“Kenapa mukanya pada kaya baju belum disetrika gitu? Kusut bener?” tanyaku pada Vita cs saat jadwal les mereka tiba.
“Jadi ceritanya tadi pagi tuh ada ulangan harian Bahasa Jawa, Bu,” tutur Vita.
“Terus?”
“Terus kita ulangan, kan.”
“He’em.”
“Tapi nilainya jeblok semua. Nggak ada yang dapet lebih dari tujuh puluh. Nggak lolos KKM. Akhirnya gara-gara itu kita harus ikut remidi, Bu. Kita jadi harus belajar dua kali,” imbuh Vita.
“Lah, kok bisa?” Aku membelalak kaget.
“Ya bisa aja, Bu, wong kita nggak bisa ngerjainnya,” tukas Gendhis.
“Lah, kok gitu? Soalnya tertulis, kan? Bukan lisan?” tanyaku lagi.
Brenda, Gendhis, Vita, Aira, dan Ica mengangguk bersamaan.
“Masalahnya kita nggak ngerti maksud soalnya apa, Bu,” sahut Vita lagi.
Aku mengernyit. “Soalnya masih pake bahasa Jawa, kan, bukan bahasa alien atau bahasa kalbu atau bahasa cintaku padamu?”
Kelima murid gadisku tertawa.
“Kalau pake bahasa cinta malah mungkin nilaiku nggak bakal jeblok, Bu, karena aku udah khatam. Nggak tahu kalau yang lain,” cetus Vita yang disuiti Ica dan Aira serta disoraki Gendhis dan Brenda.
Aku tersenyum. “Nah, tuh bahasa cinta aja udah khatam masa bahasa daerah sendiri malah nggak tahu?” selorohku.
Vita nyengir. “Ya itu, Bu, karena kita nggak ngerti bahasa Jawa,” katanya.
“Lah, emangnya selama ini kalian kalau ngobrol sama temen pake bahasa apa kalau bukan bahasa Jawa?” tanyaku polos.
Ica mendecak. “Ya beda lah, Bu. Bahasa Jawa di pelajaran sama bahasa Jawa di kehidupan sehari-hari itu nggak sama,” dalihnya.
“Mana ada aksara Jawa pula, Bu, jadi makin bingung, kan,” timpal Aira.
“Ya tinggal dihafalkan aja dong aksara Jawanya,” kukuhku.
“Ya tapi, kan, aksara Jawa nggak semudah itu juga, Bu, ngapalinnya. Bentuknya hampir mirip satu sama lain. Udah gitu banyak lekuk-lekuknya gitu. Udahlah ngapalinnya susah, nulisnya juga susah,” Vita memberikan alasan lagi.
Aku mengangguk-angguk saja karena aku kurang lebih tahu rasanya. Mata pelajaran bahasa daerah ini memang— kalau meminjam istilah kekinian anak zaman sekarang— problematik. Kalau tidak diajarkan di sekolah katanya dianggap tidak melestarikan kebudayaan daerah. Namun, di sisi lain, untuk apa diajarkan di sekolah jika penuturnya dalam kehidupan sehari-hari saja sudah sedikit sehingga pengaplikasiannya akan jauh lebih sulit lagi, apalagi untuk aksaranya. Beberapa anak muda bahkan menganggap bahasa daerah— terutama bahasa Jawa— itu norak dan kampungan sehingga bahasa daerah makin sulit dilestarikan.
“Bu, Bu, gimana sih caranya biar bisa bahasa Jawa?” tanya Gendhis dengan nada terdengar serius.
Aku yang mendengarnya malah tertawa karena aku menganggap pertanyaannya itu lucu sebab aku jadi teringat diriku sendiri.
Sebagai orang Jawa yang sempat merantau di tanah Jawa yang lain— aku menghabiskan masa kecil dan remajaku di sebuah kota kecil di Jawa Timur— aku pernah mempertanyakan hal ini. Semuanya bermula dari saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar dulu. Saat itu ada mata pelajaran tambahan— dulu disebut muatan lokal atau mulok— Bahasa Madura karena meski aku masih tinggal di tanah Jawa tapi sebagian besar penduduknya berbahasa Madura. Saat itu tidak ada bahasa daerah pilihan sehingga mau tidak mau suka tidak suka aku harus mengikuti mulok Bahasa Madura ini. Aku bahkan terpaksa menggunakan jalan pintas—mohon jangan ditiru— dengan menyuap teman sekelasku yang notabene anak guru Bahasa Madura untuk memberikan kunci jawaban LKS Bahasa Madura agar aku bisa menjawab seluruh soal di LKS tersebut karena ketidaktahuanku akan bahasa Madura. Pada akhirnya aku memang jadi sedikit tahu bahasa Madura setelah menetap agak lama di sana tapi ternyata mulok Bahasa Madura tetaplah sulit bagiku.
