Sebut saja namanya Yuda.
Dia kini duduk di kelas 3. Harusnya dia duduk di kelas 4 tapi dia tidak naik kelas tahun kemarin saat kenaikan kelas dari kelas 2 ke kelas 3 entah karena alasan apa. Maksudku, Yuda bukanlah tipe murid yang tidak bisa apa-apa sama sekali kok. Yuda sudah bisa membaca meskipun tidak lancar karena harus selalu mengeja. Dia juga tidak terlalu sulit memahami pelajaran lain seperti Matematika— setidaknya menurutku, sejauh pengalamanku selama nyaris satu setengah tahun mengajarinya. Oleh sebab itu, aku agak bertanya-tanya alasannya tidak naik kelas mengingat anak-anak lain yang sampai tidak naik kelas ya karena mereka memang tidak layak untuk naik kelas misalnya seperti Raihan yang sama sekali tidak bisa membaca atau Iqbal yang bahkan tidak tahu huruf alfabet. Yuda juga terbilang rajin di antara murid-muridku yang lain karena dari seminggu dia mengambil jadwal selama empat hari berturut-turut dari Senin hingga Kamis dan dia nyaris tidak pernah absen kecuali sakit bahkan meski saat libur sekolah.
Oleh sebab itu, ketika libur sekolah kemarin dia tak nampak sama sekali saat jadwal lesnya tiba aku bertanya-tanya. Aku tidak bisa menghubungi Yuda lewat WhatsApp karena ibunya tidak mempunyai ponsel. Nomor yang kusimpan adalah nomor milik kakak laki-lakinya yang kedua. Itupun seringnya tidak aktif karena sepertinya kakaknya sibuk bekerja.
“Liburan sekolah kemana aja, Da?” tanyaku begitu Yuda masuk kembali setelah libur sekolah usai. “Pergi jauh ya?”
Yuda menggeleng. “Di rumah aja kok, Bu, nggak kemana-mana,” jawabnya.
Aku mengernyit. “Kalau nggak kemana-mana kok tumben pas libur sekolah kemaren nggak berangkat sama sekali? Kenapa?” tanyaku lagi tak puas.
Yuda nyengir. “Nggak papa kok, Bu.”
“Ah, yang bener? Kenapa coba?” Aku masih berusaha mengorek informasi.
Yuda nyengir lagi. “Ituuuu … kata ibu nggak ada uang,” jawabnya dengan suara nyaris tak terdengar di kata terakhir.
Aku mencelos. Lagi-lagi aku mendengar alasan yang menyayat hati.
Kalau dipikir-pikir jika dalam seminggu Yuda berangkat les sebanyak empat kali itu artinya kurang lebih ada enam belas kali pertemuan dalam sebulan. Jika satu kali pertemuan Yuda harus membayar lima ribu rupiah itu artinya ia sebenarnya “hanya” membayar delapan puluh ribu rupiah. Sepertinya itu bukan jumlah yang cukup besar mengingat banyak bimbingan belajar yang mematok harga lebih mahal dariku— aku berani bertaruh bahwa tarif yang kukenakan adalah tarif bimbingan belajar termurah dengan banyak kelebihan; tanpa biaya tambahan kecuali pembelian buku untuk kelas calistung (itupun hanya lima ribu rupiah per level), tanpa biaya pendaftaran, kelas yang cukup eksklusif dan kondusif karena dibatasi 1-3 orang saja. Di kota bahkan ada yang mematok tarif sebesar itu hanya untuk sekali datang. Namun, ternyata bagi beberapa orang uang lima ribu rupiah cukup besar nilainya.
Aku tidak pernah terlalu kepo perihal keluarga murid-muridku— terlebih keluarga Yuda— karena aku takut dianggap ikut campur. Aku pernah sekali bertanya pada Yuda tentang keluarganya— itupun karena sebelumnya ia yang bercerita lebih dulu dan aku menanggapinya dengan pertanyaan karena penasaran belaka— dan Yuda tampak tidak nyaman sehingga aku memilih untuk tidak bertanya apapun tentang keluarganya dan hanya menanggapi ceritanya tanpa penasaran dengan bagian personalnya.
Yang kutangkap selama ini dari cerita-ceritanya Yuda tinggal terpisah dengan ayahnya. Yuda tinggal bersama ibu dan kakaknya sementara ayahnya tinggal bersama kakaknya yang lain. Aku juga tidak terlalu paham perihal status orang tuanya apakah mereka tinggal terpisah karena bercerai atau hal lain tapi kemungkinan besar karena bercerai sebab ayah Yuda tidak tinggal di luar kota. Rasanya mustahil tinggal terpisah karena alasan lain jika masih ada dalam satu kota yang hanya berjarak paling lama empat puluh lima menit perjalanan. Yuda masih sering mengunjungi ayahnya setiap akhir pekan atau saat libur sekolah.
Aku tidak tahu pasti apa pekerjaan ibu Yuda. Namun, ia tampak lebih tua dari usia perkiraanku yang mungkin kurang dari empat puluh tujuh tahun dengan perawakan yang kecil dan kulit berwarna terang persis seperti Yuda. Mungkin kerasnya kehidupan sudah mengubahnya menjadi tampak lebih tua daripada usianya yang sebenarnya— entahlah. Ibu Yuda ramah dan selalu berbicara bahasa Jawa krama ketika berbicara denganku. Beliau juga sering memberiku kedondong dan singkong yang dititipkannya lewat sang anak karena beliau menanamnya di rumah.
“Tapi meski nggak kemana-mana liburan sekolah kemaren seru loh, Bu,” tutur Yuda memecah lamunanku.
“Oh ya? Emangnya liburan kemaren ngapain?” tanyaku.
“Aku mancing ikan di kali gede sana dan dapet ikan bayong¹ besaaaaarr,” jawab Yuda sembari menyebut letak sebuah sungai besar di desa sebelah dan membuat ukuran khayalan dengan kedua tangannya untuk membuat perkiraan ukuran ikan yang sedang diceritakannya.
“Aih, sama siapa kamu ke sananya? Hati-hati lho kalau main ke sungai apalagi sungai besar. Emang kamu nggak takut keli²? Terus ikannya dimasak apa dilepas lagi?”
“Dimasak lah, Bu. Aku kasih ke ibuku buat digoreng.” Yuda nyengir mempertontonkan giginya yang beberapa masih gupis³ meski sudah besar. “Terus aku ke sananya sama temen kok, Bu, dan aku nggak takut keli karena aku udah bisa renang,” imbuhnya tanpa beban.
“Tetep aja harus waspada karena sungainya, kan, besar dan dalam. Kalau kamu biasa renang di kali kecil ya jangan disamain dong sama kali besar. Paling nggak harus ada orang dewasa yang nemenin buat dimintain tolong kalau ada apa-apa. Ya, semoga sih emang nggak ada apa-apa ya.”
“Iya, Bu.” Yuda nyengir lagi. “Terus aku juga main layangan, Bu, dan dapet layangan bentuk kunti,” ceritanya lagi dengan penuh semangat.
Aku berakting bergidik. “Serem amat bentuk layangan kok kunti. Kalau diterbangin pas malem-malem dikira penampakan beneran dong,” kataku.
“Emang niatnya gitu, Bu. Mau aku gantungin aja di depan rumah pas malem Jumat biar dikira kunti beneran,” kikik Yuda tengil.
“Hush, ngawur!” hardikku yang malah direspon kekehan. Sepertinya dia enggan mengurungkan ide jahilnya itu karena menurutnya pasti seru jika benar-benar dieksekusi. “Tapi kok bisa kamu main layangan malah dapet layangan lagi?” tanyaku penasaran karena seumur hidup aku tidak pernah bermain layangan sama sekali.
“Iya, itu tuh kaya diadu gitu, Bu. Jadi aku main sama orang lain terus nanti kita saling adu layangan gitu, Bu. Nah, nanti yang kalah harus ngasih layangannya ke yang menang,” terang Yuda.
“Ngadunya gimana?”
“Ya bisa layangan siapa yang paling tinggi atau bisa juga adu benang gitu, Bu. Tapi kalau adu benang agak susah dapetin layangan lawan karena harus dikejar dulu layangan yang putusnya soalnya adu benang itu layangannya harus sampe putus salah satu.”
Aku manggut-manggut saja. Namun, dalam hati aku membatin betapa murninya jiwa anak-anak. Betapa polosnya mereka. Mereka hanya tahu bahwa dunia ini cuma berisi Kebahagiaan. Kebahagiaan itupun tidak melulu yang bersifat material tapi bisa berasal dari hal-hal kecil dan sederhana. Kehidupanlah yang kelak mengubah kemurnian itu. Kemurnian kita semua. Ah, andai kita tak perlu jadi dewasa mungkin kita semua akan terus bahagia.
Catatan.
¹ sejenis lele
² hanyut
³ hitam karena karies
── ⊱ 𝓣𝓱𝓮 𝓒𝓸𝓾𝓻𝓼𝓮 ⊰ ──
