"Daftar aja, Miss," bujuk Miss Neina padaku ketika kami bertemu lagi- minus Miss Nike yang sedang ada acara keluarga- pada minggu berikutnya di Diet Kapan Kapan, sebuah kafe estetik yang terletak di pusat kota. "Biar aku ada temennya juga kalau kamu diterima," imbuhnya setelah menyesap es tehnya yang baru saja diantar oleh seorang pelayan kafe.
Beberapa pekan setelah pertemuan kami bertiga tempo hari, Miss Neina curhat bahwa ia telah melamar pekerjaan sebagai tenaga pengajar di Al Maani Islamic School- yang kupelesetkan sebagai AMIS dan Miss Neina selalu tertawa tiap kali mendengarnya- dan satu hari sebelum wawancara Miss Neina sempat mengirim pesan padaku dan bercerita kalau ia kelabakan karena sama sekali tidak mengerti apapun tentang agama Islam yang biasanya dijadikan sebagai prasyarat tes masuk sekolah Islam. Ajaibnya, dia langsung diterima di sana tanpa persyaratan yang berarti bahkan materi-materi agama Islam yang sempat kubahas dengannya sama sekali tidak muncul. Kubilang pasti AMIS sedang butuh sekali pengajar. Miss Neina bilang itu rezeki anak soleha. Jadilah ia resmi mengajar di AMIS meski baru sebulan.
"Lah, emangnya di situ kamu nggak ada temen apa, Miss?"
"Ada sih tapi, kan, kamu lebih asyik kalau diajak ghibah." Miss Neina nyengir.
Aku melotot padanya. "Alesan macam apa itu?"
Mati-matian aku berusaha jadi ibu rumah tangga yang santun dan berakhlak, kalau aku bekerja dengan Miss Neina bisa-bisa usahaku selama ini hancur berantakan.
"Eh, tapi kalau gajinya gede dosa dikit nggak ngaruh sih, Miss. Yang korupsi aja masih santai tuh."
"Edan!"
Kami pun tertawa bersama.
"Eh, tapi serius aku tanya. Gajinya berapa sih, Miss? Aku selalu penasaran soalnya gaji guru yang ngajar di sekolah swasta elit itu berapa apalagi di kota kecil kayak Pekalongan gini. Pasti banyak banget ya, kan, uang bayaran sekolahnya gede? Apa jangan-jangan masih ikut UMR lagi," tanyaku kembali pada bahasan utama kami yang menjadi alasan untuk bertemu.
"Iya, emang. Bayaran sekolahnya emang gede sih, Miss, tapi gaji guru ya segitu-segitu aja cuman emang nggak se-UMR Pekalongan juga. Lumayan lah. Intinya kalau dibandingin sama UMR sini ya bisa hedon dan khilaf dikit lah via Lazada atau Shopee apalagi kalau pas tanggal cantik dan dapet gratis ongkir." Miss Neina meringis.
"Masih nggak spesifik itu jumlahnya. I need an exact amount, Miss," bujukku.
Miss Neina meringis lagi. "Kayanya hampir mirip lah sama gajimu pas kerja di Bank Nusantara dulu. Kerja, kan, kurang lebih selama delapan jam. Kalau nggak salah per jam itu dibayar dua puluh ribuan. Tinggal dikalikan aja selama dua puluh dua hari ngajar soalnya akhir pekan, kan, libur."
"Bentar, bentar. Dua puluh kali delapan ka- Oh ya? Serius segitu? " Mataku langsung membelalak begitu aku mengkalkulasi perkiraan gaji yang disebutkan Miss Neina- giliran ngitung duit aja cepet ya lu, Mir!
"Banyak, kan?" Miss Neina tersenyum.
Banyak?
Yang benar saja.
Itu bahkan lebih banyak dari gajiku selama sebulan saat bekerja di Bank Nusantara terlebih kalau mengingat tekanan kerja dan jam kerja yang berlebih di sana yang jelas sangat tidak sebanding.
Pantas saja Miss Neina terlihat sering jalan-jalan ke luar kota, berbelanja, mengikuti poundfit- sebuah olahraga dengan stik yang kini jadi primadona para perempuan, masih terus menggunakan skincare dari sebuah klinik dokter kecantikan yang cukup terkenal di kota. Uang gajinya selama ini ternyata sangat mendukung untuk itu.
"Iya, itu kalau masih kontrak. Kalau udah jadi guru tetap yayasan ada tambahan lagi biasanya yaitu uang transport sama uang makan. Kalau nggak salah sehari dua puluh lima ribu. Yah, dikalikan aja terus dijumlah sama yang tadi."
Mataku makin berbinar.
Benar-benar sangat menggiurkan.
Itu kalau diterima, Mir, kataku mengingatkan diri sendiri yang membuatku sadar untuk sedikit realistis.
Jangan terlalu ngarep. Lu biasanya kagak terlalu beruntung dalam hal ginian, batinku mengingatkan lagi.
"Terus kamu sekarang udah jadi guru tetap atau masih kontrak?" Aku akhirnya mengalihkan topik ketimbang mengkhayalkan sesuatu yang belum ada di jangkauan.
"Kontrak lah, Miss, masa mau tiba-tiba tetap? Jadi guru tetap yayasan, kan, ada prosesnya juga. Kontrak dulu dua tahun terus baru bisa jadi guru tetap yayasan. Itupun kalau hasil evaluasinya bagus. Kalau masih jelek ya kontrak terus kalau nggak keburu dipecat." Miss Neina terbahak. "Tapi aku nawar kontraknya cuman setahun aja sih," imbuhnya.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
Miss Neina nyengir malu. "Soalnya takut kalau tiba-tiba di tahun ini nikah terus diboyong ke luar kota dan nggak bisa ngajar di sini lagi."
"Emang siapa yang mau boyong kamu ke luar kota?" selidikku.
Miss Neina langsung salah tingkah, "Ya, siapa tahu aja, kan?"
"Kalau belum yakin mah jangan sok terlalu yakin dulu. Siapa tahu di lain hari beda keyakinan kayak yang udah-udah," ledekku.
"Ah, kamu tuh, Miss. Doain ngapa? Udah kepala tiga lewat dikit ini. Udah mulai krisis." Miss Neina menggerutu.
Aku terbahak. "Iya, iya. Doain mah gampang, Miss, masalahnya yang didoain ini yang seleranya ngerepotin."
Gantian Miss Neina yang terbahak sembari mengumpat, "Sialan!"
Tak terasa kami ngobrol ngalor-ngidul sampai jam menunjukkan pukul 16.00 dan kami memutuskan mengakhiri pertemuan kami hari itu karena hari sudah sore dan mas Ganjar juga sudah menghubungiku untuk memintaku segera pulang.
Sejak hari pertemuanku dan Miss Neina itu batinku jadi berperang sendiri. Aku memikirkan banyak hal. Mas Ganjar juga tidak banyak memberi saran karena dia tidak mau dianggap mengekang kebebasanku atau mendikteku. Yang dia minta hanyalah agar aku mempertimbangkan semuanya.
Bagaimana jika begini.
Bagaimana jika begitu.
Mas Ganjar sepenuhnya percaya pada keputusanku dan pertimbanganku karena ia yakin aku sudah memikirkan semuanya masak-masak dan pasti kulakukan untuk yang terbaik. Jujur saja ucapan mas Ganjar yang seperti itu justru membuatku makin terbebani.
Aku harus gimana, ya Allah?
Namun, setelah memikirkan semuanya semalaman hingga susah tidur, akhirnya aku mengambil keputusan.
Ya, aku telah membuat keputusan bulat.
Aku akan memulai semuanya dari awal.
── ⊱ 𝓣𝓱𝓮 𝓒𝓸𝓾𝓻𝓼𝓮 ⊰ ──
Numpang ngiklan lagi ya gaess.
Saya baru publish sebuah cerpen di Karyakarsa. Genrenya mystery/thriller gitu. Harganya cuman goceng. Lebih murah dari harga seblak, kan? 😆
Nah, saya mau minta dukungan temen-temen sekalian di sini. Btw, ini tautannya ya.
https://karyakarsa.com/giesalindri/amber-646406
Kalau misalnya gabisa di-copy dari sini bisa klik tautan dari bio saya. Terima kasih. 😘😘
