bayangin kalau babi nggak ada namanya. Kita nyebut hewan yang warnanya pink, gendut, hidungnya mendongak pake sebutan apa? Bingung, kan, kalau nggak ada sebutannya? Masa kudu dijelasin kayak Bu Guru ngomong tadi? Kelamaan. Tapi kalau kita sebut langsung babi, kan, enak to? Kita langsung tahu kalau babi itu hewan yang warnanya pink, gemuk, lucu, hidungnya mendongak. Terus penampakan babi yang seperti itu salah nggak? Ya nggak lah. Allah menciptakan makhluk-Nya dengan ciri khas masing-masing karena punya fungsi yang berbeda juga. Nah, yang salah di sini adalah orang-orang yang menyamakan fisik manusia lain dengan hewan. Misalnya orang gemuk dikatain babi atau gajah. Itu nggak bener. Manusia ya manusia, hewan ya hewan. Masing-masing punya nama. Panggillah mereka dengan nama mereka masing-masing.
“Sama seperti nama kalian. Apakah orang tua kalian memberi kalian nama dengan arti yang buruk?” Mereka menggeleng. “Nggak, kan? Rafa bisa berarti penyembuhan atau murah hati. Dika punya arti yang nggak kalah bagusnya yaitu kebanggaan atau luar biasa. Sementara Niko punya arti kemenangan. Kalau nama kalian yang punya arti bagus kayak gitu dibikin jelek kalian terima nggak?”
“Nggak lah, Bu!” seru Rafa.
“Nggak mau, Bu,” timpal Niko.
“Nggak mau, kan, namaku bagus,” protes Dika pula.
“Nah, kan, makanya. Misalnya Rafa tiba-tiba dipanggil rempong atau Niko dipanggil teko atau Dika dipanggil dikung.” Mereka bertiga tertawa bersamaan kemudian mempraktikkan nama-nama itu ke satu sama lain untuk meledek. “Kalian pasti nggak suka, kan? Nggak terima, kan? Nah, mungkin kalau babi bisa ngomong bisa aja dia protes tapi sayangnya babi nggak bisa ngomong jadi mereka pasrah aja nama mereka buat kata-kataan. Atau mungkin sebenernya mereka protes tapi kita aja yang nggak tahu bahasa mereka—”
“Mereka bisanya cuman ngok ngok ngok,” potong Rafa yang kemudian mengundang gelak tawa kami semua yang ada di sana.
“Nah, iya. Jangan ya. Nggak boleh. Panggillah kawanmu dengan panggilan yang baik. Rasulullah bahkan pernah berkata kalau kamu mencintai saudaramu kamu harus memberitahunya salah satunya dengan memanggilnya dengan panggilan yang ia sukai.
“Kalian sudah bagus nggak memanggil teman kalian dengan sebutan lain selain namanya tapi perlu diingat juga kalau nama-nama hewan itu udah begitu dari dulu jadi tidak ada yang salah dengan menyebut hewan-hewan itu sebagai babi, anjing, gajah, dan sebagainya. Ingat, yang salah adalah orang-orang yang menggunakan nama-nama hewan itu sebagai bahan olokan atau umpatan. Sudah hafal surat pendek sampe mana?”
“Qulhu, Bu!” jawab Rafa lantang.
“Qulhuallahu ahad atau qula’udzu birobbinnas atau qula’udzu birobbil falaq?” Aku balik bertanya.
“Ng, qulhuallahu ahad, Bu.” Kali ini Niko yang menjawab.
“Oke. Nanti kalau sudah hafal surat-surat pendek lainnya kalian bakal sampe di surat Al Humazah. Ayat pertamanya berbunyi celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela. Itu artinya Allah nggak suka sama orang yang suka ngomong jelek termasuk menjadikan nama-nama hewan tadi sebagai umpatan. Kasihan hewan-hewan itu. Nggak salah apa-apa kok dijadiin umpatan. Nah, jadi intinya kalian boleh kok bilang babi, anjing, gajah, atau nama hewan lain asalkan bukan untuk mengejek temen atau mengumpat ya. Kalau emang di depan kalian ada babi ya nggak papa bilang babi. Di depan kalian ada anjing ya nggak papa bilang anjing. Atau misalkan pas kalian lihat mereka ya nggak papa sebutin nama mereka. Tujuannya yang penting bukan buat apa?”
“Mengejek atau mengumpat!” Mereka menjawab serempak.
“Bagus!” Aku mengacungkan kedua jempol dengan bangga karena aku bisa memberikan sedikit pelajaran moral hari ini untuk murid-muridku yang masih sangat muda agar mereka tidak hidup dengan kesalahkaprahan.
Catatan.
¹ menyumpah serapah
── ⊱ 𝓣𝓱𝓮 𝓒𝓸𝓾𝓻𝓼𝓮 ⊰ ──
Yang penting update dulu lah ya 🤣🫣
