Mas Ganjar mengusap pelan punggungku begitu melihatku duduk termenung di tepi ranjang. “Sedih dan nangis karena ditinggal orang tua boleh-boleh aja, Bu,” katanya, “tapi jangan terlalu lama sedihnya. Kasihan bapak kalau ditangisi terus. Kalau nggak salah Ayah pernah denger gini: satu tetes air mata yang jatuh bisa menjauhkan almarhum dari surgaNya.”
Aku mengangguk pelan tanpa mengatakan sepatah katapun.
Mas Ganjar akhirnya ikut duduk di tepi ranjang, di sebelahku, kemudian memelukku saat aku tak kunjung banyak bicara seperti biasanya. Dalam diam, tangisku akhirnya pecah. Mas Ganjar mendekapku erat sambil mengusap-usap punggungku lembut.
“Ayah nggak ngelarang Ibu nangis atau sedih tapi jangan sampe lupa makan dan nggak ngapa-ngapain kaya kemaren-kemaren,” ucap mas Ganjar pelan. “Ibu masih punya kehidupan yang terus berlanjut. Ibu masih harus berjuang. Ada Zahira yang mesti kita jaga. Ayah yakin bapak juga pasti nggak suka lihat anaknya sedih sampe segininya karena ditinggalin. Semakin Ibu nggak ngapa-ngapain malahan Ibu semakin inget bapak terus jadi sedih terus. Semua hal di dunia ini memang begitu; ada yang datang, ada yang pergi.”
Aku mengangguk lalu mengusap air mata dan ingusku.
Aku memang sempat tidak selera makan dan tidur sejak mengurus bapak selama ia sakit hingga hari ini saat bapak sudah pergi selama sepekan. Bayang-bayang bapak saat sakit hingga ia mengembuskan napasnya yang terakhir itu terus berputar di kepalaku seperti video rusak jadi bohong kalau aku bilang aku tidak sedih. Meskipun selama bapak masih hidup aku tidak pernah dekat dengannya tapi aku tetap merasa kehilangan ketika ia tiada. Namun, sejujurnya bukan kepergian bapak yang bisa membuatku semurung ini.
Masa kamu nggak kasihan sama Ibu, Mir? Ibu sendirian loh sekarang. Masa kamu lebih milih tinggal di kontrakan ketimbang di rumah orang tuamu sendiri. Kamu, kan, nanti bisa tinggal di sini sama Zahira dan sama suamimu juga. Zahira nanti bisa disekolahin di sini. Di sini, kan, juga deket sama SD. Kamu bisa hemat uang buat ngontrak juga kalau tinggal di sini.
Aku terus memikirkan perkataan ibu tiga hari pasca kematian bapak.
Ya, kepergian bapak bukannya membuat segalanya jadi mudah— selama bapak masih ada ibu sering bertengkar dengan bapak karena satu dan lain hal sehingga ibu pernah hampir mengajukan permohonan cerai beberapa tahun sebelum bapak jatuh sakit— tapi justru menimbulkan masalah baru bagiku.
Aku tidak langsung menjawab saat itu tapi aku sudah punya keputusan dan jawabanku sendiri.
Sejujurnya aku memang ingin sekali berbakti pada ibuku karena dia kini satu-satunya orang tuaku. Namun, ada beberapa pertimbangan yang membuatku agak keberatan menerima permintaan itu.
Alasan pertama tentu karena aku tidak ingin melepaskan usaha bimbelku yang kubangun dengan susah payah selama dua tahun ini. Aku sudah melewati fase dari ramai murid lalu murid tinggal sedikit hingga habis sama sekali sampai akhirnya kembali bangkit beberapa bulan belakangan ini. Rasanya sayang sekali jika aku menyerah apalagi aku punya misi memperbaiki kualitas pendidikan di lingkungan sekitarku meski aku tahu itu pasti akan butuh waktu lama.
Alasan kedua karena Zahira. Ia tidak betah tinggal di rumah orang tuaku sebab cuaca di kota cenderung panas terlebih lagi rumah orang tuaku kurang sirkulasi udara sehingga itu menyebabkan tubuh Zahira sering ruam merah dan gatal. Berbeda sekali dengan suasana rumah kontrakan kami yang masih terhitung ada di daerah pedesaan yang dipenuhi dengan pepohonan sehingga udara terasa sejuk dan nyaman. Selain itu, entah kenapa, aku merasa Zahira lebih sering sakit ketika menginap di rumah orang tuaku sehingga aku seringkali trauma jika harus menginap lama di rumah orang tuaku.
Alasan ketiga karena kontrakan kami lebih dekat dari kantor mas Ganjar ketimbang dari rumah ibu. Tentu hal itu cukup menghemat ongkos.
Alasan keempat karena kami sudah hidup mandiri meski masih mengontrak. Aku tidak ingin ada orang lain dalam rumah tanggaku sekalipun itu adalah ibuku sendiri— justru karena itu adalah ibuku sendiri makanya aku keberatan sebab aku tahu bagaimana terkadang “sulitnya” menghadapi ibuku.
