42 - Progres Yang Signifikan

34 5 0
                                        

Sebut saja namanya Rino, bocah 6 tahun yang kini duduk di kelas 1 SD.

Sebenarnya Rino mulai les sejak libur kenaikan kelas tempo hari— tepat sebelum dia resmi jadi murid kelas 1 SD— dan dia satu-satunya murid baruku yang konsisten berangkat les sejak libur sekolah hingga libur telah usai nyaris tanpa absen.

Anu, Rino niki dereng saget maos, Bu, dadose mangke kula nyuwun Rino dituturi maos riyin nggih¹,” tutur ibunya saat pertama kali datang les ke tempatku seraya menunjuk bocah bertubuh tambun yang ada di sebelahnya.

“Oh, nggih, Bu. Tapi nek huruf mpun ngertos napa dereng²?” tanyaku memastikan.

Dereng³, Bu. Angka juga belum tahu. Palingan hanya hafal satu sampai lima,” jawab ibu Rino.

“Oh, nggih mboten napa-napa, Bu. Berarti mangke sinaune bener-bener dari awal nggih⁴,” kataku yang dibalas dengan ‘nggih’⁵ disertai anggukan oleh ibu Rino. 

Ten mriki kathah sing les membaca mboten⁶, Bu?” tanya ibu Rino sembari aku menyiapkan materi membaca untuk Rino.

“Kalau les membaca nggak terlalu banyak sih, Bu, karena sebelumnya kebanyakan yang les yang udah kelas besar jadi belajarnya udah belajar pelajaran di sekolah,” jawabku— yang sebenarnya masih memakai bahasa Jawa Krama— yang direspon anggukan oleh ibu Rino. “Terakhir yang masih belajar membaca itu ya Arkan. Njenengan kondure pundi? Nek kondure Kendayaan mbok menawi njenengan tepang Bu Iin.⁷”

“Oh, lah itu. Saya juga ke sini gara-gara Arkan. Saya dikasih tahu ibunya Arkan kalau ada les membaca di sini. Ibunya, kan, masih saudara saya.”

“Oh.” Aku merespon singkat tapi dalam hati membatin panjang.

Oh, jadi Rino kemari karena Arkan tapi Arkan-nya sendiri malah nggak lanjut les lagi karena ortunya kebanyakan alesan.

“Arkan masih les di sini, Bu?” tanya ibu Rino.

Aku menggeleng. “Udah nggak lagi, Bu. Terakhir itu ya pas libur sekolah kemaren itu. Itupun cuma bertahan beberapa minggu atau malah beberapa hari tok padahal saya udah bilang kalau mau lanjut les lagi setelah libur masih bisa karena ada anak kelas 3 yang punya jadwal les rutin di sini. Eh, tapi Arkan malah jadi jarang berangkat dan sekarang malah nggak pernah lanjut sama sekali.”

“Mungkin udah males, Bu, karena main atau apa,” timpal ibu Rino.

Aku tersenyum. “Mungkin, Bu. Tapi nggak papa sih. Malah enak yang begini ya, Rino, cuma sendiri jadinya bener-bener fokus belajarnya,” sahutku seraya berpaling pada Rino sementara bocah itu bengong saja. “Yuk, kita mulai belajar. Kita belajar dari huruf dulu ya,” tukasku sambil membuka buku membaca di depan Rino.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan Rino berangkat les tanpa absen. Ibu Rino bahkan bercerita jika Rino meminta tetap berangkat di hari Sabtu dan Minggu dimana aku meliburkan semua jadwal lesku.

“Semangat banget memang, Bu. Pulang sekolah kalau disuruh tidur dulu biar nggak ngantuk pas les dia nggak mau. Takut ketinggalan jam les katanya,” tutur ibu Rino yang membuat hatiku menghangat.

Aku tersenyum haru. Padahal selama les Rino tidak menampakkan bahwa ia senang belajar denganku tapi ternyata Rino sebenarnya seantusias itu.

“Rino mulai seneng nunjukin ‘ini huruf A, ini huruf B, ini angka 10, ini angka 5’ tiap lagi di jalan. Pokoknya yang dulu Rino itu seringnya cuma diem karena belum tahu huruf dan angka sekarang jadi lebih semangat ngomong. Mungkin mau nunjukin kalau dia sekarang udah tahu,” cerita ibu Rino lagi.

Aku mengangguk sambil tersenyum bangga.

Aku juga merasa bahwa Rino menunjukkan banyak perkembangan. Hanya dalam kurun waktu empat pekan saja dia sudah hafal semua huruf dan bisa mengurutkan angka-angka. Meski awalnya memang kesulitan tapi Rino termasuk murid yang cepat belajar. Praktis, dalam waktu empat bulan ini perkembangan yang dialami Rino cukup pesat dan signifikan. Aku mengajar Rino sejak dia tidak tahu apa-apa sama sekali hingga kini dia sudah bisa membaca dan menulis serta berhitung— meski belum lancar tapi aku menghargai pencapaiannya yang bagiku sangat luar biasa.

“Belum terlalu bisa sih, Bu, tapi alhamdulilah nggak banyak tertinggal dari teman-temannya yang lain soalnya nilai-nilai harian di sekolah lumayan bagus. Cuma saya mulai was-was karena sebentar lagi ujian. Ini anak bakalan bisa nggak ngerjain soal-soalnya karena di rumah kalau disuruh belajar susah banget. Maunya belajar di les aja,” tutur ibu Rino menjelang ujian akhir semester ganjil yang sebentar lagi akan diadakan.

“Aih, Rino, jangan gitu dong.” Aku menengok ke arah Rino. “Belajar di rumah tetep nggak boleh dilewatkan meski udah les. Belajar di les, kan, waktunya nggak lama kaya belajar di rumah dan nggak senyaman kalau belajar di rumah. Jadi mulai hari ini abis belajar di les diulangi lagi belajar di rumah ya,” lanjutku yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala pelan oleh lawan bicaraku— entah Rino paham atau tidak dengan ucapanku.

“Omong-omong ini yang masih les baca cuma Rino aja ya, Bu, soalnya yang kelas 1 kayanya Rino aja?” tanya ibu Rino di sela-sela mengajarku, ketika Rino sedang mengerjakan soal yang kuberikan.

“Untuk sementara sih memang tinggal Rino aja, Bu, tapi nggak tahu kalau setelah ini ada lagi. Tadinya yang les membaca ya lumayan banyak tapi banyak yang nggak konsisten, Bu, makanya udah sisa Rino aja. Yang lain tuh minggu pertama berangkat, minggu kedua nggak. Atau beberapa minggu awal rajin berangkat, lama-lama mandek ya kaya Arkan itu. Akhirnya ya sekarang yang masih bertahan ya Rino aja. Terus mungkin karena udah banyak yang naik ke kelas lebih tinggi dan udah dianggap bisa baca jadinya udah merasa nggak perlu belajar baca lagi atau gimana saya juga nggak tahu,” jawabku seraya meringis sementara ibu Rino mengangguk-angguk.

“Kalau Rino insya Allah mau terus lanjut les aja lah, Bu, di sini. Pokoknya sampe lancar baca terus nanti kalau udah lancar baca ya biar bisa ngikutin pelajaran. Soalnya takutnya meski udah bisa baca tapi dia nggak mudeng⁸ apa yang dibaca.”

Aku mengangguk mengiyakan. “Iya, bener, Bu. Di sini banyak yang seperti itu. Baca mungkin udah bisa tapi ternyata ketika saya kasih soal cerita atau soal bacaan dan mereka saya suruh jawab mereka masih bingung. Termasuk yang kelas-kelas tinggi aja kalau dikasih soal di LKS sama gurunya di sekolah masih nggak ngerti yang harusnya jadi jawabannya yang mana padahal jawabannya ada di LKS semua di halaman sebelumnya.”

Aku sudah sering menemui murid yang seperti ini di bimbelku dan sudah tak terhitung berapa kali aku menceramahi mereka soal pentingnya membaca sebelum menjawab soal bacaan dan jawaban mereka selalu tidak lebih dari lima huruf— malas. Aku juga sudah bosan melihat buku LKS mereka yang masih bersih dan rapi karena membeli LKS bagi mereka hanyalah formalitas. Entah apa yang harus kulakukan agar mereka bertobat dari dosa menyia-nyiakan ilmu.

“Iya, Bu. Itu mending masih dikasih LKS lah kalau di SD 1 nggak ada LKS sama sekali cuma ada buku paket dan itupun barengan sama temen sebangku jadi kadang bingung mau belajar gimana,” tutur ibu Rino.

“Beli buku cerita bergambar untuk anak-anak aja, Bu, di online shop kalau Ibu mau ngelatih anak memahami bacaan. Saya juga pernah beli buat Zahira sepaket cuma empat puluhan ribu isi empat buku. Bukunya nggak tebel dan nggak besar tapi lumayan buat belajar baca karena ada banyak gambar. Tiap baca nanti bisa ditanya maksud bacaannya apa karena saya juga gitu ke Zahira. Nanti lama-lama anak jadi terbiasa memahami bacaan dengan sendirinya karena sering dirangsang membaca,” saranku.

Ibu Rino hanya mengangguk mendengar saranku tanpa menanggapi apa-apa lagi.

Catatan.
¹ Ng, Rino ini belum bisa membaca, Bu, jadi nanti saya minta (tolong) Rino diajarin membaca dulu ya
² Tapi kalau huruf sudah tahu atau belum?
³ Belum
⁴ Oh, iya nggak papa, Bu. Berarti nanti belajarnya bener-bener dari awal ya
⁵ Iya
⁶ Di sini banyak yang les membaca atau nggak, Bu?
⁷ Ibu pulangnya kemana? Kalau pulangnya Kendayaan barangkali kenal Bu Iin
⁸ paham

──  ⊱  𝓣𝓱𝓮 𝓒𝓸𝓾𝓻𝓼𝓮  ⊰  ──

The Course Jilid Dua | TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang